[Cernak] Pengusaha Cilik

Ardi dan Ragil adalah kakak beradik. Ayahnya seorang difabel. Sudah setahun ini, ayah hanya bisa duduk di atas kursi roda. Ia mengalami kecelakaan kerja. Ayah jatuh dari lantai dua ketika menjadi tukang bangunan. Ibu seorang penjahit kampung. Pelanggannya hanya tetangga di kampung mereka. Mereka hidup dan tinggal di rumah yang sederhana.

Kondisi ekonomi keluarga Ardi belum ada perubahan. Ayah mereka juga belum mendapat pekerjaan tetap. Penghasilan Ibu dari jasa menjahit pun tidak sebanyak dulu.

Penghasilan Ayah dan Ibu hanya cukup untuk makan sehari-hari. Biaya sekolah Ardi dan Ragil masih menunggak beberapa bulan. Untung ada Paman Ardi. Ia mau membantu melunasi biaya sekolah mereka. Sehingga, ijazah SD  Ardi dapat diambilnya.

“Di, setelah ini, kamu kan masuk SMP? Apakah kamu mau mendapat uang tambahan?” tanya Paman kepada Ardi.

“Maksud Paman, apa? Aku kurang paham. Bisakah dijelaskan, Paman?”

“Begini…, sebelum sekolah, kamu bisa membantu Paman.”

“Apa yang bisa saya lakukan?”

“Kamu hanya mengampelas meja dan kursi yang Paman buat. Nanti, di tiap minggu, ada deh, sedikit uang saku untukmu.”

“Baik, Paman.”

Keprihatinan hidup, membuatnya semangat dalam belajar. Ia berharap, nantinya menjadi anak yang sukses. Dengan demikian, ekonomi keluarga dapat terangkat.

Ragil merasa prihatin dengan kehidupan keluarganya. Suatu malam, ketika ia dan Ardi akan tidur, Ragil menyampaikan maksudnya kepada kakaknya.

“Kak, di tempat kerja Paman kan, ada potongan kayu kecil-kecil. Itu tuh…, sisa dari meja atau kursi yang dibuat Paman. Kira-kira masih dipakai tidak, ya?” tanya Ragil kepada Ardi.

“Memangnya kenapa?”

“Aku akan membuat mainan dari limbah kayu itu, Kak. Jika sudah jadi, akan aku jual ke teman-temanku. Jadi, aku akan mendapat uang tambahan dari kreatifitasku.”

“Wah, ide bagus. Besok kita ke rumah Paman bersama-sama saja.”

Esok harinya, Ardi dan Ragil ke rumah Paman. Mereka menanyakan limbah kayu kursi dan meja. Setelah mendengar maksud dari Ardi dan Ragil, Paman mengizinkan mereka mengambil limbah kayu.

“Iya, silakan mengambil. Paman ikut senang jika kalian dapat mengolahnya menjadi barang berharga. Selain kamu jual kepada teman-temanmu, nanti juga dipajang di showroom ini. Biar banyak pelanggan melihat hasil karya kalian,” kata Paman memotivasi.

“Wah, terima kasih, Paman,” sahut mereka hampir serempak.

Ardi dan Ragil sangat antusias. Sepulang sekolah, mereka mengumpulkan limbah kayu dari tempat kerja Paman. Pada hari libur, mereka berkreasi membuat beragam model mainan.

“Di…, Gil…, meskipun kamu ada kesibukan baru, jangan lupakan belajar, ya?” pesan Ibu kepada Ardi dan Ragil.

“Iya, Di…, Gil…, benar juga apa yang Ibu katakan,” kata Ayah menimpali.

“Itu pasti, Yah. Sekolah paling utama. Namun, kegiatan ini hanya untuk mengisi waktu luang, kok. Jika memungkinkan, bisa mendapatkan uang, kan? Nanti, bisa untuk mencukupi kebutuhan kita,” jawab Ragil.

“Iya. Ibu tahu. Kiranya sukses semuanya. Sekolahmu sukses, hasil karyamu juga sukses.”

Meskipun hasil karya Ardi dan Ragil bagus, tidak mudah untuk menjualnya. Ada juga anak yang meremehkan karyanya.

“Hai, teman-teman…, lihat tuh, mobil buatan Ragil. Masak, berjualan kok tidak bermodal. Kayu dan pernis saja minta pamannya. Hasilnya, dia yang ambil. Malu, kan? Harusnya dibagi, tuh, hasil jualannya!” kata Agus mengejek Ragil.

Ragil hanya diam saja. Meskipun diejek, dia tetap tegar. Justru, dia bangga karena mampu berkarya untuk dijual. Pamannya pun juga mendukung hal itu.

Tibalah ajang pameran hasil karya siswa. Pameran tersebut diadakan setiap akhir tahun pelajaran. Namun sayang, pameran hanya berlangsung sehari, dari pukul 07.00 sampai 17.00 WIB. Masing-masing siswa menampilkan hasil karyanya. Pengunjung terkesima menyaksikan hasil karya mereka.

“Wah, luar biasa. Semuanya bagus. Satu dengan yang lain, ada keunikan tersendiri. Ingin rasanya memborongnya, Pak,” kata Bu Nina kepada suaminya. 

“Mari Tante, beli tas saya, dong. Ini dari limbah plastik kresek, loh!” sapa Agus kepada Bu Nina.

“Wah, bagus sekali. Iya deh, Tante minta yang warna kuning dan hijau, ya?”

“Baik, Tante. Terima kasih.”

Sampai menjelang pameran ditutup, karya Ragil belum laku satu pun. Ada beberapa stand yang sudah berkemas karena hasil karyanya sudah laku. Akhirnya, Ragil pun ikut mengemasi hasil karyanya. Ia mengemasnya di kardus untuk dibawa pulang. Mendekati pintu gerbang sekolah, tiba-tiba ada seorang bapak mendekati Ragil.

“Sore, Nak. Perkenalkan, nama saya Pak Toni. Saya orangtua dari Agus. Maaf, apakah kamu yang membuat karya dari kayu tadi?”

“Sore juga, Pak. Iya, ini hasil karya saya dan kakak saya. Saya memanfaatkan limbah kayu dari showroom mebel Paman.”

”Bapak suka dengan karyamu. Karyamu sangat unik dan halus. Kebetulan, Bapak punya usaha ekspor-impor berbagai kreasi dari limbah kayu. Bisakah Bapak bekerja sama denganmu?”

“Benarkah, Pak? Saya sangat tersanjung dengan tawaran ini. Jika Bapak memang menilai karya kami layak, saya sangat senang.”

“Baiklah. Kalau begitu, mari Bapak antar pulang. Sekalian, Bapak bisa bertemu kakak dan orangtuamu.”

Di dalam mobil, Agus merasa canggung dengan Ragil. Ia lebih banyak diam karena malu dengan Ragil. Meskipun demikian, Ragil mencoba memecah keheningan di antara mereka. Akhirnya, Agus menyadari kekeliruannya.

Agus ikut bangga pada Ragil. Karyanya mampu menggelitik hati ayahnya. Artinya, karya Ragil laku jual ke luar negeri karena keunikannya.

Kini, Ragil, dan Ardi menjadi pengusaha kecil. Mereka sudah memiliki penghasilan. Kehidupan mereka mulai membaik. Namun demikian, mereka tidak pernah sombong dengan keberhasilannya. Mereka tetap melanjutkan sekolah agar tetap menjadi anak yang sukses.*)

Hikmah cerita: Janganlah kecil hati dengan kekurangan yang kita alami. Kekurangan yang ada pada kita, bisa kita ubah dengan semangat dan kreatifitas. Gunakan kemampuan yang kita punya. Dengan ketekunan dan semangat, niscaya akan berbuah manis.

 

Ditulis oleh: Eti Daniastuti

 

Baca Juga:   Merapi Park, Wisata Murah Dan Semarak

One thought on “[Cernak] Pengusaha Cilik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *