[Cerpen] Antara Liz dan Kenangan Jas Hujan

Janji bertemu masih satu jam lagi. Saya datang lebih cepat dari waktu yang telah dijanjikan sebab takut terlambat. Liz pernah naik pitam dan menuduh saya tidak menghargai dirinya hanya gara-gara terlambat lima menit. Ya, lima menit saja! Pernah pula ia mencerca dan mengatakan bahwa saya tidak memiliki disiplin waktu yang baik. Ceroboh, urakan! Ia meneriaki saya kesal. Padahal kala itu saya jelas-jelas mempunyai alasan yang kuat, masuk akal dan bisa diterima oleh siapa pun; terjebak hujan. Tetapi tidak bagi Liz. Bagi perempuan lampai berambut sebahu itu, hujan sama sekali tidak bisa dijadikan alasan, tidak pula patut disalahkan. Letak kesalahan sesungguhnya ada pada diri saya.

Pagi hingga siang ini Jakarta kembali diguyur hujan. Air meruah di seantero ibukota menjadi pemandangan yang sangat lumrah. Akibatnya, saya terlambat datang ke tempat kerja lantaran menghabiskan waktu lebih dari setengah jam berteduh di sekitar halte. Atasan menegur, dan saya hanya bungkam. Ia menghukum dengan tambahan jam lembur hingga dua jam dan akan memotong gaji jika berani mengulang. Genjik! Maki saya dalam hati. Namun tak urung saya hanya mengiyakan saja. Kau terlalu bodoh, sembur Liz manakala saya membeberkan alasan mengapa batal mengantarnya ke mal sore ini. Bukankah kau bisa memakai jas hujan? Kau tak perlu menghabiskan waktu di jalan hanya karena harus menunggu hujan reda, bukan? Itu ocehan yang diulang-ulang Liz di ujung telepon dengan nada penuh ketidakpahaman, lalu mengakhiri pembicaraan. Ah, lonte!

Kejadian pahit serupa bisa saja terulang; hujan turun dan saya akan kembali terjebak hingga waktu menjadi percuma. Cuaca Jakarta memang sedang tidak menentu akhir-akhir ini. Hujan bisa turun kapan saja, menjadi penghalang kapan saja. Lantas siapa yang bisa menyana jika pada kemarahan yang kesekian, Liz tidak akan sudi menerima alasan saya lagi? Lebih sialnya, bagaimana jika perempuan bermata cerlang itu meninggalkan saya? Oh, tidak! Ini bencana jika benar-benar terjadi. Saya mendapatkan Liz bukan dengan cara yang gampang. Tidak rela pula jika harus melepaskannya begitu saja hanya gara-gara hujan.

Baca Juga:   Merencanakan traveling? Ingat 7 tips ini!

Gerimis kembali menitik lumayan rapat manakala saya duduk di kursi sebuah kafe di sisi jalan. Angin berembus menggoyangkan dedaunan yang kuyup. Saya duduk agak di pojok ruangan, menunggu dan menyalakan rokok. Aroma cappuccino menguar seiring suara grinder yang tampaknya tak pernah mengusik para pengunjung. Mereka tetap saja terlalu asyik dengan aktivitas masing-masing; rokok, kopi dan gawai.

Sekilas, saya menangkap perempuan berkulit cokelat. Ia masuk, menyandarkan payung di sisi pintu masuk. Barista muda menyapanya ketika perempuan itu berdiri di depan bar kayu. Lantas ia duduk, berseberangan dengan meja saya. Tanpa canggung, ia mengempaskan tubuhnya begitu saja, membiarkan rok satin pendek yang dikenakannya tersingkap-singkap. Ah, ia seperti Liz; suka sekali memamerkan bagian-bagian tubuhnya yang terlalu menggoda. Apakah perempuan berambut sebahu itu dari kelas yang sama? Ah, andai saja saya tak memiliki Liz, mungkin akan berusaha menggoda perempuan muda itu.

Sepasang anak muda duduk saling merapat di sofa dekat dinding. Temaram lampu memberi mereka kebebasan, seolah hanya berdua saja di ruangan itu. Tanpa jengah, perempuan belia berambut legam itu menggelayut di pundak lelakinya. Mereka berpagut. Berulang. Tak peduli dua lelaki di meja sebelahnya, terlihat jengah lalu berpaling. Hawa dingin dan iringan jazz klasik membuat mereka lupa sekitar, bahkan pada dua perempuan muda berkerudung yang takut-takut memelototi mereka. Barangkali, jika Liz ada di sini, kami akan melakukan hal serupa pasangan muda itu. Tak bisa saya pungkiri, dingin dan syahdu, betapa mendukung bagi mereka yang ingin melepaskan rindu.

Genjik! Kenapa Liz belum juga datang?

Pendar matahari meredup ketika dua pesanan kopi saya datang; satu untuk Liz dan satunya untuk saya. Asap tipis mengepul, menguarkan aroma kopi yang menyegarkan. Ah, kopi dan senja, nuansa nan syahdu di ambang malam.

Setengah jam telah berlalu, saya tidak melihat tanda-tanda Liz datang. Gerimis telah menjelma rinai yang bersinambung. Ada sesuatu yang mulai mengusik naluri; Liz tidak pernah terlambat datang, terlebih mengingkari janji. Empat puluh menit kemudian, saya memutuskan menghubunginya lewat telepon. Asu budug! Makinya tiba-tiba. Aku sudah menunggumu di warung kopi langganan, bukan di tempatmu sekarang! Cecarnya tanpa jeda. Liz tidak mau datang, melainkan saya yang harus menemuinya. Genjik! Ini mulai hujan!

Baca Juga:   METAMORFOSIS JODOH MENURUTKU

Setengah mati saya membujuk Liz agar tidak memaksa, atau setidaknya tunggulah hingga hujan reda. Asu! Ingin kugorok lehermu, heh?! Ancamnya terdengar sadis. Aku tak sudi kehilangan pelanggan, dia berkantung tebal, kau tidak pula mampu menggantikannya. Sejak kapan kau bisa memberiku uang. Pelirmu mana laku lagi kau jual! Perempuan berhidung palsu itu terus saja menghamburkan makian. Saya membayangkan bibirnya yang tebal dan bergincu jingga, lebih dower dari biasanya. Ia marah. Ia akan memutuskan saya!

“Lantas, apa masalahmu sekarang?” tanya Liz lagi lantaran lama tidak mendengar jawaban. “Bukankah jarak Kebon Kacang dan Kemang tidak seberapa?”

“Ini hujan, Liz,” saya memohon. “Mengertilah.”

“Hujan lagi yang kau jadikan alasan?! Pakailah jas hujan! Beres, kan?”

Jas hujan? Tidak!

Dalam pelupuk mata yang membuka lebar, saya mengingat kejadian itu lagi. Di awal Subuh yang dingin, Bapak mendobrak pintu lantas menghardik dan mencaci Ibu dengan mulutnya yang beraroma alkohol. Lelaki tambun berwajah hitam itu memaksa Ibu menyerahkan sisa uang hasil berjualan jajanan pasar siang tadi. Ia menjitak kepala ketika saya berusaha menghalanginya. Sungguh, bocah kecil yang tercipta dari maninya ini tak punya arti. Saya seumpama anak curut yang selayaknya binasa saat itu juga.

Ibu menolak dan berlari ke pojok gudang. Lelaki beraroma busuk itu mengejar, menghajar dan membuntal wajah Ibu menggunakan jas hujan yang tergantung pada tiang. Bapak tidak peduli teriakan perempuan lampai bergelung itu hingga suaranya menghilang. Saya menghambur ke sudut ruang, mendapati tangan keriput Ibu melemas dan mata yang membelalak lebar. Esoknya, Bapak mengabarkan pada tetangga bahwa Ibu mati gantung diri di tiang blandar. Saya muak melihat Bapak, dan selalu bermimpi buruk manakala melihat jas hujan. Bahkan hingga kini saat usia menjelang tiga puluh. Saya takut mati. Takut seperti Ibu yang mati karena kehabisan napas. Dan, saya sungguh-sungguh benci pada tiruan baju berbahan plastik itu. Benci yang tak bisa tertandingi dengan hal apa pun.

Baca Juga:   Ayahku Chef yang Hebat

“Jo? Jono!” panggil Liz di seberang telepon. “Segeralah! Atau kau ingin aku mencari lelaki lain dan meninggalkanmu?”

“Liz … tunggulah hingga hujan reda. Saya mohon.”

“Jika kau benar menginginkanku,” kata Liz kemudian, menurunkan nada suaranya yang sama sekali tidak merdu. “Berkorbanlah sedikit untukku. Aku hanya ingin kau jemput dan kau antarkan ke pelangganku, itu saja, Jono. Apakah itu terlalu berat untukmu?”

“Tidak. Bukan itu masalahnya.”

“Baik, Jo. Carilah perempuan lain di tempat kau menemukanku,” sambung Liz pelan, namun penuh ketegasan. “Kau tidak akan kesusahan mendapatkannya, kan? Mungkin, pelirmu masih ada yang mendambakan!”

Membayangkan harus kehilangan Liz yang belum genap dua pekan saya dapatkan, saya hanya akan kembali ke jalanan; bergaul dengan banyak perempuan dan tidak memiliki masa depan. Liz, kendatipun ia mengaku tak jauh beda dengan perempuan-perempuan yang sering saya temui, tetapi sedikit memiliki harapan dan cita-cita berumah tangga. Ia berjanji akan segera mengentaskan diri dari lembah hitam setelah saya melamarnya.

“Ah, kau lonte saya, Liz. Genjik! Kenapa saya tak bisa berpaling?”

Tanpa berpikir panjang. Saya berjingkat gegas, menyambar payung berwarna merah muda di pojok ruangan dekat pintu. Tidak peduli pada perempuan muda berkulit cokelat yang meneriaki saya maling. Tanpa menoleh, saya menghidupkan motor, membuka payung dan menerabas deras hujan yang begitu brutal. Tunggu, Liz. Jono datang, teriak saya tak peduli tatapan orang-orang.

***

Ditulis oleh: Redy Kuswanto

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *