[Cernak]Perjuangan Aura

Kukuruyuk! Ayam jago berkokok, tanda hari sudah pagi. Keluarga Aura sudah melakukan aktivitas. Marisa, kakak Aura sudah beres-beres.

“Aura, bangun. Sudah pagi,” kata Marisa membangunkan adiknya.

”Iya, Kak. Aku bangun, nih,” ujar Aura sambil mengucek matanya.

“Kalau sudah sholat, tolong bantu Kakak. Kita siapkan sarapan, ya!” pinta Marisa.

“Iya, Kak!” jawab Aura singkat lalu melipat selimutnya.

Aura, dan Marisa adalah anak yatim piatu. Orang tua mereka sudah meninggal dua tahun yang lalu. Ayah mereka meninggal karena kecelakaan tabrak lari. Saat itu ayah mereka sedang berangkat mencari nafkah sebagai buruh bangunan. Sedangkan ibunya meninggal karena sakit paru-paru.

Kehidupan keluarga Aura sangat sederhana. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sangat pas-pasan. Mereka tinggal di sebuah rumah yang kecil bersama neneknya. Rumah mereka bersih dengan ventilasi yang cukup. Perabotan rumah juga tertata rapi.

            Saat sarapan, Aura memberanikan diri menyampaikan isi hatinya kepada kakaknya. Sejak orang tuanya meninggal, Aura putus sekolah. Dia berhenti sekolah saat kelas empat. Hal ini ia lakukan karena  tidak memiliki biaya. Ia harus membantu mencari nafkah.

            “Kak, Aura boleh sekolah, nggak?” kata Aura tiba-tiba.

            “Dapat uang dari mana untuk biaya sekolahmu? Tidak ada sekolah gratis. Untuk makan saja susah. Apalagi untuk biaya sekolah!” kata Marisa agak marah.

Marisa termenung sejenak sambil memegang keningnya. Setelah berpikir, Marisa akhirnya menyetujui permintaan adiknya. Ia tidak kuasa menolak keinginan Aura.

           “Baiklah, Kakak akan mengumpulkan uang dulu. Kamu harus sabar, ya!” ujar Marisa.

          “Iya, Kak. Aku akan sabar menunggu hingga uang terkumpul,” sahut Aura dengan mata berbinar-binar.

Sejak menyetujui permintaan Aura, Marisa giat bekerja. Ia membantu membersihkan rumah tetangganya. Selain itu, Marisa juga membantu Bu Ranti menjualkan kuenya. Sebagian upah yang didapat, disimpan oleh Marisa.

Baca Juga:   [Cernak] Momo

“Aura, ada kabar gembira untukmu. Tadi Kakak membaca pengumuman lomba mengarang cerita. Bagaimana kalau kamu ikut lomba itu? Kamu pernah menang lomba mengarang cerita, kan?” kata Marisa sepulang menjajakan kue.

“Wah! Asyik kalau bisa ikut. Hadiahnya pasti banyak ya, Kak?” tanya Aura semangat.

“Hadiahnya tropi, dan beasiswa. Bagaimana, pingin nggak, Dik?,” ujar Marisa.

“Pingin dong Kak. Ayo kita daftar,” sambung Aura tidak sabar.

“He… he…. Tunggu dulu. Ada syarat dan ketentuannya,” kata Marisa.

“Apa syarat, dan ketentuan lomba, Kak?” tanya Aura.

“Oh iya, Kakak lupa! Syaratnya peserta mengirim tulisan ke panitia lomba.Tulisan diketik dengan komputer. Waduh…!” Marisa menghentikan bicaranya.

“Ada apa Kak? Kok tidak dilanjutkan bicaranya?” selidik Aura.

“Untuk menulis cerita, harus menggunakan komputer. Kita tidak memiliki komputer. Bagaimana caranya agar kamu dapat menulis cerita?” kata Marisa bingung.

“Ya, nggak jadi ikut lomba, nih!” kata Aura dengan muka sedih.

Pembicaraan Aura, dan Marisa terhenti. Dengan hati sedih, Aura keluar rumah. Marisa masih termenung di tempat duduknya. Ia sedih melihat adiknya kecewa. Tidak terasa air matanya menetes di pipi.

Ketika beranjak dari tempat duduknya, Marisa teringat sesuatu. Ia segera masuk ke kamar. Diambilnya celengan berbentuk ayam. Tabungan ini yang akan digunakan untuk mendaftarkan sekolah Aura.

“Ya, celengan ini akan aku pecah,” bisik Marisa. Semoga ada manfaatnya bagi adikku. Aku tidak ingin membuat kecewa dia lagi,” lanjut Marisa.

Pyar. Celengan ayam tempat menabung pun pecah. Marisa segera memanggil Aura.

“Aura, ayo! Kakak antar ke tempat rental komputer!” ajak Marisa setelah bertemu Aura.

“Apa, Kak?” Nggak salah dengar aku?” tanya Aura tak percaya.

Baca Juga:   Bermain Dengan Makhluk Gaib

“Tidak, ini benar. Kamu bisa mengetik ceritamu di sana. Kakak tunggu sampai selesai!” seru Marisa.

Aura sangat bersemangat. Ia segera mengikuti kakaknya. Aura segera membonceng Marisa menuju rental komputer. Hatinya sangat girang. Aura berharap dapat mengikuti lomba.

Sampai ditempat yang dituju, Marisa mengajak Aura masuk ke ruang komputer. Aura segera mengetik ceritanya. Ia lama sekali di dalam ruangan itu. Marisa setia menunggu di luar ruangan.

“Aura sudah sore, nih. Sudah selesai belum?” tanya Marisa.

“Belum, Kak. Aku belum bisa mengetik cepat. Lama aku nggak belajar pakai komputer,” sahut Aura.

“Ya, sudah kita lanjut besok lagi. Malam sudah hampir tiba. Aku takut kita kemalaman di jalan,” jelas Marisa.

“Ya, Kak,” ujar Aura dengan wajah cemberut.

“Kamu tunggu di sini. Kakak akan membayar sewa komputer dulu,” kata Marisa.

Cerita Aura belum selesai diketik. Marisa hampir setiap hari megantar Aura ke tempat rental. Ia berharap adiknya dapat meyelesaikan ceritanya.

Akhirnya cerita Aura selesai diketik. Ia meminta kakaknya membelikan amplop besar. Waktu pengiriman naskah cerita tinggal hari ini.

“Cepat Kak, segera kita kirim cerita ini. Jangan sampai aku terlambat mengikuti lomba,” ajak Aura.

Aura, dan Marisa segera berangkat menuju kantor pos. Marisa mengantarkan adiknya dengan sepeda onthelnya. Ia mengayuh dengan sekuat tenaga. Mereka tak ingin terlambat mengirimkan ceritanya.

Akhirnya waktu pengumuman pemenang lomba tiba. Aura mendapat surat dari panitia lomba. Hati Aura deg-degan saat membuka amplop dari Pak pos. Ia mulai mencermati satu per satu  setiap tulisan. Matanya berhenti menatap ketika ia menemukan namanya tertulis dikertas itu. Ia pun mengucapkan syukur karena menjadi juara dua.

Baca Juga:   [Cernak] Jasa Si Boni

Hati Aura senang karena pengorbanan kakaknya tidak sia-sia. Ia pun segera menemui Marisa untuk mengucapkan terima kasih. Marisa merasa bangga, dan terharu. Kakak adik itu tak henti mengucapkan syukur. Meskipun Aura tidak juara satu namun, bahagia karena ia akan sekolah lagi.

***

Ditulis oleh: Suprapti. Seorang guru dari Prambanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *