[Cernak] Sepatu Buatan Ayah

Keluargaku terdiri atas aku, Ayah dan Ibu. Sekarang, aku duduk di kelas 6. Tak kekurangan sedikit pun kebutuhan sekolahku. Usaha Ayah lancar sehingga penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Banyak toko-toko sepatu di pasar memesan sepatu dari Ayah. Setiap pemesan memuji sepatu buatannya. Kata mereka, “Kaki akan rusak jika tidak menggunakan sepatu buatan Pak Wahyu.”

Ada pula yang memuji, “Memakai sepatu buatan Pak Wahyu seperti berjalan di  atas kasur.”

Pesanan begitu banyak, sampai Ayah menambah dua orang pegawai untuk membantunya. Kadang, ketika Ayah masih kewalahan untuk menyelesaikan pesanan, Ibu akan membantu sebisanya.

Semenjak ada pabrik sepatu baru di dekat kampungku, pemesanan sepatu Ayah berkurang. Lama-lama, pesanan sepatu bisa dihitung dengan jari, setiap bulannya. Modal Ayah semakin hari semakin berkurang karena harus tombok untuk membayar upah pegawai.

“Maaf ya, Dis… Mir… saya harus memberhentikan kalian,” kata Ayah kepada Kak Ardisa dan Kak Amir.

“Ini, ada sedikit uang saku untuk membuka usaha sesuai keterampilan kalian,” imbuh Ayah.

Kak Ardisa dan Kak Amir menerima uang tersebut dengan perasaan sedih. Sebenarnya, Ayah juga tidak tega jika mengeluarkan mereka. Namun, hal itu harus dilakukannya. Kak Ardisa dan Kak Amir kembali ke kampung halamannya. Di sana, mereka menggarap sawah. Uang saku dari Ayah, mereka gunakan untuk membuka warung untuk istrinya.

Untuk mencukupi kekurangan biaya kebutuhan sehari-hari, Ibu berjualan makanan di kios dekat rumah. Letaknya di antara sekolah dan lapangan sepak bola. Pada saat sedang ada pertandingan, kios Ibu akan ramai pembeli.

Ibu pernah mengusulkan kepada Ayah untuk menjual semua peralatan membuat sepatu. Namun, Ayah tidak pernah setuju karena peralatan itu merupakan benda bersejarah baginya.

“Selama aku masih hidup, peralatan itu tidak akan kujual,” kata Ayah.

“Untuk apa, barang-barang itu, lama-lama akan menjadi besi tua,” kata Ibu sambil bersungut-sungut. Ayah hanya diam.

Ibu berkata lagi, “Kalau mengharapkan dari orang yang memperbaiki sol sepatu, kita akan kelaparan.”

Ayah menghela napas. Dalam hati, Ayah marah mendengar perkataan ibu.

“Kalau Ibu lelah, jangan berjualan saja,” imbuh Ayah.

Ibu semakin cemberut.

Aku sedih mendengar perbedaan pendapat antara Ayah dan Ibu. Perkataan Ibu memang beralasan. Uang hasil penjualan peralatan Ayah, bisa Ibu pakai untuk menambah modal berjualan. Namun, pendapat ayah juga benar. Ia tidak akan menyerah selama masih bisa berusaha.

Meskipun tidak seramai dulu, masih ada satu dua orang memesan sepatu buatan Ayah. Misalnya, Bu Tina. Ia masih mau memesan sepatu buatan Ayah untuk anak dan saudara-saudaranya. Anggapannya, sepatu buatan pabrik cepat rusak karena hanya dilem. Sepatu Ayah awet karena tidak hanya dilem, tapi juga dijahit.

Tunggakan uang sekolahku sudah tiga bulan belum terbayar. Rasa khawatir akan jatuhnya ekonomi keluarga membuatku berinisiatif membantu mereka.

“Bu…, bagaimana kalau dagangan Ibu aku bawa untuk dijual di kantin sekolah?” tanyaku kepada Ibu.

Ibu tidak memberi respon. Ia tetap memasak dan mempersiapkan dagangan yang akan dijual.

“Bu… nasi kucing juga laku di sekolahku, loh,” imbuhku.

“Memangnya, kamu tidak malu jika titip dagangan ke kantin sekolah?” jawab Ibu.

“Tidak, Bu. Susi juga membawa roti kukus untuk dijual di kantin.”

“Ya sudah, besok coba bawa sepuluh bungkus dulu, ya?”

Nasi kucing buatan ibu laris. Dari hari ke hari, jumlah nasi yang aku bawa semakin bertambah. Para guru juga senang karena anak-anak jajan makanan yang bergizi.

Ayah juga mulai membuka angkringan. Siang hari melayani pembuatan sepatu, malamnya berjualan angkringan. Itu Ayah lakukan untuk menambah penghasilan harian. Kebetulan, jualan Ayah juga laris. Teman Ayah juga banyak. Jadi setiap malam angkringan ramai untuk ajang ngobrol dan makan.

Datangnya para pembeli di angkringan membawa keuntungan bagi Ayah. Banyak cerita tentang pengalaman mereka ketika menggunakan sepatu buatan Ayah. Banyak orang sudah membuktikan  keawetan sepatu buatan Ayah daripada buatan pabrik.

“Pak, besok saya tolong dibuatkan sepatu olahraga untuk anakku, ya?” kata salah satu pembeli kepada Ayah.

Satu demi satu, pesanan sepatu buatan Ayah mulai bertambah. Kesibukan rutin mulai terlihat. Meskipun harus menunggu waktu yang agak lama, pelanggan tetap sabar. Para pelanggan merasa puas karena jahitan sepatu buatan Ayah rapi dan kuat sehingga tahan lama.

“Perlu kita syukuri ya, Bu. Berkat kesabaran dan doa kita, usaha Ayah mulai ramai lagi,” kata Ayah kepada Ibu.

Ibu hanya menggangguk. Dalam hati, ia menyesali perkataan masa lampau yang mungkin membuat Ayah sakit hati. Ternyata, besi-besi itu memang berguna untuk ayah.

Aku merasakan kehidupan di keluarga kami semakin membaik lagi. Kebutuhan sekolahku pun sudah terbayar semua.

“Din, kamu harus belajar berbagi pada teman yang membutuhkan, ya,” kata Ayah kepadaku. “Hidup ini yang tidak selalu mulus. Ada kalanya gagal, ada kalanya berhasil.”

Ayah mengajakku untuk berbagi. Kelebihan berkat yang Tuhan berikan pada keluarga kami kali ini, dapat dijadikan sarana berbagi pada sesama. Karena kami pernah mengalami akibat dari kegagalan yang pernah Ayah alami.

“Benar, Yah. Ibu juga merasakan keprihatinan ketika pemesanan sepatu mulai sedikit. Penghasilan Ayah pun juga sedikit,” jawab Ibu.

Kami sepakat untuk meringankan penderitaan orang lain dengan cara bersedekah. Setiap bulan, kami menyisihkan sebagian dari berkat Tuhan. Kalau aku, dengan cara menyisihkan sebagian uang saku di tiap harinya. Di akhir bulan, uang yang kami sisihkan dijadikan satu dan diserahkan ke panti asuhan.

Rezeki dari Tuhan bisa kita dapat dari perantaraan orang lain. Oleh sebab itu, jika kita merasa mendapat berkat yang lebih dibandingkan orang lain, sebaiknya kita juga mau berbagi pada sesama yang membutuhkan.

Ditulis oleh: Eti Daniastuti

Reviewer: Kayla Mubara

Baca Juga:   [Cernak] Misteri Sandal Biru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *