[Cernak] Panggil Aku Hans

“Cepat Fi, nanti keburu masuk rumah!” ajak Aska kepada Rafi sambil menggenjot sepedanya sekuat tenaga.

“Sebentar Ka, aku sudah capek, nih” keluh Rafi sambil menahan napas yang tersengal-sengal.

Aska dan Rafi mendatangi rumah kuno yang baru beberapa hari ditempati keluarga kaya. Aska merasa penasaran dan jengkel terhadap anak baru penghuni rumah itu. Anak baru itu tidak mau bergabung dengan teman-teman di kampungnya. Ketika itu, Aska mengundangnya untuk latihan balap sepeda. Latihan tersebut dilakukan untuk menghadapi lomba balap sepeda beregu antar kampung.

Setiba, di tempat yang di tuju, Aska dan Rafi sudah tak melihat penghuni baru rumah kuno itu. Rumah itu sudah tertutup rapat. Sepi, tak ada siapa-siapa.

“Iya, kan kita terlambat. Gara-gara, kamu sih!” kata Aska dengan wajah yang bersungut-sungut.

“Iya, iya maafkan aku” kata Rafi dengan nada menyesal.

“Ya sudah, lain kali saja kita kemari lagi!” ajak Aska sambil membalikkan arah sepedanya menuju rumah.

Hari berikutnya, Aska dan Rafi kembali lagi ke rumah kuno itu lagi. Kebetulan sore itu penghuni baru rumah kuno itu berada di beranda. Rafi dan Aska mengamati dari kejauhan. Samar- samar terlihat tiga orang yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak. Anak itu kira-kira berumur sepuluh tahun, sebaya dengan Aska dan Rafi. Anak itu bertubuh tegap dan berperawakan kuat.

“Lho, itu anaknya!” kata Aska sambil menunjuk ke arah anak di rumah kuno itu.

“Sombong sekali dia!“ lanjut Aska kemudian.

“Ah, itu perasaanmu saja, Ka. Jangan berprasangka buruk dulu!” nasihat Rafi kepada Aska.

“Tunggu saja pelajaran dariku nanti!” ancam Aska.

Belum sempat Rafi mengucapkan kata-kata lagi, Aska sudah mengajaknya untuk pulang.

Aska dan Rafi kembali menuju ke kebun pisang dekat rumahnya. Mereka akan merundingkan suatu rancana untuk memberi pelajaran kepada anak baru itu.

“Rafi, aku masih penasaran dengan anak di rumah kuno itu!” kata Aska mengawali pembicaraannya.

“Lalu mau kamu apa, Ka?” tanya Rafi kemudian.

“Aku ingin memberi pelajaran padanya!” lanjut Aska sambil mendekati Rafi.

“Aku punya ide, kita atur siasat agar dia tahu siapa aku!” kata Aska sambil menepuk dadanya.

Hari itu juga, Aska dan Rafi betul-betul melaksanakan rencananya. Aska menulis surat tantangan untuk penghuni rumah kuno itu. Isi surat tersebut adalah sebuah tantangan lomba balap sepeda. Lomba tersebut akan dilaksanakan di lapangan desa.

Ketika Aska dan Rafi mengirimkan surat itu, anak penghuni rumah kuno itu tak ada. Mereka hanya menemui tukang kebunnya.

”Mang, di mana anak yang tinggal di rumah ini?” tanya Aska.

”Oh kamu, Ka. Ia sedang pergi dengan orang tuannya,” jawab Mang Udi.

“Kira-kira berapa lama mereka pergi, Mang?” tanya Aska lagi.

“Wah, kurang tahu. Soalnya mereka tadi bilang hanya mau pergi saja. Entah lama atau tidak Mamang kurang tahu,” jelas Mang Udi.

Karena yang akan di temui tidak ada di rumah, Aska memutuskan menitipkan surat itu. Surat tantangan pun dititipkan kepada tukang kebun rumah itu.

***

Senja itu, Aska dan Rafi sudah menunggu penghuni baru rumah kuno. Mereka menunggu di lapangan desa yang tidak jauh dari rumahnya.

“Wah, dia tak berani menerima tantanganku!” kata Aska dengan gaya khasnya.

“Dia takut sama kamu, sudah jam segini belum juga datang!” kata Rafi menimpali.

Belum juga mereka selesai bicara, dari kejauhan tampak seorang anak lelaki bertubuh tegap mendekati Aska dan Rafi. Dia adalah anak baru yang tinggal di rumah kuno itu.

“Aku terima tantangan kalian. Mari segera kita mulai lomba ini!” kata anak baru itu dengan nada kalem.

Tanpa menunggu waktu lama, mereka menyepakati aturan lomba tersebut. Yang sampai digaris finish dahulu dialah jagoannya.

Balap sepeda itu pun segera dimulai. Rafi memberi semangat kepada kedua peserta lomba.

“Ayo… buktikan kalau kalian jagoan. Ayo…ayo…ayo…!” terika Rafi dari tepi lapangan.

Aska merasa paling jago balap sepeda, karena dia telah mengalahkan teman sekampungnya. Aba-aba lomba segera diteriakan oleh Rafi sebagai jurinya. Kedua anak itu mulai mengayuh sepedanya sekuat tenaga dan berusaha untuk menjadi jagoan. Namun, baru sampai setengah putaran, sepedanya terperosok. Aska terjatuh, kakinya pun terluka. Ia tak dapat bangkit lagi. Akhirnya Aska kalah. Anak laki-laki penghuni baru rumah kuno itu yang menang. Setelah sampai finish, anak itu kembali menghampiri Aska sambil mengulurkan tangannya.

“Kenalkan namaku Handoko Saputro, panggil aku Hans!” kata anak penghuni rumah kuno itu.

Aska menerima uluran tangan Hans sambil menahan rasa sakit dan berusaha bangkit.

“Maafkan aku Hans. Aku telah berprasangka buruk dan meremehkanmu. Kukira kau anak yang sombong” jelas Aska kepada Hans.

“Tidak apa-apa kok. Aku maklum dengan sikapmu. Mari aku bantu kau pulang!” ajak Hans kepada Aska.

“Terima kasih Hans ternyata kau anak yang baik. Aku jadi malu sendiri!” ujar Aska sambil menundukkan kepalanya.

“ Iya, sama-sama. Aku juga berterima kasih padamu karena engkau mau berkenalan denganku!” balas Hans.

Hans kemudian menolong Aska untuk bangkit dan mengantarnya pulang. Setelah kejadian sore itu, akhirnya mereka menjalin sebuah persahabatan. Tidak ada lagi rasa benci dan dendam diantara mereka. Keduanya merasa bahagia memiliki teman sejati.

Ditulis oleh: Suprapti

Reviewer: Oky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *