[Cernak] TERPISAH

sumber: ihei.wordpress.com
           “Raya, sudah malam. Waktunya tidur,” ucap Mama setelah melihat ke arah jam dinding.

            “Nanti. Besok kan hari Minggu. Memangnya mau ke mana, Ma?” balas Raya yang masih asyik dengan majalah Bobo yang baru.

            “Makanya cepat tidur.”

            “Nggak aah, paling cuma ikut Mama arisan. Raya di rumah saja sama Bibi.”

            “Bibi ikut Mama, Neng,” jawaban Bi Yuni yang justru membuat Raya semakin penasaran.

            Anak perempuan 8 tahun itu menyerah. Dia menutup majalah favoritnya, kemudian berdiri menuju kamarnya bersama Bi Yuni.

***

            “Sayang, bangun, Nak,” ucap Mama mendekat ke ranjang tidurnya Raya.

            Anak perempuan berambut panjang itu hanya ngulet. Belum ada tanda-tanda untuk bangkit. Sekali lagi Mama coba membangunkan. Raya sedikit membuka mata, lalu tersenyum ke arah Mama.

            “Buruan mandi, terus kita berangkat,” perintah Mama kemudian mencium Raya yang berangsur menuruni tempat tidur.

***

            Raya keluar kamar sudah menggunakan pakaian bergambar karakter film frozen. “Kita mau ke mana sih, Ma? Dari tadi Bibi ditanya juga gak mau jawab,” keluh Raya yang menuju sofa lalu duduk.

            “Ayoo, buruan. Nanti juga kamu tahu,” ujar Mama sambil menggandeng tangan Raya, mengajak untuk berdiri.

            Raya duduk di depan menemani Mama menyetir. Bi Yuni di kursi belakang sendirian. Sesekali Raya menguap lebar. Bahkan terucap kalau masih ngantuk. Alhasil beberapa menit kemudian, Raya pun tertidur. Mama melihatnya hanya tersenyum.

***

             “Raya, bangun… sudah sampai.” Mama sedikit menyentuh bahu Raya.

            Anak itu mengucek mata. Seketika kaget dengan apa yang dilihatnya.

            “Waaah, ramai sekali,” seru Raya. Hari itu pertama kalinya dia diajak ke pasar tradisional. Ekspresi senang tersirat di wajah mungilnya. “Mama kok ngga bilang kalau kita mau ke sini?”

            “Sengaja. Biar jadi kejutan. Mama mau kamu juga tahu bagaimana aktivitas pasar tradisional itu,” jelas Mama yang bersiap untuk turun. Begitu pun dengan Raya dan Bi Yuni.

            Beberapa langkah dari parkiran, Raya disuguhkan penjual ikan warna-warni yang cantik. Juga kura-kura kecil berwarna hijau di sebuah ember, tertulis ‘Kura-Kura Brazil’.

            Mama terus melangkah sambil menggandeng Raya. Namun, pandangan anak itu masih tertuju pada hewan kecil bertempurung itu, hingga keramaian menutupi penglihatannya.

            Mereka melanjutkan perjalanan. Raya melihat banyak penjual di sana, ada yang jualan aneka mainan, makanan, pakaian, sampai jual perabot rumah. Sesekali Mama berhenti dan berbincang-bincang dengan para penjual. Setelah mendapatkan apa yang dicari, mereka lanjut berjalan.

            Masuk wilayah penjual daging dan ikan segar. Aroma amis cukup menganggu hidung Raya, sejak tadi sudah menutupnya dengan tangan. Belum lagi jalanan yang basah, “Iiiih… kotor, Ma.”

            “Husst… namanya pasar tradisional yang gini. Mama tidak suka Raya bilang begitu,” ujar Mama.

            “Iya, Ma. Maaf.” Raya berharap cepat keluar dari area tersebut. Di benak Raya masih memikirkan kura-kura kecil nan lucu tadi.

            “Capek nggak, Sayang?”

            “Nggak kok, Ma.” jawab Raya masih dengan semangat yang sama. “Ma?” Raya boleh membeli kura-kura yang ada di depan sana, Ma? Boleh ya?” harap anak tersebut setelah beberapa langkah.    

            Mama menggeleng pelan, “Nanti kalau mati gimana? Kan kasihan kura-kuranya.”

            “Nanti Raya rawat kok, Ma. Dibantu sama Bi Yuni. Ya kan, Bi?” ucap Raya melibatkan Bi Yuni untuk keinginannya.

            “Kamu belum bisa, Sayang,” potong Mama.

            Raya tertunduk. Keceriaannya seketika padam. Mama dan Bi Yuni mulai sibuk memilih sayuran segar.

            “Raya mana, Bi?” tanya Mama setelah tidak dilihatnya Raya di tempat itu. “Raya sayang? Di mana kamu, Nak?” teriak Mama yang sudah tidak bisa menahan emosi.

            Tanpa disadari sejak tadi dia berjalan sendirian. Terpisah di bagian sayur-mayur. Begitu sadar tidak terlihatnya Mama dan Bi Yuni membuat Raya bingung. Bersama rasa takut sambil menahan tangis, dia putuskan untuk putar balik.

***

            Suara Mama pun menjadi pusat perhatian banyak orang. Kabar kalau anaknya hilang pun melesat begitu cepat tersebar. “Ayo, Bi. Kita berpencar, nanti satu jam ke depan Raya ketemu atau tidak, kita kembali ke parkiran.”

            Mereka pun berpisah.

***

            “Mama!” teriak Raya ketika melihat Mama.

            Mengetahui Raya sudah berdiri di parkiran. Mama dan Bi Yuni pun mempercepat langkahnya.“Kamu ke mana saja, Sayang?”

            “Tadi Raya terpisah sama Mama waktu di pasar sayur. Raya takut. Tapi, Raya terus jalan, eh, ketemu sama toko buah yang tadi Mama beli. Terus Raya pelan-pelan keluar, jadi nunggu Mama selesai belanja di sini deh.”

            “Ya, Tuhan! Pintarnya anak Mama. Maafin Mama ya, Nak.”

            “Boleh ya, Ma?” Raya memasang wajah memelasnya sambil menunjuk penjual ikan yang tidak jauh dari mereka.

            Mama sudah tidak bisa untuk bilang ‘tidak’, perempuan itu pun mengangguk, “Tapi belinya dua, jangan satu. Kasihan kura-kuranya.”

            “Horee!” teriak Raya, “Sayang Mama….”

            Mama memberikan sejumlah uang kepada Bi Yuni. Raya pun langsung menarik tangan Bi Yuni, tidak sabar untuk memiliki kura-kura Brazil kecil.

            Beberapa saat kemudian, Raya kembali dengan membawa dua kura-kura. Mereka pun pulang dengan perasaan bahagia. Terutama si Raya yang memperoleh dua teman baru.

-Selesai-

            Nurwahiddatur Rohman. Aktif menulis sejak tahun 2014. Telah melahirkan karya indie yakni Novel Lysa, dan Antalogi Cerita Anak Islami (Pro-U Media). Facebook: Nurwahiddatur Rohman | Email: rohman.man55@gmail.com Mari berteman.

2 thoughts on “[Cernak] TERPISAH”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *