[Cernak] Petualangan Ciko

sumber: freepik.com

 

Ciko adalah seekor kucing persia jantan. Ia memiliki bulu putih yang bersih, dan tebal, serta muka yang menggemaskan. Kucing tersebut tinggal di dalam sebuah kandang. Didi, pemiliknya, hanya mengeluarkan Ciko jika ia berada di rumah.
Berbeda dengan Didi, Kakek memelihara sepasang ayam kampung. Ayam betina diberi nama Mak Burik, dan ayam jantan bernama Pak Jambul. Mak Burik, dan Pak Jambul memiliki lima ekor anak. Keluarga ayam itu tinggal di kandang belakang rumah.
Setiap hari, Ciko menghabiskan waktunya bermain di kandang. Didi selalu menyiapkan  makanan, minuman, serta mainan untuk Ciko. Anak laki-laki itu juga rajin membersihkan kandang, sehingga tempat tinggal si kucing selalu bersih.
Sedangkan Mak Burik, Pak Jambul, dan kelima anaknya bebas mencari makan, dan bermain di luar kandang.  Setiap pagi, Kakek selalu membuka pintu kandang untuk melepaskan ayam-ayamnya. Jika sore tiba, keluarga ayam itu akan pulang dengan sendirinya.
Suatu hari, Didi membawa Ciko ke teras depan. Ia baru saja memandikan kucing persia itu. Ciko senang sekali bisa melihat keadaan di luar rumah. Saat itu, Pak Jambul, Mak Burik bersama kelima anaknya sedang mengais tanah. Mereka baru pertama kali bertemu Ciko.
“Kasihan sekali, kamu.” Mak Burik mendekati Ciko.
“Memangnya kenapa?” Ciko bingung mendengar perkataan Mak Burik.
“Kamu tidak bosan di kandang terus?” tanya Mak Burik.
“Tentu saja tidak. Aku senang di sini. Ada banyak mainan, juga makanan yang lezat,” jawab Ciko.
“Ayo, main di luar. Seru banget, lho!” Anak-anak Mak Burik berkerumun di depan Ciko.
“Nggak, ah! Main di luar akan membuat bulu-buluku kotor.” Ciko berbaring sambil mengibaskan ekornya.
Pak Jambul, Mak Burik, dan anak-anaknya meninggalkan Ciko sendirian. Mereka berjalan-jalan di taman depan rumah Didi. Sesekali, anak-anak Mak Burik berkejar-kejaran. Ciko memerhatikan tingkah laku mereka. Sepertinya asyik juga kalau bisa bermain di luar, pikir Ciko.
Siang itu, sepulang sekolah, Didi memberi makan kucing persia kesayangannya. Ia lupa mengunci kembali kandang Ciko. Tanpa sepengetahuan Didi, Ciko pun melompat keluar dari kandangnya. Ah, asyik, aku mau jalan-jalan sebentar di luar, kata Ciko dalam hati.
Ciko pun berjalan menuju taman di depan rumah Didi. Di sana, ia bertemu Mak Burik, dan kelima anaknya.
“Mau ke mana kamu?” tanya Mak Burik.
“Jalan-jalan.” Ciko berjalan tanpa memerhatikan Mak Burik.
“Kamu bilang, kamu tidak suka main di luar,” kata Mak Burik.
“Terserah aku, lah,” ujar Ciko dengan angkuh.
“Hati-hati, ya. Keadaan di luar sana tidak sama dengan di dalam kandang, lho,” pesan Mak Burik.
“Aku bisa jaga diri, kok. Kamu urus saja anak-anakmu itu,” kata Ciko ketus.
Ciko melanjutkan langkahnya. Ia terus berjalan hingga ke luar pagar rumah. Mak Burik hanya bisa menatap kucing berbulu putih itu semakin menjauh. Sebenarnya ayam betina itu sangat cemas, karena Ciko pergi hanya sendirian keluar rumah. Mak Burik pun meminta tolong pada Pak Jambul untuk mengikuti Ciko.
Kucing Persia itu berjalan-jalan dengan riang. Banyak hal baru yang dilihatnya, rumah-rumah tetangga, kendaraan yang berlalu-lalang, bunga-bunga yang bermekaran, dan lainnya. Sungguh pengalaman yang sangat seru. Pantas saja Mak Burik, dan anak-anaknya senang bermain di luar. Tak terasa, Ciko sudah jauh meninggalkan rumah Didi.
            Di salah satu sudut jalan, Ciko melihat seekor kucing kampung. Kucing itu sedang mengorek di tempat sampah. Ih menjijikkan, pikir Ciko. Kucing kampung itu bulunya kusam, dan bau. Pasti ia tak pernah mandi, batin Ciko.
Kucing kampung itu melihat Ciko, lalu menegurnya, “Hai, siapa kamu? Ngapain lihat-lihat!”
“Eh, aku Ciko. Kamu siapa? Kenapa kamu main di tempat sampah itu?” Ciko memandang kucing itu dengan heran.
“Namaku Bondi. Aku lapar, di tong sampah ini ada banyak makanan,” jawab Bondi.
“Ih, tong itu kan,kotor,” kata Ciko sambil menjauh, ia tak tahan dengan bau sampah yang menyengat hidungnya.
“Kamu pasti kucing peliharaan orang kaya, ya? Makanya enggak pernah cari makan di tong sampah,” kata Bondi. Ia memerhatikan bulu Ciko yang putih bersih.
Ciko terdiam. Ia memang tak pernah bersusah payah mencari makan. Semua sudah disediakan oleh Didi.
Tiba-tiba, dua ekor kucing kampung datang dengan mengeong keras.
“Ayo, lari Ciko! Mereka kucing yang menguasai daerah ini,” teriak Bondi.
Bondi, dan Ciko berlari sekencang mungkin. Bondi berhasil lolos, setelah masuk ke halaman sebuah gudang. Ciko yang ketakutan, berhenti, ia tak sanggup berlari lagi.
Kedua kucing kampung besar itu semakin mendekat. Saat mereka hampir menangkap Ciko, tiba-tiba Pak Jambul datang, kemudian menerjang mereka. Kucing-kucing itu terkejut, dan akhirnya pergi meninggalkan Ciko.
“Ayo, kita pulang, Ciko,” kata Pak Jambul.
“Terima kasih, Pak.” Ciko masih gemetar.
“Bagaimana Pak Jambul bisa sampai di sini?” tanya Ciko penasaran.
“Mak Burik khawatir melihatmu pergi sendirian, lalu aku disuruh mengikutimu,” jawab Pak Jambul. 
Ciko lega bisa kembali ke rumah Didi dengan selamat. Ia mendapat banyak pengalaman baru. Di luar sana, ada kucing yang hidupnya menderita, tidak seperti dirinya. Ia bersyukur dipelihara oleh Didi, sehingga bisa hidup dengan nyaman. Ia juga berterima kasih pada Mak Burik, dan Pak Jambul yang sudah peduli padanya. Sejak saat itu, Ciko selalu bersikap baik pada Mak Burik, Pak Jambul, dan anak-anaknya.
//–//
Ditulis oleh: Maya Romayanti
Baca Juga:   Dua Hobi Paling Seksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *