[Cernak] Selebritis Dadakan

sumber: global.liputan6.com

 

“Din, lihat, Arman lewat!”  kata Mirna kepada Dina.

 

“Memang kenapa?”

 

“Lah, kamu nggak tahu, ya?  Arman itu kan, anak kuno. Dia nggak gaul. Dia tuh, sering menggunakan bahasa Jawa krama. Apalagi ketika berbicara dengan orang tua.”  

 

“Lah, bagus, kan? Sebagai anak Jawa, sepantasnyalah kita meniru Arman.”

 

Mirna merasa sewot mendengar jawaban Dina. Padahal, ia berharap, Dina menyetujui pendapatnya. Mirna diam sejenak. Ia tidak mau berdebat dengan Dina. Pada saat berbincang-bincang, bel istirahat berbunyi. Anak-anak kembali ke kelas.

 

Bu Tutik mengajar bahasa Indonesia di kelas Mirna. Beliau meminta anak-anak membuat cerita tentang pengalaman liburan. Setelah itu, anak-anak diminta membaca di depan kelas.

 

Mirna mendapat giliran bercerita yang pertama. Ia bercerita ketika berlibur ke Belanda.  Dalam ceritanya, keluarga Mirna selalu berwisata ke luar negeri saat liburan.

 

Dina bercerita ketika berlibur ke Jakarta. Ia berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah. Di sana, banyak anjungan rumah adat dari semua propinsi di Indonesia. Setiap anjungan, dikenalkan pakaian adat dan kekayaan daerah. Kekayaan alam tiap daerah disajikan dalam gambar maupun miniatur.

 

Arman bercerita ketika menanam jagung bersama Kakek. Ketika itu, ia juga belajar mencangkul.

 

“Ternyata, mencangkul itu sulit. Tidak seperti yang kita bayangkan. Aku sudah mengalaminya. Mulai saat itu, aku menyadari betapa besar jasa para petani,” kata Arman kepada teman-temannya.

 

Ketika Arman bercerita, Mirna berbisik kepada Dina.

 

“Tuh, benar, kan? Arman tuh orang desa. Dia tidak gaul seperti kita. Bahasa sehari-harinya pun menggunakan bahasa Jawa krama,” kata Mirna kepada Dina.

 

Dina tidak memperhatikan perkataan Mirna. Dina tetap mendengarkan cerita Arman.

 

Selesai bercerita, Arman mendapat sambutan tepuk tangan dari Dina. Teman-teman yang lain serempak melihat ke arahnya. Dina melirik ke arah Mirna dan teman-teman.  

 

Bu Guru mengetahui maksud Dina. Beliau meminta anak-anak untuk bertepuk tangan.

 

“Beri tepuk tangan yang meriah, anak-anak,” kata Bu Guru.

 

Mendengar perintah Bu Guru, anak-anak pun bertepuk tangan. Tapi tepuk tangan mereka  tidak tulus. Wajah mereka mencibir ke arah Arman. Untung bel sekolah segera berbunyi. Anak-anak bersiap-siap untuk pulang.

 

Suatu hari, Bu Guru menunjuk Arman mengikuti debat dalam bahasa Jawa. Keterampilan bahasa Jawa krama Arman memang sudah tidak diragukan lagi. Ia paling fasih di antara siswa lain.

 

Saat lomba, Arman mencermati presentasi lawan-lawannya. Mereka mempresentasikan materi dengan runtut. Keterampilan berbahasanya pun bagus. Arman mencoba mencari celah kelemahan setiap lawan. Setiap celah yang ia anggap kurang tepat, selalu disanggahnya.

 

Pelaksanaan lomba sangat menegangkan. Semua peserta aktif bertanya, mendebat, dan menjawab argumen lawan. Penonton tertegun melihat kefasihan para peserta. Sesekali, Bu Guru terlihat menggangguk-angguk sambil tersenyum. Sampai berakhirnya peserta berpresentasi, tak seorang pun beranjak dari ruangan debat. Semua masih antusias menyaksikan ajang debat.

 

Tibalah saat pengumuman kejuaraan. Satu-persatu, nama pemenang dibacakan. Arman terlihat penasaran. Matanya menatap arah juri yang membacakan pengumuman. Sampai juara tiga, namanya belum disebut.

 

“Memang, peserta lomba tadi, banyak anak pintar. Bahasanya pun terampil-terampil. Mungkin, aku harus lebih gigih lagi dalam berlatih,” ucap Arman dalam hati.

 

Bu Guru tahu kegelisahan Arman. Beliau mendekati Arman.

 

“Jangan khawatir. Ibu tahu, kamu anak hebat. Tunggu pengumuman selanjutnya. Belum semua peringkat kejuaran dibacakan,” hibur Bu Guru.

 

“Iya, Bu.”

 

Pembacaan kejuaraan lomba masih berlangsung. Tibalah pembacaan juara satu.

 

“Juara satu diraih oleh Arman!” kata juri lomba dalam membacakan pengumuman.

 

Sontak, sorak sorai Arman memenuhi ruangan lomba.  

 

Kemenangan Arman disambut senang oleh Dina. Ia bangga. Meskipun belum sefasih Arman, Dina juga selalu membiasakan bahasa Jawa krama dalam kesehariannya. Di sisi lain, Mirna canggung dengan Arman. Ia jaga gengsi untuk mengucapkan selamat. Apalagi,  meminta maaf.

 

Siang harinya, tepat pada saat istirahat, datanglah seorang laki-laki ke sekolah. Lelaki itu mendekati Mirna. Selidik punya selidik, ternyata wartawan dari salah satu televisi terkenal.

 

“Dik. Apakah ini sekolah Arman?” tanya wartawan.

 

“Ya, Kak. Apa yang bisa saya bantu?” jawab Mirna.

 

“Apakah Adik sekelas dengan Arman?”

 

“Ya, benar.”

 

“Bisakah bantu untuk menemuinya? Saya ingin mewawancarainya.”

 

Kebetulan, Arman sedang mengobrol dengan Dina di dekat situ.

 

“Hai, Arman, sini! Ini, ada wartawan. Dia akan bertemu denganmu!”

 

Arman dan Dina menoleh ke arah Mirna. Ia melihat laki-laki asing di samping Mirna. Laki-laki itu tersenyum sambil menganggukkan kepala kepadanya. Arman membalas dengan anggukan. Arman dan Dina berjalan pelan ke arah Mirna. Bersamaan dengan itu, Mirna beranjak pergi karena Arman sudah berada di depan mereka.

 

“Eh, mengapa Adik pergi? Saya juga akan mewawancaraimu,” kata wartawan kepada Mirna.

 

 Mirna tidak jadi beranjak dari situ. Ia mendengar beberapa pertanyaan yang ditujukan kepada Arman. Pertanyaan itu berkaitan kejuaraan yang diraihnya. Sesekali, Mirna juga ditanya tentang kebiasaan Arman sewaktu di kelas.

 

Tanpa disadari, Mirna menceritakan kebiasaan baik Arman. Kefasihan bahasa Jawa krama Arman juga dia ceritakan. Setelah dianggap cukup, Arman, Dina, dan Mirna difoto bersama.

 

Mulai saat itu, Mirna mau berkawan dengan Arman. Mirna sudah tidak meremehkan Arman. Ternyata, menggunakan bahasa Jawa krama bukanlah anak kuno. Justru, anak yang mampu berbahasa Jawa krama, akan terkenal seperti Arman.

 

 

Membiasakan bahasa Jawa krama merupakan hal yang baik. Jangan takut dikatakan “kuno” karena menggunakan bahasa tersebut. Kelangkaan penggunaan bahasa akan membawa kita ke ketenaran.
//–//
Ditulis oleh: Eti Daniastuti, guru dari Sleman
Baca Juga:   [Cernak] Caranggesing Istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *