[Cernak] Perempuan Misterius di Balik Jendela

Dena masih berdiri di dekat jendela kamarnya. Sudah hampir setengah jam gadis dua belas tahun itu mengamati rumah di seberang jalan. Dena penasaran dengan sosok perempuan misterius yang baru saja pindah ke rumah itu.

Sabtu lalu, sepulang sekolah, Dena melihat sebuah mobil pengangkut barang, terparkir di rumah seberang. Beberapa orang lelaki sedang menurunkan barang-barang dari mobil. Tiba-tiba, Dena melihat sosok misterius itu. Seorang perempuan berpakaian putih-putih keluar dari rumah. Saat melihat ada seorang anak perempuan yang sedang memerhatikan, perempuan itu langsung masuk kembali. Dena jadi penasaran.

“Sebenarnya siapa sih perempuan itu?” tanya Bella, teman sebangku Dena.

“Nah, itulah, aku juga belum tahu. Sejak ia pindah ke rumah itu, aku belum pernah melihatnya keluar lagi,” tutur Dena.

“Di rumah itu ada orang lain?” tanya Bella lagi.

“Sepertinya, sih, perempuan itu tinggal sendiri. Tapi, beberapa malam ini, aku seperti mendengar orang bercakap-cakap di teras rumah itu. Waktu aku perhatikan dari jendela kamarku, ternyata enggak ada orang.” Dena memasang muka serius.

“Ih, sereem. Kamu enggak takut, Dena?”

“Sebenarnya takut juga, tapi aku penasaran.”

Sejak itulah Dena punya kegiatan baru, mengamati rumah tetangga baru. Kebetulan jendela kamar bocah perempuan itu menghadap ke teras rumah yang ada di seberang jalan. Dena bisa leluasa mengamati dari balik tirai.

Malam itu setelah selesai mengerjakan PR-nya, Dena mengamati rumah itu lagi. Setelah beberapa saat, ia merasa lelah dan mengantuk. Gadis cilik berambut sebahu itu sudah siap memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara dari depan rumah. Dena segera bangkit dari tempat tidur dan mendekat ke jendela. Perempuan misterius berbaju putih itu tampak sedang berbicara dengan seseorang. Duh, ada lagi orang misterius yang bikin penasaran, pikir Dena.

Baca Juga:   [Cerpen] Orak-arik Kak Nila

 

“Dena, ayo, habiskan sarapanmu!” kata Bu Ayu, ibu Dena.

“Eh, iya, Bu.” Dena bergegas menyeruput susu cokelat yang sudah mulai dingin dan menggigit roti berselai.

“Ibu perhatikan, belakangan ini kamu sering melamun, ya? Lagi mikirin apa, sih?” Bu Ayu duduk di samping putrinya.

“Enggak ada apa-apa, kok, Bu.” Dena mencoba mengalihkan pembicaraan.

Anak perempuan itu tidak ingin ibunya tahu ia sedang mengamati rumah tetangga.

“Bu, nanti malam Bella mau menginap di sini. Boleh, kan?” tanya Dena.

“Boleh saja, asalkan sudah minta izn sama orangtuanya,” ujar Bu Ayu.

Sebenarnya Dena mengajak Bella untuk menginap di rumah untuk membantu menyelidiki sosok misterius itu. Bella awalnya takut, tapi karena Dena juga sering membantunya, maka ia pun setuju.

“Nah, nanti malam kita coba amati rumah itu lagi. Kalau perlu kita amati langsung dari dekat.” Dena menjelaskan rencananya.

“Aku takut, Dena,” kata Bella yang memang penakut.

“Tenang aja. Kamu lupa, ya, sahabatmu ini juara silat?”

Dena memang menguasai ilmu bela diri, bahkan beberapa kali gadis itu menjuarai pertandingan pencak silat bergengsi. Tak heran jika ia punya sifat pemberani.

Malam itu, setelah memastikan ibunya tidur, Dena dan Bella mengendap-endap ke luar rumah. Dena membuka pintu dengan hati-hati, untungnya engsel pintu sudah dilumasi sehingga tak timbul suara derit.

“Ayo, kita sembunyi di dekat pohon nangka itu!” Dena menunjuk pohon nangka besar yang berdiri di samping rumah tetangga misterius itu.

Dena menggandeng tangan Bella yang berkeringat dingin. Mereka lalu duduk di bawah pohon nangka. Malam pekat karena langit mendung. Lampu jalan temaram membuat suasana semakin mencekam.

Setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba ada seseorang berpakaian gelap mendekati rumah itu. Sosok itu lalu bersiul-siul hingga sang perempuan misterius keluar dari rumahnya.

Baca Juga:   Adinda, Maafkan Aku

“Semua aman, Bos.” Terdengar suara berat seorang laki-laki.

“Ok, bawa segera. Sudah ditunggu pelanggan.” Perempuan misterius itu menyerahkan sebuah amplop pada si lelaki.

Lelaki itu kemudian berpamitan. Sambil melangkah, ia memasukkan amplop ke saku. Namun, tanpa sepengetahuannya, sesuatu terjatuh di semak-semak tepi jalan. Setelah lelaki itu tak terlihat lagi, Dena bergegas mengambil barang yang tadi terjatuh. Sebuah kantong kecil berisi bubuk putih.

“Lihat apa yang aku temukan, Bella.” Dena menunjukkan kantong kecil yang didapatnya.

“Seperti gula bubuk, ya?” Bella mengamati bubuk itu.

“Tapi untuk apa bubuk ini dibawa malam-malam begini?” Dena semakin penasaran.

“Eh, jangan-jangan, itu narkoba, ya? Ingat enggak, kemarin penjelasan bu guru di sekolah?” Bella teringat penyuluhan anti narkoba yang baru saja disampaikan.

“Wah, kalau begitu aku harus bilang ibu, nih.” Dena melangkah cepat kembali ke rumah.

Bu Ayu terkejut saat Dena membangunkannya. Perempuan berparas cantik itu semakin kaget saat melihat Dena membawa kantong berisi serbuk putih. Setelah mendengar cerita Dena, Bu Ayu segera menelpon Pak Hamdan—ayah Dena. Pak Hamdan seorang anggota polisi, malam itu dia sedang berdinas.

Pagi masih gelap saat serombongan polisi mengendap-endap di sekitar rumah tetangga misterius itu. Tak berselang lama, beberapa petugas berseragam itu membawa sang perempuan misterius. Perempuan itu tampak tak berdaya, kedua tangannya terborgol. Ternyata dia bandar narkoba yang selama ini dicari polisi. Petugas juga menyita narkoba dalam jumlah besar dari perempuan itu. Dena, Bella dan Bu Ayu melihat penangkapan itu dari balik jendela. Dena tersenyum, misteri terpecahkan.

 

Ditulis oleh: Maya Romayanti

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *