[Cernak]Malin Kundang yang Murah Hati

sumber: dakwatuna.com

“Malin Kundang, bangun, hari sudah siang!” teriak Mak Ijah membangunkan.
Malin Kundang menggeliat. Ia serasa ogah-ogahan untuk membuka matanya. Karena masih mengantuk, matanya terpejam lagi.
“Malin, bangun! Bantulah Emak! Ini sudah siang. Semua tetangga sudah mulai bekerja!” teriak Emak kepada Malin.
Mendengar teriakan Mak Ijah, Malin membelalakkan matanya seketika.
“Hah, Emak, aku masih bisa bertemu denganmu lagi? Maafkan aku, ya, Mak! Aku anak durhaka. Aku takut dengan kutukanmu. Takut menjadi batu,” jawab Malin sambil mendekap Emak.
“Apa yang kau katakan? Emak nggak paham.”
“Mengapa Emak tidak paham dengan perkataanku? Padahal, barusan Emak mengutukku menjadi batu,” kata Malin dalam hati.
“Kamu mimpi, ya? Makanya, jangan tidur terlalu lama.”
“Oh, mimpi? Sungguh, beneran kok. Saat itu, aku menjadi saudagar kaya. Aku sedang berlabuh di pelabuhan sini. Aku melihat Emak. Tua, kurus, bungkuk, baju compang-camping. Jalan Emak tertatih-tatih. Sambil memegang tongkat, berjalan mendekatiku.”
Mak Ijah hanya menyimak cerita anaknya.
“Waktu itu, Emak merasa senang karena aku telah kembali dari rantau. Emak memangil-manggil aku dan ingin segera memelukku. Namun, setelah berada tepat di depanku, aku menolakmu. Aku menolak karena Emak miskin.
“Ha, benarkah demikian?” Mak Ijah penasaran juga.
“Benar, begitu mimpiku, Mak. Aku malu pada istriku. Aku takut, jika ditinggalkan istriku karena melihatmu  ….
 “Lalu, bagaimana tanggapan Emak waktu itu?” sela Mak Ijah ingin tahu.
“Benar, Emak pergi meninggalkanku. Wajah Emak terlihat sangat sedih. Namun, sebelum kau beranjak pergi, kau mengutukku menjadi batu. Kau kesal karena aku tidak mengakuimu sebagai orangtuaku.”  
Emak mencoba memahami mimpi Malin Kundang. Ia sedih jika hal itu benar-benar terjadi.
“Apakah benar, Malin akan menolakku sebagai orang tua jika dia sudah kaya nanti?” tanya Emak dalam hati.
Sambil mengelus-elus kepala Malin, Mak Ijah menasihatinya.
“Nak, kamu tidak mau, kan, jika mimpimu itu terjadi?” tanya Emak.
“Lah, jelas enggaklah, Mak! Aku takut, Mak,” jawab Malin memeluk Emaknya.
“Maka dari itu, sayangilah Emak yang sudah tua ini. Jangan kau sia-siakan. Meskipun Emak sudah tua, Emak ingin kau tetap rendah hati. Baik budilah kepada semua orang, seperti yang sudah kau lakukan selama ini. Sudah, ayo bangun! Sekarang, pergilah ke hutan untuk mencari kayu, lalu juallah ke pasar!” suruh Emak kepada Malin Kundang.
“Iya, Mak. Mulai sekarang, aku akan rajin bekerja untuk membantu Emak. Jika sudah berhasil, aku akan membahagiakan Emak. Aku juga akan berbagi rezeki kepada tetangga yang masih kekurangan,” janji Malin Kundang pada emaknya.
Malin segera pergi ke hutan. Ia mencari kayu dan ranting pohon yang sudah kering untuk dijual. Namun, sebagian dijadikan kayu bakar. Mulai sekarang, Malin mulai rajin. Ia berkeinginan menjadi anak yang bisa membanggakan emaknya.
Pada suatu sore, datanglah pedagang kaya ke rumah Malin. Pedagang itu ternyata penjual sate yang sukses. Beliau menginginkan Malin membuat arang. Arang itu akan digunakan untuk membakar sate jualannya. Beliau merasa kekurangan arang.  
Dengan suka cita, Malin menyanggupi tawaran pedagang sate itu.
“Baik, Tuan, saya akan membuat arang sesuai pesananmu. Saya akan berusaha sekuat tenaga agar arang pesananmu bisa kuselesaikan tepat waktu,” jawab Malin dengan semangat.
Mulai saat itu, Malin Kundang giat mencari kayu-kayu kering di hutan. Setelah mendapatkannya, ia bawa ke rumah untuk dijadikan arang. Awalnya, kegiatan itu hanya dibantu Mak Ijah. Beberapa bulan berikutnya, Malin sudah mempunyai pegawai. Mereka membantunya membuat arang.
“Mak, mulai sekarang, Emak tidak usah membantu membuat arang. Emak hanya ngecekaja di penimbangan. Nanti, sebagian dari laba kita, kita sumbangkan ke tetangga yang kekurangan,” kata Malin.
Mak Ijah tersenyum bangga melihat perubahan sikap anaknya. Sekarang, Malin Kundang menjadi pemuda yang gigih. Ia juga senang berbagi rezeki pada orang lain. Tak heran jika nama Malin Kundang terkenal sampai ke berbagai daerah. Ia terkenal ramah dan baik hati. Banyak orang senang padanya.
Pedagang sate yang sukses berkunjung ke rumah Malin. Ia Melihat kegigihan dan kemurahatian Malin. Pedagang sate ingin mempercayakan sebagian dari warungnya kepada Malin. Ia kuwalahan menjalankan bisnisnya. Malin diminta membantu mengelola.
Malin menyetujui permintaan pedagang sate. Sekarang, Malin menjalankan dua usaha. Mengelola usaha arang dan warung sate milik pedagang sate. Malin menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Kini, kedua usaha tersebut menghasilkan keuntungan besar. Semakin besar keuntungan yang didapat, semakin besar pula rezeki yang dibagikan ke orang-orang miskin. Bukan hanya di kampungnya, namun orang miskin tetangga kampung juga mendapat bantuan dari Malin Kundang.
Keberhasilan Malin Kundang tidak dinikmati sendiri. Pemuda gigih ini mau berbagi “berkat” kepada orang lain. Dia beranggapan bahwa berkat yang dari Tuhan, sebagiannya untuk orang miskin. Berkat kegigihan dan kemurahan hatinya, Malin Kundang dapat sukses dan disenangi banyak orang.

Ditulis oleh: Eti Daniastuti – Ibu Guru dari Sleman 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *