[Cerpen] Apa yang Aku Pikirkan Tentang Wanita yang (Terlanjur) Menjadi Istriku

“Sarah, apa yang membuatmu tidak nyaman berada di rumah ini?” Tanganku masih belum beranjak dari punggung istriku. Berharap dapat mengirim getar kedamaian yang bisa meredakan ombak di hati Sarah.

Tiba-tiba saja, usai Magrib tadi, Sarah melontarkan keinginan untuk pulang ke rumah orang tuanya dan tinggal di sana sampai kami mampu mempunyai tempat tinggal sendiri. Entah apa yang membuatnya berubah pikiran.

Kami saling berbalas argumen dengan suara tertahan. Jangan sampai ketegangan di dalam kamar pengantin baru ini terdengar dari luar. Beberapa kali aku merasa sedang berhadapan dengan orang asing. Seperti inikah pertengkaran suami istri? Apakah akan kerap terjadi di kemudian hari?

“Pokoknya rumahku!  Titik!”

Itulah puncaknya. Sarah bergegas pergi usai menjatuhkan bom. Dari suara pintu yang kudengar, aku tahu kalau dia menuju teras samping. Tempat itu menjadi wilayah aman untuknya, karena jauh dari ruang keluarga. Dengan begitu, Sarah tidak harus berjumpa dengan bapak ataupun ibuku.

Wangi tubuhnya masih tertinggal dalam udara yang diam di hadapanku. Seharusnya tubuh moleknya tetap berada dalam dekapanku, bersama mengisi malam ke-9 pernikahan kami.

Tapi Sarah tidak mau tidur denganku sebelum aku bicara pada Bapak dan Ibu. Apa kata orang kalau malam ke-9 kami sudah tidur terpisah? Mau tidak mau pilihannya hanya menyampaikan kemauan Sarah pada orang tuaku. Ugh, hampir saja aku salah ucap.  Aku harus bilang bahwa ini adalah kemauan ‘kami’, bukan hanya Sarah.

***

Tatapan Ibu membuat dadaku sesak, perut melintir dan keningku basah oleh keringat dingin. Aku hampir tidak pernah mengecewakan Ibu. Namun, sepertinya sekarang aku telah melakukannya, bahkan dengan sangat terlalu.

Bapak yang kemudian memecahkan sunyi dengan membuka pembicaraan, “Jadi kapan kalian ke sana?”

Desah hela napas Ibu terasa ngilu di telingaku.

“Ibu kok masih belum yakin kalau ini maunya kamu juga, Le….”

Aku tersenyum mencoba mencairkan duka di mata Ibu. “Iya Bu, suami istri kan harus kompak.”

“Halah kamu…, Ibu tahu kalau ini maunya Sarah. Wajahnya nggak bisa bohong.”

Dalam hati aku membenarkan ucapan Ibu.  Istriku memang mudah terbaca, wajahnya ibarat terbuat dari kaca bening, apa yang ada di kepala dan hatinya dapat mudah diketahui.

Garis muka Ibu tampak mengeras. Jarang aku melihat Ibu seperti itu.

Le, kamu laki-laki! Kamu harus lebih tegas sama istri, jangan mau disetir. Sopir rumah tanggamu, ya, kamu! Apa kamu lupa, setelah menikah hak seorang wanita ada pada suaminya, sedangkan hak si laki-laki tetap ada pada ibunya?” Dada perempuan yang seumur usia pernikahannya itu hanya dibaktikan pada suami dan anak-anaknya, terlihat naik turun dengan cepat. “Bahkan aku, ibumu, lebih berhak atas seorang menantu perempuan daripada ibunya sendiri!” Napas Ibu tersengal saat menyambung ucapannya.

Tangan Bapak mendarat di lutut Ibu, dan mengusapnya perlahan.

“Sudah, Bu….”

“Kalau Ibu mau, Ibu bisa tahan kamu untuk tetap tinggal di rumah ini, Le!”

Pecahnya tangis Ibu membuatku menyuruk dan merebahkan kepala di pangkuannya.  Kedua lenganku memeluk erat pada pinggangnya yang mulai menebal.

“Maaf, ya, Bu. Aku akan bicara lagi dengan Sarah.”

Lembut dan kerasnya hati memang hanya berbatas tipis. Saking lembutnya, Ibu jadi cenderung sensitif, perasaannya luar biasa. Di satu sisi, gengsinya pun terkadang tinggi, seperti sekarang ini.

Aku bersiap pergi untuk menemui Sarah ketika Ibu menarik tanganku untuk kembali bersimpuh di hadapannya.

Ndak usah, Le! Biar Ibu saja yang sedih. Jangan sampai istrimu juga ikut sedih karena merasa terpaksa tinggal di sini. Biar Sarah merasa, antara Ibu dan dia tidak ada ganjalan apa-apa.” Tekanan kedua tangan Ibu di bahuku menyatakan betapa kerasnya keinginannya untuk menjaga semesta keluarga kami ini tetap stabil dan utuh.

Ucapan Ibu membuatku dapat kembali bernapas dengan leluasa. Aku pun undur diri, beralasan malam telah larut dan aku harus menemani Sarah tidur. Ibu mengangguk, sedikit tarikan di sudut bibirnya sanggup meletikkan semangatku. Semuanya akan baik-baik saja.

Beib…,” langkahku terhenti. Dari balik tirai kamar yang sedikit kusibak, tampak kamar kami kosong. Mungkin Sarah masih ada di teras samping. Aku akan menunggunya sambil membaca. Lebih baik aku memberinya waktu untuk tenang. Siapa tahu pikirannya masih bisa berubah.

Aku melirik jam di dinding. Sudah terlalu lama Sarah berada di teras. Gegas aku mengenakan kembali celana bermudaku dan keluar menyusul Sarah. Pintu menuju teras tidak terbuka lebar seperti biasanya. Dari sedikit celah yang ada, aku bisa mendengar Sarah tengah bercakap. Sedang berbicara di teleponkah dia?

Tanganku yang sudah akan menarik handel pintu, melayang terhenti demi mendengar adanya suara lain. Sarah tidak sendiri, dia sedang bersama Mas Irwan, kakak sulungku. Dan meski belum genap dua minggu menikah, instingku sebagai suami terasa kuat dan memaksaku untuk tetap diam di sini.

Nada bicara Sarah pada Mas Irwan tidak seperti seorang adik ipar yang baru mengenal saudara suaminya beberapa bulan sebelum menikah. Mereka bahkan baru tiga kali bertemu. Terdengar hangat, intens dan intim!  

Aku harus bersandar pada bingkai jendela untuk menopang tubuhku yang seperti kehilangan kedua kakinya. Meski hanya berupa bisikan-bisikan, namun angin yang berpihak kepadaku membawakannya dengan jelas.

Mereka saling mencintai, selama ini. Sarah menerima pinanganku yang terburu-buru karena memang sudah lelah menjalani hubungan tanpa arah dengan Mas Irwan. Kakakku itu benar-benar pintar menutupi kehidupan pribadinya. Belum pernah sekalipun dia membawa teman dekatnya ke rumah atau bahkan membicarakan tentang teman wanita pada kami.

Seketika berkelebat ingatan saat aku pertama kali bertemu dengan Sarah.

Aku pikir dia baru saja keluar dari bilik ATM yang bersebelahan dengan kantor biro periklanan milik Mas Irwan. Mungkin yang sebenarnya terjadi, dia baru saja keluar dari kantor Mas Irwan.  

Aku pikir dia pucat karena panik kehilangan kunci mobilnya, yang tercecer dari tas tangan yang dibawa sekenanya. Kunci itu kemudian aku pungut dan kuberikan padanya.  Mungkin di hari itulah hubungan mereka berakhir.  

Aku pikir dia memang ramah, ketika langsung mengenalkan aku pada kedua orang tuanya, saat aku datang untuk mengembalikan dompet, yang ternyata juga terjatuh tak jauh dari bilik ATM. Mungkin ketika itu, dia sudah menjadikan aku target sebagai pengganti Mas Irwan, tanpa dia tahu bahwa aku adalah adik bungsunya.  

Aku pikir kami memang berjodoh ketika kami bisa dekat dan menyamakan visi dalam waktu singkat. Tapi…mungkin yang sebenarnya, dia tidak pernah mencintaiku.[]

Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

Reviewer: Seno NS

 

Baca Juga:   Ojek Setan!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *