[Cerpen] Aku, Simbah, Ibu, dan Bapakku

Sampai detik ini pun aku masih bingung, sama bingungnya dengan tetanggaku. Mereka bertanya-tanya kepadaku saat aku memberi mereka lima kilo beras tiap bulannya. Aku harus berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya.

“Aneh,” kata salah seorang dari mereka, “bagaimana bisa kalian memberi kami beras, sedangkan kamu dan ibumu saja masih tinggal di rumah simbahmu. Bapakmu cuma tukang servis jam. Ibumu, dia cuma membantu simbahmu kan?”

Aku tersenyum saja. Aku tidak pernah menjawab pertanyaan mereka. Seperti pesan ibu, “Tugasmu hanya mengantar beras ini. Lalu pulang. Tidak usah ngobrol sama mereka. Jangan jawab apa pun pertanyaan mereka. Senyum saja. Paham?”

Aku paham. Meski sebenarnya aku ingin sekali menjawab pertanyaan mereka. Sesekali aku ingin menjawab dengan pertanyaan balik, “Menurut kalian, bagaimana cara kami bisa lebih kaya dari kalian?” Biar mereka berpikir sendiri, atau menduga-duga. Terserah saja.

Tapi sebenarnya wajar saja kalau mereka bertanya seperti itu. Coba kalian bayangkan, kami tinggal tidak jauh dari pemukiman kumuh di pinggir Kali Gede. Kumpul dengan tukang tambal ban, tukang parkir, penjual koran—yang nyambi jualan togel, ada pom bensin mini, ada tukang sampah, tukang semir sepatu, tukang las karbit, dan.. masih banyak lagi. Kapan-kapan kalian bisa main ke sini, jadi bisa lihat-lihat sendiri. Ya bagus-bagusnya ada satu orang yang berprofesi sebagai guru di sini.

Rumah kami berdesakan dan berderet sepanjang kali itu. Bahkan beberapa rumah saling berhimpitan. Aku rasa tidak ada satu tikus pun yang lewat di antara rumah kami, lantaran sangking sempitnya. Sepertinya segerombolan tikus lebih suka berlari-lari dari atap ke atap. Orang bilang, rumah kami yang lumayan agak beruntung, karena ada di pinggir jalan terluar. Orang yang lalu-lalang di jalan besar itu bisa mampir, sekadar minum es teh, kopi, merokok, sekalian beli lotek atau gado-gado kalau mereka lapar. Simbahku yang jualan dagangan itu semua. Simbah, ibunya ibu.

Ibuku? Seperti yang dibilang tetanggaku tadi, ia hanya membantu simbah menggoreng mendoan, tahu, tempe garing, dan kerupuk. Bapakku lebih santai lagi, setiap pagi ia pergi ke pasar yang tidak jauh dari rumah, sekitar 300-an meter. Di sana dia duduk di kursi kayu. Di depannya ada meja lumayan besar. Di atas meja itu ada sebuah kotak kaca berisi banyak jam tangan rusak dan perkakas kerjanya. Di kotak kaca itu tertulis: service jam. Dia pulang sore, ambil walesan lalu pergi begitu saja ke kali untuk memancing. Sayang, dia bukan pemancing andal seperti pemancing yang di acara TV itu. Dia tidak pernah pulang dengan membawa seekor ikan. Kata simbah, “Bapakmu itu lagi nyari wangsit!”

Begitu mendengar kata ‘bapakmu’, jujur saja tiba-tiba kepalaku jadi pusing. Beberapa kali aku mengambil cermin, mengamati satu per satu bagian wajahku, lalu mengamati foto bapakku yang terpajang di dinding kamar. Edan, pikirku. Tak ada satu pun kemiripan di wajah kami.

“Ndak usah dipikir,” cetus ibu ketika melihatku berdiri kaku di depan cermin, “kamu lebih ganteng dari bapakmu!”

Benar saja, kulitku putih, kulit bapak item. Mataku sipit, bola mata bapak besar seperti bola pingpong. Rambutku rapi lurus, rambut bapakku bergelombang acak-acakan. Dan ini, gigiku rata, gigi bapak agak menonjol ke depan. Itu belum seberapa, ada satu hal yang bikin tidurku tidak nyaman: bapak tidak pernah memelukku, atau sekadar melambaikan tangan saat aku mau berangkat sekolah. Sepertinya dia lebih menyayangi jam-jam bekas itu ketimbang menyayangi aku. Pernah dia marah-marah, sebab aku ngamuk, aku lempari kotak kacanya itu dengan batu. Pyaar!   

Ingin sekali aku mengajak bapak menonton sinetron di TV. Di sinetron itu, aku melihat satu keluarga hidup di desa. Rumahnya kecil, tapi bersih dan rapi. Rumah mereka di dekat sawah dan di belakangnya ada tambak ikan. Setiap pagi, seorang ibu di rumah itu memasak nasi goreng dan menggoreng telur, mereka sarapan bersama di meja makan. Ada bapak, ada ibu, dan ketiga anaknya—cewek dua orang, dan satu cowok. Melihat mereka sarapan seperti itu, ingin sekali rasanya aku punya meja makan. Pernah aku bilang pada ibu untuk menaruh meja di dekat dapur, atau di depan TV saja. Tapi ibuku menolaknya. Bikin sesak rumah katanya. Itu artinya, kami tidak akan pernah makan di satu meja.

Pagi hari, bapakku cuma minum kopi, mengisap rokok, lalu pergi begitu saja. Tidak ada kumpul keluarga di ruang tengah. Tidak ada pertanyaan basa-basi untukku, “Apa kau sudah mengerjakan PR?” Sama sekali tidak ada seperti itu.

Pernah aku mengajak ibu menonton sinetron yang ada di TV itu. Setelah aku pulang sekolah, ketimbang main-main di pinggiran kali, aku lebih memilih melihat sinetron keluarga bahagia itu. Keluarga yang ada di TV itu, pernah suatu hari ayahnya pulang membawa buku bacaan. Buku itu tidak langsung diberikan ke anak-anaknya. Tetapi menunggu malam, si ayah mendatangi kamar anaknya, lalu membuka buku itu. Si ayah dengan senyum hangatnya memulai membacakan satu per satu cerita yang ada di buku itu. Sampai anak-anaknya tidur terlelap. Nyaman sekali ya.

Itu sama sekali tidak seperti di rumahku. Bapak tidak pernah pulang membawa buku. Di rumah, tidak ada satu buku pun yang dia koleksi. Pernah sekali waktu aku menemukan buku kecil. Isinya coretan-coretan angka. Tertulis di sana ada 4 angka dijejer, ada 2 angka juga. Dan banyak angka yang dilingkari, lalu dibuat garis-garis yang saling menyambung satu dengan lainnya. Di dalam buku kecil itu, terselip selembar kertas putih yang sudah lecek. Di kertas itu ada banyak gambar-gambar aneh, dan kode-kode yang susah aku pahami.

“Itu kitab sucinya bapakmu,” kata simbah, “jangan dibuang, nanti bapakmu marah.”

Aku meletakkan lagi buku itu di tempatnya semula. Dan memang aku lihat, setiap habis magrib, bapak sibuk mencoret-coret buku kecil itu dengan pulpennya. Lalu terlihat wajahnya sumringah, ia langsung pergi ke rumah tetangga si penjual koran—yang nyambi jual togel itu. Aku tidak pernah diajaknya. Ibu juga melarangku dengan keras, “Jangan ikuti bapakmu!”

Ya sudah. Sebagai gantinya, aku kadang pergi ke rumah tetanggaku yang menjadi guru itu. Karena anaknya guru itu cewek, teman bermainku, tapi dia bukan teman di sekolah. Dia sekolah di tempat yang jauh lebih keren dari sekolahku. Setidaknya gedung sekolahnya lebih besar, sampai tingkat tiga. Begitulah ceritanya suatu ketika, dan aku mempercayainya.

Aku datang ke rumahnya, lalu membujuknya dengan suara pelan, sedikit agak berbisik, “Aku pinjam buku cerita milikmu. Kau boleh nonton TV di rumahku. Mau?”

Tepat sesuai dugaanku, dia mau. Pasti lah aku berhasil. Sebab di dusun ini, cuma kami yang punya TV berwarna bagus. Di rumah guru itu tidak ada TV. Kata temenku, bapaknya bilang kalau TV itu tidak bagus buat pikiran anak-anak seusia kami. Tapi sejak aku cerita padanya tentang sinetron itu, sekali dia menontonnya langsung dia ketagihan. Maka sepulang sekolah, dia berjalan seolah-olah hendak pergi les matematika, lalu sampai ujung jalan dia beringsut menuju rumah kami.

Dia duduk mematung di depan TV, begitu juga dengan aku. Begitu ada iklan di TV, aku mulai baca satu cerita di buku ceritanya itu. Dia menyebutnya tabloid, bukan buku. Terserahlah, aku hanya ingin bapak melihat buku cerita ini dan dia mau membacakan sebelum aku tidur. Meski hanya sekali saja. Tapi aku belum pernah katakan keinginanku itu pada bapak. Sekali waktu aku pernah bilang ke ibu. Tapi jawabnya bikin sedih, “Ndak usah ganggu bapakmu, kalo malam itu bapakmu juga nyari duit.”

Begitulah. Santai sekali ibu bilang begitu. Aku yang mendengarnya langsung lesu, jadi malas kalau mau ngasih buku cerita itu ke bapak. Sudah tidak ada harapan lagi.

“Itu siapa?” tanya temanku tiba-tiba.

Aku mengerutkan dahi. “Itu kan ibuku,” jawabku.

“Bukan ibumu,” tanyanya lagi, “tapi laki-laki yang keluar dari kamar itu.”

“Oh itu pasien ibu.” Jawabku sekenanya.

“Ibumu dokter? Kok aku baru tahu, ada pasien di sini.”

“Ndak, bukan dokter. Itu kata Simbah, ibuku itu pintar memijat. Jadi kalau siang begini, setelah selesai membantu Simbah, ibuku memijat pasiennya di kamar itu. Bisa sampai sore juga.”

“Ooh begitu..”

Sebenarnya aku bingung juga. Pasien yang datang kebanyakan laki-laki, tidak ada ibu-ibu atau anak-anak. Pernah ada perempuan datang ke rumah mengeluh kakinya terkilir. Ia meminta ibuku memijitnya, tapi ibuku menolaknya. Ia memaksa ibu, sampai akhirnya dipijat juga. Akibatnya, besok paginya perempuan itu datang ke rumah dan marah-marah. Kakinya bengkak!

Praktik pijat-memijat itu, tidak pernah diketahui bapak. Awalnya begitu, sebab bapak sibuk sendiri di lapaknya. Sampai suatu siang, bapak pulang, marah-marah, menendang pintu. Bapak memaki-maki laki-laki yang kabur dari kamarnya. Laki-laki itu masih telanjang dada, kaosnya masih tertinggal di kamar, dan hanya memakai celana pendek. Besar kemungkinan, aku menduga kalau celana panjangnya masih tergantung di belakang pintu! Dan aku berharap sekali dompet beserta uangnya pun tertinggal. Biar uang sakuku bertambah.

Setelah hari itu, bapakku disidang oleh Simbah. Akhirnya dia mengizinkan ibu untuk tetap buka praktik pijat-memijat itu. Meski tidak ada plang papan atau spanduk yang bertulis: ahli pijat! Pasien ibu bertambah setiap harinya.

Tapi pernah juga suatu ketika, seorang perempuan berteriak keras di depan rumah. Ia datang bersama seorang laki-laki yang ia akui sebagai suaminya. “Keluar kau Rasmi!” teriaknya begitu keras, “kau main hati sama suamiku, ha!”

Begitu keluar rumah, dengan santainya ibuku menjawab, “Aku tidak mengenal siapa suamimu itu. Dia datang ke sini, mengeluh sakit pinggang, itu saja. Apa aku pernah datang ke rumahmu lalu menggoda suamimu?”

Laki-laki itu menarik tangan istrinya. “Udah bikin malu saja!” katanya tegas.

Sudah terlanjur, orang-orang sudah mengerubungi mereka. Ibuku pun dengan cuek masuk lagi ke rumah. Aku terbengong. Simbah masih saja sibuk meladeni pembeli yang berjubel ikut melihat keributan itu. Dan kejadian seperti itu bukan kali pertama terjadi. Sering sekali. Tapi anehnya, ibu yang selalu menang berdebat. Ibuku memang keren.

Sayangnya, begitu ada keributan di depan rumah, temanku ketakutan dan langsung saja lari pulang ke rumahnya. Sepertinya ia tidak terbiasa mendengar suara keras, mungkin saja di rumahnya, bapak dan ibunya lebih sering berbisik-bisik. Tidak seperti di rumahku, kalau tidak teriak, rasanya tidak puas. Dan perempuan yang melabrak ibuku itu tidak tahu satu hal: ibu sangat terlatih menghadapi amukan sedahsyat apa pun itu.

Entah, bagaimana cara ibu melakukannya. Hebatnya lagi, Simbah pun tak pernah ikut campur. Semuanya masalah itu selalu selesai begitu saja. Lama kelamaan, tetangga kami pun terbiasa kalau ada perempuan dari kampung lain yang melabrak ke rumah. Tetanggaku jadi super cuek, sama cueknya dengan kami yang melihat para rentenir setiap hari menggedor-gedor pintu rumah mereka.

Aku pernah bilang ke ibu, “Kalau ada tamu dari luar desa kan baiknya disuruh duduk bu, dikasih minum, terus diajak ngobrol. Begitu bu.”

“Halah anak kecil tahu apa kamu!” bentaknya.

“Ya memang begitu kok yang aku lihat di sinetron itu bu,” jawabku sekenanya.

Mungkin dari hasil memijat itulah, uang kami jadi banyak, maksudku uang ibuku. Ia tak pernah terlihat keluar rumah untuk berias. Perias itu yang datang ke rumah, tepatnya terapi merawat diri, atau apalah aku tidak tahu persis istilahnya. Intinya, karena seringnya ibu memijit pasien, ia pun terlihat kelelahan. Dan pastinya dia tidak ingin terlihat cepat tua. Maka datanglah dua perempuan dari luar kota. Mereka datang ke rumah, seperti melakukan terapi—atau semacam ritual—agar tubuh ibu bugar kembali.

Kalau dilihat sekilas dari penampilan kedua perempuan itu, aku lebih suka menyebut mereka tukang silat ketimbang perawat kebugaran. Tampilan mereka persis seorang pendekar dengan pakaian serba hitam.

“Nonton TV sana!” perintah ibu, “ibu mau pijetan dan spa dulu.”

Begitulah, mungkin cuma ada di rumahku, seorang ahli pijat justru dipijat orang lain. Hanya kadang, aku bingung juga. Di rumahku, ada satu kamar yang tidak boleh dimasuki siapa pun. Hanya Simbah dan ibuku yang boleh masuk ke sana. Itu pun hanya dihari tertentu saja. Terutama di hari setelah ibu melakukan perawatan itu. Bau wangi pun menyeruak dari dalam kamar itu, ibu keluar sembari mengunyah daun sirih, tangan kirinya memainkan tiga kembang kantil, lalu meminum teh melati yang sudah disediakan Simbah. Setelah keluar dari kamar itu, ibuku tampak lebih segar, kulitnya lebih kencang, geraknya lebih gesit, wajahnya seperti bercahaya, dan lebih suka tersenyum sendiri.  

Dan entah kebetulan atau tidak, pagi harinya, pasti bapak tidak pergi ke pasar. Sebab ada tetangga yang meninggal dunia, dia diminta keluarga si mayit untuk mengurus jenazah. Sebab tidak ada satu pun orang yang mau memandikan jenazah itu, bahkan anggota keluarganya sendiri pun tidak ada yang berani. Lantaran tubuh jenazah itu membusuk dan baunya menyengat hidung. Hanya bapakku, satu-satunya orang yang mau menyentuh jenazah itu. Apa kalian pikir bapakku itu pecinta aksi sosial yang pemberani? Bukan, sama sekali bukan. Dia melakukannya demi sebungkus rokok dan sekantong kopi.

***

Aku bercerita panjang lebar soal keluargaku itu, karena sekarang aku sedang bosan dan merasa tidak nyaman. Dengan bercerita seperti tadi, setidaknya mengurangi beban pikiranku dan bisa menghilangkan pening di kepalaku. Sebab duduk di kursi kayu ini rasanya tidak enak sekali. Ditambah lagi harus melihat Simbah, ibu, dan bapakku duduk di depan hakim seperti itu. Ruang pengadilan ini rasanya lebih sumpek dari rumah kami.

Di depan sana, Simbahku dituduh sebagai dukun santet, orang-orang di dusun kami yang menuduhnya seperti itu. Kata beberapa tetangga yang menjadi saksi di pengadilan ini, banyak orang mati setelah memakan beras yang kami bagikan. Terutama beras yang di dalamnya ada satu butir telur. Siapa pun yang memakan beras dan telur itu, paginya pasti ditemukan sudah membusuk. Aku sendiri tidak tahu kalau salah satu beras yang aku bagikan itu ada telurnya. Telur mentah, katanya. Aku benar-benar tidak pernah melihat ada telur di dalam beras itu.

Mereka berteriak-teriak dan menuduh Simbah, kalau jiwa orang-orang yang mati itu diberikan oleh Simbahku kepada ibu. Agar ibu bisa memijat orang-orang dan menyembuhkan penyakit mereka. Agar ibu awet muda juga. Dan di pengadilan ini, hanya bapakku yang menundukkan kepalanya. Sedangkan Simbah dan ibuku tetap mengangkat kepala mereka, seperti tidak ada sedikit pun rasa takut. Sikap mereka itu persis seperti saat menghadapi perempuan-perempuan yang melabrak ke rumah. Mereka terlihat lebih tegar dari bapak.

Bapak terlihat lebih lemas lagi begitu ia dituduh telah membantu Simbah menghitung umur para tetangga kami. Buku kecil itu—buku yang isinya coretan-coretan angka itu—dijadikan barang bukti. Kata si saksi, dari buku itulah akan diketahui siapa korban yang akan meninggal berikutnya. Dihitung tanggal lahirnya, bulan lahirnya, tahun lahirnya, lalu dihitung dengan rumus yang bapak sendiri yang paham. Lalu keluarlah sebuah angka yang dijadikan sebagai tanggal penyebaran beras, dan tanggal perawatan tubuh ibu.

Jujur saja, aku bingung memahami semua itu. Bagaimana seorang perempuan tua yang sehari-harinya hanya berjualan lotek bisa merencanakan kejahatan sesadis itu? Rasanya sangat mustahil sekali. Tetapi akhirnya aku terpengaruh juga—sekaligus sedikit demi sedikit bisa memahami bahwa semua itu benar adanya—setelah seorang saksi kunci membeberkan semua kebusukan keluargaku itu. Seorang laki-laki yang begitu paham dengan detail apa saja yang terjadi di rumahku. Anehnya, aku tidak mengenalnya, hanya saja aku merasakan begitu dekat dengannya. Hatiku berdebar-debar begitu dia mendekatiku, dan berkata, “Aku lebih berhak merawat anak ini, ketimbang mereka itu!”

Kedua mataku menatapnya tajam. Betapa terkejutnya begitu aku melihatnya lebih dekat lagi. Terlihat jelas olehku. Laki-laki ini, matanya sipit sama seperti mataku. Kulitnya putih seperti kulitku. Rambutnya lurus sama persis seperti rambutku, dan giginya rata seperti gigiku. Saat melihatnya itu, rasa-rasanya aku seperti sedang bercermin.

Ia menyeka pipinya, lalu memelukku, mendekapku dengan begitu hangatnya. Ini adalah pelukan yang selalu aku rindukan di setiap pagi, pelukan yang tak pernah diberikan bapak kepadaku. Pelukan seperti ini yang aku lihat di sinetron itu, persis saat si ayah memeluk anaknya ketika anaknya mau pergi ke sekolah. Dalam pelukan ini, entah mengapa aku merasakan kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku bahagia sekali. []

Ditulis oleh: Dwi Suwiknyo

Reviewer: Redy Kuswanto

Baca Juga:   Liburan Gratis di Pantai Patawana Fakfak Papua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *