[Cernak] Piala yang Retak

“Syifa malu, Ma!” Gadis kecil dengan jilbab berwarna kuning itu menarik-narik lengan perempuan muda di sampingnya.

“Enggak apa-apa, Sayang. Tuh, lihat, ada anak perempuan lebih kecil dari Syifa. Dia berani tampil sendirian,” rayu si Mama. Tangan syifa digenggamnya erat.

Mata Syifa mulai berubah. Dia perhatikan temannya yang kini sedang memainkan lagu Dari Yakinku Teguh dengan alat musik tradisional itu.

Bibir anak umur lima tahun itu tersenyum perlahan.

“Gimana?” tanya Mama.

Syifa mengangguk. Kedua matanya masih fokus melihat ke panggung di depan mereka.

“Tapi, Syifa deg-degan, Ma,” bisik Syifa di telinga Mama.

Mama menatap wajah Syifa, kedua pipi gadis mungil itu dipegangnya lembut. Kini, kedua pasang mata saling beradu, lekat.

“Syifa, pasti bisa!” Mama mengucapkan kalimat itu dengan sangat yakin. Matanya tajam menatap gadis kecilnya.

“Bismillah, ya!” lanjut Mama.

“Bismillah.” Syifa mengangguk pelan. Matanya mulai berbinar.

“Nah, gitu, dong!” Kening Syifa dikecup Mama lembut.

“Berikan tepuk tangan yang meriah untuk Sinta, perwakilan dari TK Melati,” suara MC diikuti tepukan gemuruh.

“Penampilan selanjutnya, Syifa yang akan membawakan lagu Guruku mewakili TK Harapan Mulia”

“Mamaa.” Mata Syifa terlihat ragu.

“Sssttt! Bismillah!” Mama mengangguk mantap, mulutnya tersenyum penuh semangat. Kedua tangan perempuan itu memegang bahu Syifa. Semangat tiba-tiba menular ke gadis kecil berkacamata.

Syifa perlahan menaiki anak tangga dengan penuh semangat. Dia duduk menghadap ke meja penuh angklung. Tangan mungilnya cekatan menggoyang-goyangkan bambu-bambu kecil yang menopang dua tabung angklung bergantian.

“Terima kasihku kuucapkan… pada guruku yang tulus….” Tepukan gemuruh tiba-tiba melemah dan akhirnya lenyap. Berganti dengan alunan angklung yang lembut, mendayu.

Semua hadirin terhipnotis oleh penampilan gadis kecil itu. Syifa yang sudah beberapa kali memenangkan lomba angklung begitu cekatan memainkan tabung-tabung dari bambu tersebut. Dia rupanya sudah melupakan betapa grogi menyerangnya sebelum naik ke panggung. Lagu yang begitu menyayat. Ternyata, sebuah angklung bisa menghasilkan musik yang begitu indah. Satu per satu guru ikut hanyut, berlinangan air mata.

Perempuan muda yang sedari tadi tidak memalingkan pandangan sedikit pun, kini sibuk mengusap kedua matanya yang berderai air hangat. Beberapa kali menjuarai lomba, tidak juga menghabiskan stok air mata pada perempuan yang telah mengandungnya selama 9 bulan itu.

***

“Baik, para hadirin yang terhormat. Setelah kita menyaksikan para pemain angklung kecil, saatnya kita umumkan tiga pemenang dari lomba angklung tingkat TK se-Provinsi Yogyakarta,” ucap pembawa acara dengan penuh semangat.

“Juara III, adalah Rein, perwakilan dari TK Alamanda.” Tepuk tangan segera menggemuruh, mengalahkan suara MC yang begitu menggelegar.

“Juara II, adalah Sinta, perwakilan dari TK Melati.” Tepukan kian riuh, beberapa hadirin tampak berdiri.

“Juara I, adalah Syifa, perwakilan dari TK Harapan Mulia.” Gadis berjilbab yang membacakan daftar para juara mengakhiri dengan tepuk tangan. Tidak hanya hadirin, para juri pun turut berdiri mengiringi tepuk tangan yang begitu meriah.

“Bagi para pemenang dipersilakan naik ke panggung, untuk menerima piala yang akan diserahkan oleh Bapak Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Yogyakarta.” Suara MC masih mendominasi ruangan yang cukup luas itu.

Rein sudah berdiri di panggung pemenang paling kiri. Sinta di panggung pemenang paling kanan. Sedangkan, Syifa baru saja menempatkan diri di panggung pemenang bagian tengah dengan posisi panggung paling tinggi di antara ketiganya.

Ketiga wajah mungil itu begitu tulus, menerima kemenangan dengan ekspresi bahagia. Pemberian piala dilakukan oleh Bapak Kepala Dinas Pendidikan Yogyakarta.

Juara III mendapat piala paling kecil, juara II mendapat piala lebih besar, dan juara I mendapat piala paling besar. Tepukan tak henti-henti mengiringi momen berharga itu.

“Para pemenang dipersilakan meninggalkan panggung, untuk kemudian berfoto di tempat yang telah disediakan.” MC memberi isyarat kepada para pemenang untuk menuju lokasi berfoto. Tepat di sisi kiri panggung yang telah didekorasi sedemikian rupa cantiknya untuk ber-selfie.

 Para pemenang perlahan menuruni tangga mereka satu per satu. Rein, Sinta sudah melenggang ke arah tempat foto.

Sedangkan Syifa terlihat begitu repot membawa piala itu. Braaakkkk! Syifa terpeleset. Piala yang membentur lantai panggung menimbulkan suara yang gaduh. Mengagetkan panitia yang sedang mengarahkan Rein dan Sinta menuju tempat foto.

Syifa kesakitan, kedua tangannya memegang kaki kanan yang kini terlihat bengkok. Tangisnya pecah saat mamanya tiba dengan perasaan panik.

“Ya Allah, Syifaaa!” Kedua tangannya merengkuh gadis kecil itu. Syifa semakin takut. Piala dibiarkan begitu saja di sebelah mereka. Tim medis segera dipanggil untuk melakukan pertolongan pertama.

***

Pialanya retak, tergeletak di meja samping jendela rumah sakit. Perempuan muda itu tak lagi peduli. Pandangan matanya berkabut, melihat anaknya sekarang terkapar di tempat tidur. Kaki kanan putri satu-satunya yang retak saat jatuh tadi malam, sudah berhasil dipasang gips.

“Ma, maafin Syifa, ya! Pialanya kini retak, Syifa sedih, Ma.” Syifa berbisik lirih di telinga Mama.

Mama tersenyum, tangan kanannya merengkuh lembut kepala Syifa.

“Yang penting sekarang adalah Syifa harus sehat, soal piala tidak usah dipikirkan, sekarang Syifa istirahat, ya!” Mama mengecup lembut kening Syifa.

Entahlah, kini perempuan itu tak lagi peduli dengan apa pun kejuaraan. Ia hanya peduli dengan keselamatan putri semata wayangnya.

***

Ditulis oleh: Eka W

Reviewer: Rohman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *