[Cernak] Tugas Bercerita di Depan Kelas

Hampir tiba giliranku. Doni, Rangga, dan Rani sudah selesai membacakan tugas bercerita mereka. Sekarang Andi yang sedang bercerita. Setelahnya aku, tapi ceritaku belum selesai. Aku belum mengerjakan tugas yang diberikan Bu Eka tiga hari yang lalu.

Bu Eka pasti tidak akan mau memberikan nilai kepadaku. Bukannya malas mengerjakan tugas, tapi aku kesulitan mengerjakannya.

Tiga hari yang lalu kami sudah berencana pergi liburan ke rumah nenek. Ayah pun sudah tahu kalau aku ada tugas sekolah. Tugas menulis cerita liburan bersama ayah. Waktu itu aku membayangkan ceritaku bakalan seru. Namun, liburan itu gagal. Kami tidak jadi pergi liburan ke rumah nenek.

“Ilham, Ayah ada tugas dari kantor. Disuruh menemui teman yang datang dari Malaysia. Kebetulan sedang liburan ke Jakarta. Lalu Ayah diminta untuk menemui dan membicarakan bisnis dengannya.”

“Tapi, Yah. Tugas Ilham bagaimana?”

“Kamu bisa liburan ke rumah nenek sama Ibu, bukan?”

Aku melihat Ayah sedang merapikan baju di depan cermin. “Tugas dari Bu Eka bukan menulis tentang liburan bersama Ibu, Yah. Tetapi liburan bersama Ayah. Kalau liburannya sama Ibu, ya sama saja Ilham tidak bisa mengerjakan tugas.”

Ibu keluar kamar sambil membawa koper. Sepertinya berisi baju ganti untuk Ayah. Biasanya jika Ayah bertugas dan membawa koper, perginya lebih dari satu hari.

Sore itu Ayah berpamitan. Bersalaman dengan ibu, lalu mencium keningnya. Setelah itu Ayah mencium kedua pipiku, lalu berpesan agar aku menjaga ibu. Setelah mengelus rambutku, Ayah meninggalkan kami.

Selama dua hari Ayah tidak di rumah, Ibu yang membacakan dongeng sebelum tidur untukku. Biasanya Ibu membacakan buku 101 Dongeng Sebelum Tidur yang pernah dibelikan Ayah.

Sepertinya tidak akan ada cerita liburan bersama Ayah yang bisa kutulis. Ayah memang sudah pulang dari tugas kantornya. Dan, masih ada waktu beberapa jam untuk menikmati liburan bersama Ayah. Namun, Ayah masih capek dan ada kegiatan kampung yang tidak bisa ditinggal. Apa boleh buat. Aku tidak bisa memaksa Ayah.

Ayah menemaniku di kamar. Seperti biasa, Ayah menceritakan dongeng sebelum tidur. Malam itu bukan hanya Ayah yang ada di kamar menemaniku. Ibu juga ada di sana turut mendengarkan Ayah mendongeng. Aku memang kecewa karena tidak bisa liburan bersama Ayah, tapi aku senang. Malam itu Ayah menceritakan kisah Raden Banterang yang sangat aku suka.

Aku mendengar Ayah berbisik, “Maaf, Nak. Ayah belum bisa membantumu menyelesaikan tugas sekolah. Ayah harus mengutamakan tugas kantor yang menjadi amanah pekerjaan.” Lalu mengecup keningku dan meninggalkan kamarku.

-oO0o-

Saatnya tiba giliranku bercerita di depan kelas. Bu Eka sudah memanggilku. Aku beranjak dari bangku membawa buku tulis tugas pelajaran bahasa Indonesia. Entahlah, aku tidak bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Antara gugup dan bingung harus bercerita tentang apa. Buku tugas yang kubawa masih kosong. Belum ada satu paragraf pun cerita tentang liburan.

Sebenarnya aku ingin terus terang kalau aku belum mengerjakan tugas. Namun, aku tidak ingin mengecewakan Ayah dan bu guru. Maka, aku beranikan diri bercerita semampuku.

Aku berdiri menghadap teman-teman dan membelakangi papan tulis. Sejenak menoleh ke arah Bu Eka. Kulihat dia mengangguk dan tersenyum, tanda sudah bisa memulai cerita.

“Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.” Serentak dijawab oleh teman-teman.

“Liburan bersama Ayah. Aku diajak menjelajahi negeri dongeng. Waktu itu hari sudah hampir gelap. Kami terseret ke sebuah negeri. Tapi Ayah bilang, dulu kami pernah tinggal di sana. Bahkan aku dilahirkan di negeri itu.

Aku seperti berada di sebuah kerajaan. Aku menaiki kuda, menyelempangkan busur dan anak panah. Ayah dan Ibu memberi restu sebelum melepasku untuk berburu. Mereka adalah Raja dan Ratu di kerajaan itu. Aku terlihat gagah seumuran orang dewasa sebagai putra sang raja.

Ketika berburu di hutan, aku bertemu dengan seorang gadis cantik. Dia mengatakan namanya Surati. Seorang gadis yang tidak memiliki keluarga lagi akibat peperangan di negerinya. Lalu aku menawarkan pertolongan kepadanya. Mengajak gadis itu tinggal di kerajaanku. Dia pun setuju.

Beberapa lama kemudian, seseorang memberitahuku, jika gadis itu sedang berusaha membunuhku. Awalnya aku tidak percaya, tapi bukti yang kudapatkan membuatku yakin. Omongan orang yang berpakaian compang-camping itu benar.

Aku mengusir Surati, tapi dia bersumpah bahwa dia tidak bersalah. Surati berkata, ‘Aku akan melompat ke sungai itu. Jika tuduhanmu benar, maka kamu akan kehilangan aku untuk selamanya. Tapi jika salah, aku bersumpah air sungai itu akan berubah menjadi wangi. Kamu akan menyesal seumur hidup.’

Aku sangat terkejut ketika air sungai itu menjadi wangi. Benar yang dikatakan Surati. Aku menyesal karena salah menuduhnya. Sejak hari itu, aku beri nama daerah itu dengan julukan Banyuwangi.

Sekejap kemudian Aku, Ayah dan Ibu telah kembali berada di kamarku. Ayah menutup dongeng Raden Banterang dengan nasihatnya. Bahwa kita jangan mudah percaya. Cari tahu dulu kebenarannya.

Itulah cerita liburanku bersama Ayah. Bagiku, liburan bersama Ayah berlangsung setiap malam. Ketika Ayah berada di sampingku dan menceritakan dongeng sebelum tidur.”

Aku mendengar tepuk tangan meriah dari teman-temanku. Bu Eka kulihat mengacungkan jempol tangannya sambil tersenyum. Aku merasa senang. Akhirnya aku bisa bercerita tentang liburanku bersama Ayah.

-oO0o-

Baca Juga:   SEANDAINYA WAKTU ADA 25 JAM SEHARI, MASIH BELUM CUKUPKAH?

Ditulis oleh: Seno NS

Reviewer: Rohman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *