[CERNAK] Penulis Cilik

sumber: gambarlucugif.xyz

 

         “Aduh!” teriak Salma di dalam kamarnya.

 

Ternyata bolpoin Salma terlepas dari tangannya. Tanpa sengaja bolpoin itu jatuh.

 

“Tanganku pegal sekali, sakit rasanya!” keluh Salma sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya.

 

Sudah puluhan kertas yang ditulisi Salma semua dia lemparkan hingga berserakan di kamarnya. Ia berusaha keras membuat cerita yang ingin dikirimkannya ke sebuah majalah anak. Semangatnya untuk menulis cerita memang luar biasa. Keinginannya begitu kuat untuk mewujudkan impiannya.

 

“Tok tok tok!” Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Salma berhenti menulis dan berjalan menuju arah suara ketukan. Salma segera membuka pintu kamarnya.

 

“Oh, kamu Yu, dan kamu, Bib. Sejak kapan kalian datang? Kok, tak terdengar suaranya?” tanya Salma kemudian.

 

“Kami sudah datang sejak tadi. Ibumu yang menyuruh kami untuk mengetuk pintu kamarmu,” jawab Ayu sambil menyalami Salma.

 

Habibah dan Ayu adalah sahabat Salma. Mereka menjalin persahabatan sejak di kelas satu. Sampai kini persahabatan mereka masih terjalin dengan baik. Mereka saling menghargai dan saling membantu satu dengan yang lainnya.

 

“Mari masuk!” ajak Salma.

 

“Maaf, kamarku berantakan. Aku belum sempat memberesi kamarku,” lanjut Salma kemudian.

 

Tanpa basa basi lagi Ayu dan Habibah masuk ke kamar Salma.

 

“Apakah kamu sudah menyelesaikan ceritamu, Sal?” tanya Habibah sambil duduk di kursi dekat meja tulisnya Salma.

 

“Iya, kami akan membantumu menyelesaikan ceritanya,” tambah Ayu.

 

“Aduh, belum selesai juga. Aku sudah menulis berkali-kali tetapi belum bagus juga ceritanya. Tanganku sampai pegal-pegal, lho!” cerita Salma dengan wajah yang sedikit bersungut.

 

“Ya, sudah. Coba aku ambil dan kubaca  tulisan kamu di kertas yang berserakan ini,” kata Habibah sambil memunguti kertas hasil  tulisan Salma yang berserakan di lantai.

 

“Baiklah kalau kamu mau membantu!” kata Salma dengan penuh semangat.

 

Salma kembali memegang penanya untuk melanjutkan menulis. Ayu dan Habibah membaca tulisan-tulisan Salma yang tadi berserakan di lantai. Berulang-ulang tulisan itu mereka baca.

 

“O, iya, Sal. Sebaiknya di paragraf kedua ini kamu perbaiki. Ejaan dan tanda bacanya masih kurang benar!” saran Habibah sambil menyodorkan kertas cerita kepada Salma.

 

“Benar, Sal,” kata Ayu menimpali saran Habibah.

 

Salma mencermatinya kemudian memperbaikai tulisannya berdasarkan saran Ayu dan Habibah. Setelah hampir dua jam Salma dan teman-temannya belajar, akhirnya ceritanya jadi juga. Mereka membacanya berulang-ulang sambil mencermati setiap kalimatnya.

 

“Sip, ceritanya sudah selesai!” kata Salma sambil mengacungkan jempolnya.

 

Keesokan harinya, Salma dan kedua sahabatnya berencana pergi ke kantor pos. Mereka akan mengirim ceritanya ke majalah anak. Setelah pulang sekolah mereka bersiap-siap berangkat ke kantor pos.

 

“Sudah siap belum Sal?” tanya Ayu sambil berjalan menuntun sepedanya.

 

“Pokoknya beres, sudah lengkap semua,” jawab Salma sambil bergegas menuju tempat sepedanya.

 

“Ayo! Segera kita berangkat nanti keburu tutup kantornya!” ajak Habibah.

 

Mereka bertiga segera bersepeda menuju ke kantor pos. Sepulang dari kantor pos mereka mampir di kedai es dawet.

 

“Wah, senangnya kalau setiap hari bisa jajan bareng!” seru Ayu sambil menyeruput es dawet ireng yang segar.

 

“Ya, besok kalau ceritanya di muat di majalah dan dapat honor aku traktir lagi,” jawab Salma.

 

Satu minggu waktu telah berlalu.

 

“Sal, kamu mengirim cerita ke majalah anak,ya?” tanya Dewi teman sekelasnya.

 

“ Iya, memang ada apa?” Salma balik bertanya.

 

“Ini lho, ceritamu di muat di majalah,” kata Dewi sambil menyodorkan majalah anak kesayangannya.

 

“Ah! Yang bener, Wi?” tanya Salma ragu.

 

Salma mencermati isi majalah. Ia terbelalak gembira sambil teriak kegirangan.

 

”Yes, benar ini ceritaku!”seru Salma sambil melompat gembira.

 

Salma segera mencari kedua sahabatnya, Habibah dan Ayu. Ia ingin memberitahu mereka bahwa ceritanya di muat di majalah anak. Teman sekelasnya memberi ucapan selamat kepada Salma.

 

“Selamat ya, mbak Salma. Semoga kamu bisa menjadi teladan bagi teman-temanmu!” ucap Bu Prapti guru kelas Salma.

 

“Engkau telah berhasil membuat cerita yang menarik dan dimuat di majalah. Ibu bangga memiliki murid seperti kamu,” lanjut Bu Prapti.

 

Setelah satu minggu menunggu, Salma mendapat wesel dari penerbit majalah yang memuat ceritanya. Ia mendapat kiriman uang honor penulisan cerita.

 

“Alhamdulillah, ini adalah anugerah Tuhan untukku,” kata Salma setelah menerima wesel dari Pak Pos.

 

Salma segera bergegas ke rumah kedua sahabatnya yang telah membantu membuat cerita.

 

“Ayu, aku dapat wesel!’ teriak Salma sesampainya di rumah Ayu.

 

Ayu pun menyambutnya dengan penuh suka cita.

 

“Ayo! Kita ajak Habibah untuk ambil uangnya di kantor pos!” ajak Salma kemudian. Setelah bertemu Habibah, mereka berangkat ke kantor pos. Dan tak lupa, setelah mendapatkan uang Salma mentraktir kedua sahabatnya yang telah membantunya.

 

Sejak ceritanya di muat di majalah anak, Salma semakin semangat menulis cerita. Ceritaceritanya semakin bagus dan menarik. Ia pun selalu mengikuti lomba menulis. Sudah banyak kejuaraan dan penghargaan yang diterimanya. Karena banyaknya penghargaan dan ceritanya yang dimuat di majalah anak, teman-teman dan wali kelasnya menjulukinya si penulis cilik.

SELESAI

Ditulis oleh: Suprapti. Guru di Prambanan 
Baca Juga:   Dunia Kaca yang Mengisapku ke Dalamnya

One thought on “[CERNAK] Penulis Cilik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *