[Cernak] Pastel Warna Merah

Vita dan Amel merupakan dua sahabat dekat. Mereka belajar di sekolah dan kelas yang sama. Kegiatan ekstra yang mereka pilih juga sama. Peralatan sekolah yang mereka miliki juga sama. Pokoknya mereka seperti pinang dibelah dua. Persahabatan Vita dan Amel banyak menimbulkan rasa iri di kelasnya. Semua selera dan barang yang dimilikinya sama.

Suatu hari, di kelas Vita dan Amel ada pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan. Bu Emi, guru mereka, menjelaskan tentang gambar ilustrasi. Sehari sebelum pelajaran, Bu Emi berpesan kepada siswa kelas V untuk membawa pewarna. Pewarna gambar yang boleh dibawa: pensil warna, pastel, atau cat air.

”Anak-anak, kalian sudah paham tentang gambar ilustrasi. Kini saatnya kalian Ibu beri tugas untuk menggambar!” kata Bu Emi.

“Hore! asyik! Kita menggambar lagi!” teriak anak-anak serempak.

Mereka mulai membuat sketsa gambar ilustrasi. Vita dan Amel tidak mau ketinggalan.

“Mel, kamu mau menggambar apa?” tanya Vita sambil mendekati Amel.

“Aku mau menggambar alam pedesaan,” jawab Amel sambil melanjutkan membuat sket gambar.

“Aku juga akan menggambar alam pedesaan. Aku akan menggambar tentang kegiatan peternakan di desa,” jelas Vita.

“Ide yang sangat bagus itu!” sahut Amel.

Siswa kelas V mulai sibuk membuat gambar ilustrasi. Semua ingin menunjukkan kemampuan menggambarnya. Ada yang menggambar sambil bercerita, ada yang meraut pensil bahkan ada juga yang selesai membuat sket gambar. Mereka sangat antusias dalam menyelesaikan gambar.

Amel dan Vita sudah selesai membuat sket gambar. Tiba saatnya untuk mewarnai. Mereka mengeluarkan kotak pastel. Kotak pastel belum sempat dibuka, teman-teman yang tidak membawa pewarna antre meminjamnya. Mereka lebih nyaman meminjam pastel milik Amel dan Vita. Menurutnya, Amel dan Vita yang paling gampang untuk dipinjami sesuatu.

Tak terasa pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan hampir usai.

“Anak-anak, segera kumpulkan hasil karyamu!” perintah Bu Emi mengejutkan seisi kelas.

“Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan sudah cukup,” lanjut Bu Emi.

Vita dan teman lainnya sudah mengumpulkan hasil karyanya. Tinggal Amel sendiri yang belum selesai.

Walau banyak hal yang sama antara Amel dan Vita, namun ada satu hal yang berbeda. Dalam hal mengerjakan tugas sekolah, Vita lebih cekatan dibanding Amel. Hingga akhir jam pelajaran, Amel belum juga dapat menyelesaikan gambarnya.

“Amel, aku pulang dulu ya. Aku buru-buru. Sampai jumpa besuk pagi!” kata Vita sambil meninggalkan kelas.

Amel masih memberesi gambar dan peralatan sekolahnya. Ia tidak menjawab ajakan Vita. Mukanya mulai cemberut menahan rasa kesal karena ditinggal Vita.

Amel terus menata peralatan sekolahnya. Ketika akan memasukkan alat gambarnya, ia kesal. Pastelnya masih berantakan. Teman-teman yang meminjam tidak mau memasukkan kembali ke dalam kotak. Amel memasukkan pastel satu persatu. Warna kuning, hijau, biru, coklat, dan hitam, semua sudah masuk ke dalam kotak. Namun, ketika mau memasukkan pastel warna merah, ia terkejut. Pastel miliknya tidak ada. Ia hanya mendapati pastel merah yang sudah pendek dan patah.

“Loh, mana pastelku yang berwarna merah?” teriaknya.

Ia menanyakan kepada temannya yang masih berada di luar kelas. Namun, tidak seorang pun yang mengetahui pastel yang dimaksud.

Amel memang anak yang jeli. Setiap benda miliknya, dia tahu dan hafal ciri-cirinya.

“Jangan-jangan dibawa oleh Vita. Mungkin takut ketahuan, dia buru-buru pamit pulang,” kata Amel lirih.

Amel mulai curiga dengan Vita. Beberapa hari ini, ia pulang lebih dulu. Biasanya, mereka pulang bersama.

Akhirnya, Amel pulang dengan perasaan kecewa. Rasa kecewanya belum terobati sampai ia tiba di rumah. Amel segera menggambil telepon genggam miliknya. Dengan perasaan marah, ia menelepon Vita. Berkali-kali ia menghubungi, namun tidak bisa. Nomornya tidak aktif. Amel bertambah cemberut dan jengkel. Dia yakin, Vita menukar pastel merahnya. Pastel miliknya masih panjang dan bagus. Sedangkan pastel yang ada di kotak pewarnanya sudah pendek dan patah.

Keesokan harinya, Amel mencari Vita di sekolah. Ia menunggu sampai bel masuk berbunyi. Namun Vita tidak kunjung muncul di kelas. Sampai pelajaran usai, Vita tidak hadir. Amel semakin yakin bahwa pastelnya ditukar Vita.

“Benar, pasti Vita yang menukar pewarnaku. Kemarin, Vita buru-buru pulang meninggalkan aku. Sekarang tidak masuk sekolah,” kata Amel dalam hati.

Seusai sekolah, Amel pulang dan melempar tas sekolahnya di sofa ruang keluarga. Ibu Amel mengetahui hal itu. Tidak biasanya Amel berbuat seperti itu. Ibu Amel mengerti kalau anaknya sedang menghadapi masalah.

“Ada apa, Nak? Tidak biasanya kamu seperti ini?” kata Ibu Amel.

“Itu Bu, pastelku ditukar Vita!” jelas Amel.

“Jangan asal nuduh Nak, itu tidak baik,” kata Ibu menasihati.

“Mari, kuantar kamu ke rumah Vita. Kita tanya baik-baik!” ajak Ibu.

Amel tidak mau masalahnya berlarut-larut. Ia bersedia menuruti saran ibunya. Sampai di tempat tujuan, Amel segera mengetuk pintu rumah. Pintu rumah terbuka. Sambutan hangat pun diberikan oleh Vita. Namun tak seperti biasanya. Wajah Vita tampak muram. Melihat temannya sedih, Amel tidak sampai hati menyampaikan niatnya. Demi kebaikan, dia pun mulai membuka percakapan.

“Vit, aku mau bertanya tapi sebelumnya aku minta maaf,” kata Amel.

“Nggak apa-apa Mel, katakan saja,” pinta Vita.

”Apakah kamu telah menukar pastel merahku?” lanjut Amel.

“Tidak Mel,” jawab Vita.

“Kalau nggak menukar, mengapa pastel yang ada di mejaku tinggal yang pendek dan patah? Mengapa juga kamu tergesa-gesa pulang lebih dulu dan meninggalkan aku? Apakah kamu ingin menghindar dari aku?” tanya Amel bertubi-tubi.

Mendengar percakapan yang serius, ibu Amel mulai menengahi.

”Loh, ada apa ini? Serius sekali pembicaraan kalian,” kata ibu Amel.

“Maaf Bu, Amel telah menuduhku menukar pastelnya. Padahal, bukan aku yang menukar,” jelas Vita.

“Memangnya kamu punya bukti, Nak?” tanya Ibu kepada Amel.

Amel hanya terdiam dan tertunduk.

“Sebelum aku bawa ke sekolah, pastel merahku utuh, Bu. Tetapi, setelah selesai mewarnai di sekolah, tidak ada. Yang ada di mejaku hanya pastel merah yang pendek dan patah!” kata Amel menahan tangis.

“Oh, itu masalahnya. Maafkan Ibu, Nak. Sebelum kau bawa ke sekolah, pastel merahmu diambil adik untuk mainan. Pastel tersebut patah. Ibu lupa mengatakan kepadamu!” jelas ibu Amel.

Setelah mendengar penjelasan ibu Amel, dua sahabat itu merasa lega.

“Oh iya, Mel, maafkan aku yang telah meninggalkanmu di kelas. Waktu itu, aku tergesa-gesa pulang karena ibuku masuk rumah sakit. Asmanya kambuh. “Aku harus menunggunya,” kata Vita sambil menahan rasa haru.

Amel dan ibunya turut prihatin atas peristiwa yang dialami keluarga Vita. Akhirnya, Amel dan Vita berpelukan dan mengakui kesalahan masing-masing.

*****

Baca Juga:   Pengin Dagangan Laris? Hindari Sistem Jualan Culas

Ditulis oleh: Suprapti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *