[Cernak] PETUALANGAN SI AIR

“Ye, aku turun ke bumi, asyik!” kata Air yang turun dari langit    saat hujan.

“Terimakasih ya Allah, Engkau turunkan kami ke bumi ini untuk memberikan manfaat bagi manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan,” ucap syukur Air kepada Tuhannya.

Ada yang turun di gunung, ada yang turun di sawah, ada juga yang turun di gurun pasir. Tak ada setetes air pun yang salah alamat. Semuanya menempati tempat sesuai yang Allah perintahkan.

“Alhamdulillah, aku diturunkan di gunung, aku bisa membuat sejuk gunung ini, aku juga bisa menyuburkan tanaman yang ada di sini,” kata Air yang di gunung itu.

Tak disangka, terdengar suara motor, mobil dan alat berat yang datang di gunung itu, mereka menebang pohon-pohon yang rindang, sehingga menyebabkan hutannya gundul.

“Huhu …” si Air menangis. Ia khawatir, kalau teman-temannya datang lagi dari langit, bisa-bisa akan ada banjir dan tanah longsor.

Tak lama kemudian, hujan lebat turun di sekitar hutan itu. Benar apa yang dikhawatirkan si Air. Terjadilah longsor dan banjir bandang.

“Tolong …! tolong …! ayo lari! ada longsor dan banjir!” seru manusia berlarian menyelamatkan dirinya masing-masing.

Si Air sedih, karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, ia bisa menghancurkan rumah-rumah dan membuat tanaman di sekitar gunung menjadi rusak.

“Ya Allah, semoga Engkau sadarkan orang-orang yang menyebabkan banjir bandang ini, dan selamatkan manusia dari musibah ini. Aamiin,” kata Air dalam doanya.

Air itu kemudian terus berjalan menuju tempat yang rendah.

Di sebuah sungai si Air bertemu dengan beragam jenis ikan lainnya. Mereka senang bisa bertemu, karena ikan tidak akan bisa hidup tanpa air.

“Terima kasih Air, engkau bisa membuat kami hidup senang,” kata Ikan itu.

“Iya, kemarin sungai ini airnya sedikit. Jadi banyak teman-teman kami yang mati,” kata Ikan yang lain.

Air pun senang, ia bisa membuat ikan bahagia kembali. Namun, kebahagiaan itu seketika hilang, saat ada anak yang datang membuang sampah ke sungai.

“Aduh, anak itu membuang sampahnya ke sungai, nanti aku bisa berubah warna menjadi keruh. Dan bisa juga akan menyebabkan kebajiran, karena menghalangi aku menuju tempat yang lebih rendah,” keluh si Air.

Ikan-ikan mulai tidak nyaman berada di air itu, mereka pergi meninggalkan Air yang mulai berubah warna. Berbondong-bondong mereka mencari Air yang masih jernih.

Si Air sedih, karena ditinggal oleh teman-teman Ikan.

Saat turun hujan, si Air kedatangan temannya dari langit. Semakin lama hujannya, semakin banyak airnya di sungai. Benar saja, sampah-sampah itu membuat air sulit bergerak.

“Aduh, kita sulit mau jalan, karena banyak sampah yang menghalangi,” kata Air.

Kemudian terjadilah banjir di lingkungan sekitar sungai itu. Manusia yang tinggal di sekitar sungai berlarian menuju tempat yang lebih tinggi.

“Yah, gara-gara anak yang buang sampah sembarangan kemarin, aku menjadi banjir yang membahayakan, juga bisa membuat gatal-gatal,” sesal si Air.

Kemudian si Air berjalan lagi menuju tempat yang rendah. Ia masuk di persawahan, ia senang bisa bertemu dengan tanaman.

“Hai, Padi, apa kabar?” tanya air.

“Baik Air, terimakasih ya, karena kamu aku bisa hidup,” ucap Padi.

“Berterimakasihlah kepada Allah yang menciptakan kita semua,” pesan Air kepada Padi.

Air dan Padi bergembira bersama, bisa memberikan manfaat kepada manusia.

Air kemudian berjalan lagi menuju tempat yang rendah. Ia menuju sebuah sumur. Di sana dia dipakai untuk mandi, cuci baju dan keperluan lainnya.

Setelah perjalanan panjang ia lalui, sampailah ia di tempat yang luas yaitu lautan.

“Yey …! aku bertemu dengan teman-teman yang lain. Semuanya berkumpul di sini,” teriak Air kegirangan bertemu dengan teman-teman yang lainnya di lautan yang luas.

Ia bertemu dengan nelayan yang mencari ikan. Dan ia juga bertemu dengan ikan-ikan yang lebih banyak macamnya daripada di sungai waktu lalu.

Si Air bersyukur karena sudah melaksanakan tugas dari Allah, yaitu memberi manfaat kepada makhluk-Nya yang ada di bumi baik manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan.

Namun, Air juga sedih kalau ingat ada manusia yang berbuat kerusakan. Seperti menebang hutan seenaknya, membuang sampah sembarangan yang mengakibatkan lingkungan menjadi tercemar.

Si Air kemudian menunggu si Panas datang untuk bisa naik ke awan, dan nanti akan turun lagi ke bumi dalam keadaan bersih dan suci. Dan Dia siap kembali memberi manfaat bagi makhluk Allah di muka bumi.


Ditulis oleh: Kak Adin

Reviewer: Oky E. Noorsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *