[Cernak]Kejujuran Seorang Pemulung

sumber: harian.analisadaily.com
“Mak, Wisnu berangkat dulu!” pamit Wisnu kepada Emaknya.
“Iya, hati-hati Nak!” pesan Emak kepada Wisnu.
Begitulah awal kegiatan yang dilakukan Wisnu setiap pagi menjelang subuh. Wisnu berpamitan kepada emaknya untuk mengais sampah. Tempat pembuangan sampah  agak jauh dari tempat tinggalnya. Ia adalah salah satu keluarga yang kurang beruntung dari sisi ekonomi. Meski begitu, Wisnu sekeluarga menjalani kehidupannya dengan sabar dan ikhlas.
Sambil menenteng karung besar dan besi pengait, Wisnu melangkah menuju tempat pembuangan sampah. Ia ditemani kakaknya yang sudah tak sekolah karena tak punya biaya. Dengan semangat berapi-api, ia berharap akan dapat hasil yang banyak.
“Ayo, Kak, cepat. Jangan sampai ketinggalan dengan teman-teman yang lain!” ajak Wisnu sambil menggandeng tangan kakaknya.
“Iya buruan!” jawab kakak Wisnu singkat.
Tak berapa lama mereka sampai di tempat tujuan.
“Wah ternyata kita ketinggalan, Kak. Sudah banyak orang di sini!” seru Wisnu.
“Nggak apa-apa, yang penting nanti kita dapat hasil,” hibur Kakaknya.
Di tempat pembuangan sampah tersebut sudah banyak orang berlalu lalang. Mereka menunggu truk pengangkut sampah dari kota. Truk-truk tersebut membawa sampah dari berbagai tempat. Ada truk sampah yang berasal dari pasar, perumahan, dan rumah sakit. Semua sampah ditumpahkan di tempat pembuangan sampah.
“Lihat Kak, ada truk yang datang!” teriak Wisnu sambil menunjuk sebuah truk.
Truk tersebut masuk ke area pembuangan sampah.
“Ayo, kita ikuti truk itu!”  ajak Kakak Wisnu.
Mereka berlari bergegas mengikuti truk sampah. Tak ketinggalan juga orang-orang yang sejak pagi menunggu. Mereka ikut menuju ke arah truk yang baru datang.
“Awas minggir nanti tertimbun sampah!” teriak kernet truk.
Kernet mengingatkan agar orang yang mencari sampah hati-hati. Jangan sampai pencari sampah celaka tertimbun ketika truk menuangkan sampah. Setelah sampah dituang dari truk, pencari sampah mengerubutinya. Wisnu ikut berkerumun di timbunan sampah itu.
“Hai…! Minggir ke sebelah sana kau!” bentak pemulung bertubuh kekar.
Wisnu merasa takut. Ia dan kakaknya segera menghindar dari orang itu.
Setelah hampir satu jam Wisnu mengais sampah, tak terasa mentari mulai menyinari bumi. Matahari muncul dari ufuk timur. Wisnu ingat harus bergegas pulang  mempersiapkan diri untuk sekolah. Karung sampah yang hampir penuh diangkatnya.
“Kak, Wisnu pulang dulu ya?” pamit Wisnu.
“Ya sudah, kamu pulang dulu. Ini waktunya untuk sekolah. Hati-hati di jalan!” pesan kakak Wisnu.
Wisnu mulai melangkahkan kaki menyusuri jalan yang agak sepi.
“Tolong…tolong… copet…copet…!” Tiba tiba terdengar teriakan dari arah belakang.
Sebuah sepeda motor melaju kencang dan menyerempet karung bawaan Wisnu. Ia kaget namun tidak mengalami luka. Karung yang dibawa pun terjatuh sehingga barang bekas yang dibawanya berantakan. Wisnu segera memunguti barang bekas yang berserakan. Namun ketika ia akan mengambil lagi barang tersebut terlihat ada sebuah dompet berwarna coklat.
“Perasaan aku tadi tidak memasukkan dompet dalam karung,” gumam Wisnu lirih.
Rasa penasaran mendorongnya untuk segera membuka dompet.Dengan pelan ia membukanya.
“Wah ada uangnya banyak, tapi ini ada KTP-nya juga,” kata Wisnu lirih.
Ia mencermati kartu identitas itu, kemudian menoleh ke arah bunyi teriakan tadi.
 “Oh,jadi ibu itu yang dicopet?” kata Wisnu.
Wisnu segera menghampiri ibu yang kecopetan.
“Mungkin ini milik Ibu!” Wisnu menyodorkan dompet kepada seorang ibu.
“Heh, kamu temannya penjambret itu, ya!” teriak seorang ibu sambil berkacak pinggang.
“Maaf Bu, dompet Ibu ini berada di dalam karungku. Aku menemukan dompet ini ketika isi karungku berantakan. Aku diserempet seseorang yang mengendarai sepeda motor,” jelas Wisnu dengan jujur.
“Ah…, aku tidak percaya, mana ada penjahat yang mengaku. Kamu kerja sama dengan pencopet tadi, ya?” tuduh ibu tadi sambil meraih dompet dari Wisnu.
Si Ibu muda tadi mulai naik pitam. Ia mengancam Wisnu untuk dilaporkan ke polisi. Beruntung Pak Toni lewat. Pak Toni adalah guru kelas Wisnu. Ia segera menghampiri Wisnu dan menanyakan masalahnya. Wisnu memberi penjelasan sesuai dengan kejadian.
“Maaf. Bu. Anak ini memang benar berkata jujur. Ia tidak tahu kalau dompet milik Ibu berada di karungnya. Seharusnya Ibu berterima kasih kepada Wisnu. Ia mau mengembalikan dompet milik Ibu!” jelas Pak Toni.
Tanpa basa–basi, Ibu itu langsung pergi meninggalkan Wisnu dan Pak Toni.
Pak Toni kagum dengan kejujuran Wisnu. Walaupun seorang pemulung namun kejujuran melekat dalam kehidupannya. Berkat kejujurannya, Wisnu diberi kepercayaan oleh Pak Toni untuk mengelola sampah di sekolah. Selain menjaga kebersihan sekolah, Wisnu juga mendapat uang tambahan. Dengan demikian Wisnu tak perlu pergi lagi ke pembuangan sampah. Ia juga tidak terlambat lagi masuk sekolah.
*****


Ditulis oleh: Suprapti. Seorang guru di Prambanan

1 thought on “[Cernak]Kejujuran Seorang Pemulung”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *