[Cernak] Sepeda Gilang

sumber: pixabay.com

 

Gilang pulang sekolah dengan bersepeda. Sepeda Gilang ini berwarna merah. Sepeda ini, Gilang dapatkan dari ibunya sebagai kado atas kenaikan kelas. Karenanya, Gilang selalu merawat sepedanya ini dengan baik.
 Jarak rumah Gilang dengan sekolah kurang lebih 500 m. Gilang selalupulang bersama dengan Egi, dan Vian. Selain rumah mereka berdekatan, mereka juga sudah bersahabat sejak TK. Mereka sekarang sudah kelas 2 SD.
“Lang, nanti kita main kelereng yuk?”tanya Egi.
“Boleh, main kelerengnya di rumahku saja, ya?” jawab Gilang sambil mengayuh sepedanya.
“Vian, nanti kamu langsung ke rumahnya Gilang, ya?” tanya Egi kepada Vian.
“Siap, nanti sehabis makan aku langsung ke rumah Gilang,” jawab Vian.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan pulang. Mereka masih bersepeda sambil ngobrol. Tidak terasa sudah sampai rumah Gilang.
“Teman-teman, aku sudah sampai, nih. Kalian jangan lupa nanti ke rumahku.” Gilang berseru sambil berbelok ke rumahnya. Sementara Egi dan Vian terus mengayuh sepedanya.
“Siap,” jawab Egi, dan Vian kompak.
                                                            ***
Sesampai di rumah, Gilang lalu menaruh sepedanya di teras depan. Meski Gilang masih kecil, tapi sudah dibiasakan salam sebelum masuk rumah.
“Assalamu’alaikum,” seru Gilang seraya masuk rumah. Tidak ada yang menjawab salam Gilang. Ibu kemana ya? Gilang bertanya dalam hati.
“Sudah pulang, Nak?” Ada suara dari depan. Ternyata Ibu Gilang baru saja dari warung.
“Iya, Bu,” jawab Gilang sambil meletakkan tasnya di kamar.
“Bu, nanti Egi, dan Vian mau main ke sini,” ijin Gilang kepada ibunya.
“Iya, kamu makan dan kerjakan PR dulu,” nasehat Ibu Gilang.
“Baik, Bu,” jawab Gilang. Gilang pun makan, dan mengerjakan PR.
                                                            ***
“Gilang!” panggil Egi dari luar rumah.
“Masuk, Gi!” teriak Gilang dari dalam kamar. “Aku masih mengerjakan PR, nih.”
Lalu, Egi pun masuk ke kamar Gilang.
“Aku boleh main, kalau PRku sudah selesai, Gi. Tinggal 1 nomor, kok. Sebentar, ya,” kata Gilang.
Gilang pun melanjutkan mengerjakan Prnya. Egi tiduran di kamar Gilang.
“Gilang! Gilang!” Vian memanggil Gilang.
Egi pun langsung berlari menghampiri Vian.
“Masuk, Vian! Aku nunggu Gilang ngerjain PR, nih,” kata Egi.
Belum sempat Vian menjawab, Gilang sudah berdiri di pintu.
“Yuk, main! Aku udah selesai kok, ngerjain Prnya,” kata Gilang.
“Asyik!” seru teman-teman Gilang saking girangnya.
Mereka pun langsung menuju halaman untuk main kelereng. Kelereng Gilang sangat banyak. Jadi, teman-temannya tidak perlu membawa lagi.
Mereka bermain sangat seru. Di tengah keseruan mereka bermain, Ibu Gilang memanggil.
“Gilang, ke sini sebentar, Nak!” panggil Ibu Gilang.
“Iya, Bu, sebentar,” jawab Gilang seraya bergegas menuju ibunya.
“Ini, Ibu punya kue. Bawa ke depan untuk teman-temanmu! Lalu, itu minumnya juga nanti sekalian di bawa, ya.” Ibu Gilang menunjuk piring yang berisi kue dan teko air di atas meja.
“Baik, Bu.” Gilang membawa kue dan minuman yang sudah disediakan ibunya.
“Teman-teman, kita makan dulu, yuk!” panggil Gilang.
“Asyik makan,” kata Vian. Maklum Vian ini doyan banget makan.
“Cuci tangan dulu!” cegah Gilang.
“Oh iya, lupa belum cuci tangan,” anicn Vian.
Sementara Vian, dan Egi mencuci tangan, Gilang masuk ke dalam rumah untuk mengambil teko minum yang masih tertinggal. Lalu, mereka pun makan bersama-sama.
“Setelah ini kita sepedaan, yuk!” ajak Vian ke teman-temannya.
“Boleh, tapi aku minta ijin dulu sama Ibu, ya,” kata Gilang.
Gilang lalu meminta ijin kepada ibunya.
 “Bu, aku main sepeda, ya.” Ijin Gilang kepada ibunya.
“Iya, tapi jangan pulang sore-sore, ya,” pesan Ibu Gilang.
“Siap ,Bu,” jawab Gilang.
Setelah makan, mereka membereskan kue yang masih tersisa, dan teko air ke dalam rumah. Kemudian, mereka main sepeda.
Di tengah perjalanan, mereka berhenti sejenak. Mereka berhenti di sebuah sekolah dekat rumah Gilang. Di sana, ada latihan baris berbaris.
“Eh, ada latihan baris berbaris. Lihat dulu yuk!” ajak Egi.
“Ayo!” Gilang, dan Vian menjawab dengan kompak.
Egi, dan Vian membawa sepeda mereka ke dalam sekolah. Sedang Gilang memarkirkan sepedanya di dekat pintu gerbang sekolah. Padahal, sekolah itu berada di tepi jalan.
                                                            ***
“Teman-teman, sepedaku kemana ya?” Gilang panik.
“Lho, tadi kamu letakkan di mana?” tanya Egi.
“Di depan pintu gerbang,” jawab Gilang. “Aduh, bakal dimarahi Ibu, nih.”
Gilang dan teman-temannya bingung. Mereka bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitar sekolah itu. Tidak ada satupun yang tahu.
Ternyata dari jauh, Ibu  Gilang memperhatikan Gilang dan teman-teman. Melihat anaknya panik, Ibu Gilang segera menghampiri.
“Kenapa Gilang?” tanya Ibu Gilang.
“Bu, maafin Gilang,” rengek Gilang.
“Lho, ada apa? ” tanya Ibu Gilang.
“Sepeda Gilang hilang,Bu,” sesal Gilang.
“Kok bisa?” Ibu Gilang pura-pura marah.
“Tadi kamu taruh di mana?” tanya Ibu Gilang.
“Di depan pintu gerbang,” jawab Gilang.
Ibu Gilang tidak tega melihat anaknya kebingungan. Lalu, Gilang diajaknya pulang.
“Ya udah, kita pulang dulu yuk! Egi dan Vian juga ayo ke rumah Gilang dulu,” ajak Ibu Gilang.
Sampai di depan rumah, Gilang, dan teman-temannya terkejut. Mereka melihat sepeda Gilang ada di dalam garasi. Saat itu juga Ibu bercerita kalau Ibu yang mengambil. Ibu berpesan agar Gilang dan teman-temannya tidak meletakkan sepeda sembarangan lagi. Apalagi di depan pintu gerbang sekolah. Itu sangat berbahaya. Akhirnya Gilang menyesal dan dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
****
Ditulis oleh: Sifa Dila. Penggiat literasi dari Kulon Progo.
Baca Juga:   SHARING TIPS MENULIS TRUE STORY DAN TRAVELLING

One thought on “[Cernak] Sepeda Gilang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *