[Cerpen] Bagian Terakhir Naskah Kami

sumber: google image

Aku melihat senyumnya di antara lembaran naskah yang belum rampung kutulis. “Kisah kita akan abadi, Yah. Orang-orang bisa mengenang kita meskipun suatu saat kita sudah tiada,” kata kekasihku saat terpikir untuk menuliskan hidup kami dalam sebuah cerita.
Sejak saat itu kami kumpulkan sepotong demi sepotong pahit getir yang melintas di kepala. Kami tuangkan dalam bentuk tulisan di buku catatan. Paragraf demi paragraf, lembar demi lembar, hingga sampai pada bagian akhir yang belum bisa aku tuliskan. Sebuah akhir dari kisah kami.
Dia tampak manis malam itu. Seperti malam-malam sebelumnya. Masih mengenakan seragam kerja, membuatkan secangkir kopi. Sengaja aku memintanya. Anak-anak sudah lelap, sedangkan kami bersapa sejenak di ruang tamu. Aku tahu dia lelah dengan pekerjaannya, tapi senyumnya malam itu tak menunjukkan keluhan yang biasa dia tumpahkan sepulang kerja.
Aku melihat dia membereskan pakaian yang berantakan di sudut-sudut rumah. Mengumpulkan beberapa pakaian kotor milik kami, juga pakaian anak-anak. Dinyalakannya mesin cuci, lalu memasukkan pakaian kotor ke dalamnya. Sesekali aku melirik bayangannya di cermin almari yang berdiri menghadapnya. Iya, aku tak menemukan dia, tapi aku merasakannya.
Sebenarnya bisa saja dia tanggalkan seragam kerjanya yang kotor lalu mandi dan menyusul istirahat di kamar. Entahlah, apa yang membuatnya menyibukkan diri malam itu. Biasanya aku meminta agar dia beristirahat bersama anak-anak di kamar. Karena pagi harinya dia harus berangkat kerja. Namun, sering kali dia menolak dan mengatakan ingin menyelesaikan pekerjaan rumah lebih dulu.
Suara mesin cuci menggerung mengiringi dengkur kedua anak kami. Aku mengintip dari sela pintu yang sedikit terbuka. Memastikan suara itu tidak mengganggu tidur mereka. Melihat mereka lelap, membuat lelahku sirna sesaat.
Dhita, anak kedua kami hadir sejak tiga bulan yang lalu. Senyum Dhita semanis ibunya, tapi matanya sama seperti milikku. Teduh, tanpa aura permusuhan. Sedangkan Prita, anak pertama kami. Usianya empat tahun, tapi nalarnya sekritis Nita, ibunya. Kadang harus mencari alasan paling logis meskipun sekadar membuatnya mengerti persoalan kenapa makan harus pakai tangan kanan.
Aku masih ingat, sering kali kewalahan menghadapi sifat Nita yang keras kepala. Apa yang menjadi keinginannya sebisa mungkin akan dia wujudkan. Apalagi saat emosinya tersulut oleh caci maki orang, dia akan berubah seperti orang kesetanan. Sekuat tenaga berusaha menunjukkan bahwa dia bisa menepis anggapan negatif yang orang bilang. Aku tak jauh beda dengan dia, tak suka kekalahan. Maka, menjadi hal biasa dalam rumah tangga kami jika sekadar adu pendapat, saling lempar masalah.
“Tolong, Ndhuk. Besok Bapak sama Ibu mau ke Jogja. Sengaja ke sini saat Ndhuk masih cuti biar bisa ketemu. Udah dua kali mertuamu ke sini tapi Ndhukselalu sibuk soal kerjaan. Kalau yang ketiga ini masih juga begitu, mau ditaruh di mana muka Ayah, Ndhuk?” ucapku suatu kali memohon kepada dia agar memprioritaskan keluarga ketimbang pekerjaan. “Ayah cuma mohon jadilah ibu buat Dhita di masa cutimu yang tiga bulan itu. Enggak usahlah diganggu urusan kerjaan.”
“Yah … besok, tuh, acara di kantor cuma dua jam. Jam 10 selesai. Toh Bapak sama Ibu nyampe Jogja sore, kan?”
“Apa perlu Ayah yang bilang ke direkturmu itu? Mbok, ya aku, tuh jadi prioritas juga. Bukan cuma direkturmu yang sekali WA bisa langsung bikin kamu panik lalu ijin ke suami dengan alasan penting banget. Ke mana pentingnya mertuamu yang ketika mau datang malah kamu sepelekan, ‘kan datangnya sore’?”
“Jaga omonganmu, siapa yang nyepelekan?” Nita menatapku angkuh. “Ini yang aku enggak suka. Ayah enggak usah ikut campur urusan kerjaanku. Biar aku selesaikan sendiri.”
Setelah semua uneg-uneg itu kami lepaskan, kami saling diam. Membiarkan waktu melumat segalanya. Ruang tamu menjadi lengang. Hanya putaran jarum jam yang terdengar saling susul dengan detak jantung kami. Satu-satunya malaikat penolong dalam situasi seperti ini adalah anak-anak kami. Dalam sekejap wajah mereka bisa memaksa kami menelan mentah-mentah ego yang meraja. Kami menjadi serupa malaikat buat mereka.
Entah apa yang membuat Nita pada pagi itu akhirnya memutuskan tidak berangkat ke kantor. Meski dia tidak suka aku mencampuri urusannya, tapi saat itu dia memutuskan untuk menuruti kemauanku. Dia tetap di rumah untuk menyambut orangtuaku yang datang dari Riau. Dia juga memberikan waktu cutinya untuk Dhita yang waktu itu usianya belum genap dua bulan. Terus terang aku senang. Nita mau mendengar kemauanku.
Bagaimanapun juga dia adalah kekasihku, ibu dari anak-anakku. Sekeras apapun sifatnya, aku tak sanggup menjadi lebih keras dari dia. Pada saatnya aku harus menjadi air yang meredakan emosi Nita. Memang tidak mudah. Namun, demi anak-anak aku rela mengalah.
Setiap saat kami harus membagi waktu. Antara bekerja dan bergantian mengantar jemput sekolah Prita. Jika Nita masuk pagi, maka aku ambil shift sore. Begitu juga sebaliknya. Kami bekerja dalam bidang pekerjaan yang berbeda. Dia perawat, sedangkan aku wiraswasta. Kerjaanku lebih banyak jadi asisten sutradara di sanggar teater. Kami tak bisa lepas dari dunia seni. Kami sama-sama suka seni teater. Terus terang saja, aku dulu mengenal Nita karena dipertemukan dalam panggung teater.
Itulah mengapa kemudian kami berniat menuliskan kisah hidup kami dalam sebuah naskah cerita. Suatu saat kami ingin mengabadikan kisah kami dalam pementasan teater. Minimal orang bisa memahami bagaimana jalan hidup kami. Agar yang tadinya membenci kami bisa luruh dan belajar memaafkan. Agar yang memandang kami lemah, bisa merasakan bagaimana kami berjuang melawan pahitnya kehidupan.
Malam itu aku seperti melihat Nita sibuk membereskan piring kotor. Dia baru saja usai mencuci baju, sedangkan aku masih memikirkan bagian ending yang akan kutulis di naskah kami. Aku sengaja memanggilnya untuk membantu menyelesaikan satu bab terakhir naskah cerita kehidupan kami. Tidak sulit untuk memanggilnya. Karena setiap jengkal sudut rumah kami ada dirinya.
Kuhabiskan secangkir kopi yang tinggal seteguk. Meninggalkan sisa ampas bersama buku catatan yang belum juga rampung kutulis akhir ceritanya. Lalu kususul Dhita dan Prita di kamar. Menjaga mimpi mereka. Barangkali sedang tertawa digendongan Nita.
Senyap, hanya terdengar suara detak jarum jam. Aku yang terbaring di samping anak-anak selalu menunggunya dengan kerinduan yang berjejalan. Aku ingin segera melihat wajah polos Nita yang pulas di sampingku. Aku ingin melihatnya memeluk anak-anak dan sesekali mengibaskan tangan sekadar mengusir nyamuk yang mendekat. Aku merindukan sosoknya yang manja menemaniku bermimpi di atas ranjang yang sama. Aku seperti orang asing tanpa ada Nita, kekasihku.
@@@
Sepanjang malam-malam yang kulewati, aku mencoba menuliskan kembali bagian terakhir dari naskah kami. Berusaha menuangkan kisah terakhir yang kami alami. Kupanggil Nita, kuminta secangkir kopi, dan selalu saja dia memilih diam dan membereskan pakaian kotor lalu mencuci piring dan gelas-gelas. Tentu saja aku tak sanggup memaksanya melepas seragam kerja lalu mandi dan menemani anak-anak tidur di kamar.
Tentang kerinduan, ketabahan, dan kehilangan yang masih belum kutemukan cara menuliskan kalimatnya, aku terus berharap bisa kami tuliskan bersama-sama. Namun, selalu saja berakhir dengan kegagalan. Kubiarkan bagian terakhir naskah itu kosong. Kututup setelah permukaannya mengkerut beku oleh hujan air mata. Kutinggalkan di atas meja tamu bersama secangkir kopi yang tinggal ampas. Tentu saja setelah kubereskan semua baju kotor, piring dan gelas, bersama Nita yang menyatu dalam tubuhku.
Nita, bukan akhir seperti ini yang aku minta. Bagaimana aku mampu mengabadikan kisah kita, jika merangkai kalimat penutup saja aku tak sanggup? Bagaimana bisa aku perankan diriku di panggung, sementara tubuhmu tak bisa kupeluk? Aku tahu, Tuhan tak akan memberi kesempatan kedua. Maka aku meminta Kepada-Nya agar mewariskan sayapmu untuk anak-anak kita. Aku meminta agar wajahmu selalu bisa kulihat dalam rupa anak-anak kita. Nita, kisah kita abadi, meskipun kita tak sanggup merampungkan naskahnya.
Yogyakarta, Desember 2017
Ditulis oleh: Seno NS

9 thoughts on “[Cerpen] Bagian Terakhir Naskah Kami”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *