[Cernak] NGOMPOL…, MALU AH!

sumber : savvyqueen[dot]com
Setiap sore, halaman belakang rumahku selalu digunakan bermain teman-teman sebayaku. Seperti biasa, kami bermain lompat tali. Kami bermain dengan jumlah enam anak.

Sebelum bermain, kami hom pim pah dahulu untuk menentukan pemain dan penjaga. Dua anak yang kalah harus jaga. Mereka memegang masing-masing ujung karet yang sudah dirangkai panjang. Mereka harus merentangkan kedua ujung tali sampai kencang dan tidak kendor. Setelah itu, satu per satu, anak yang menang melompati tali.

Lompatan dimulai dari ukuran tali setinggi lutut. Jika semua anak lolos melompat, bentangan karet ditinggikan setinggi paha. Demikian seterusnya sampai setinggi pinggang, dada, telinga, dan atas kepala.  Anak yang gagal melewati bentangan tali, harus gantian jaga.

Tuti, adikku, selalu kalah dalam permainan lompat tali. Dia belum mampu melompati tali yang tinggi. Mungkin, Dik Tuti kurang pintar membuat strategi. Dengan demikian, Dik Tuti selalu kalah. Ia harus jaga, memegangi ujung tali.

Permainan lompat tali selalu dimenangkan oleh Irma dan Abel. Mereka pintar membuat strategi. Mereka membuat ancang-ancang cukup jauh dari bentangan tali. Jarak ancang-ancang itu kira-kira bisa mereka gunakan untuk berlari agak kencang. Pada saat mendekati tali, Irma ataupun Abel dapat melompat dengan baik. Strategi Irma selalu aku amati. Sehingga, suatu saat aku tiru. Pada saat asyik bermain, tiba-tiba hujan turun. Kami semua pulang ke rumah masing-masing.

Selesai makan malam, aku dan Dik Tuti berbincang-bincang di kamar. 

“Dik, bagaimana jika kita berlatih lompat tali di sini? Kita harus dapat melompat dengan baik. Kita tiru strategi Irma maupun Abel,” kataku pada Dik Tuti.

 “Baiklah, tapi kamar kita tutup saja, nanti kakak melihat tingkah laku kita!” jawab Dik Tuti.

Aku dan Dik Tuti menyiapkan kursi untuk menali kedua ujung tali karet. Setelah karet dibentangkan, secara bergantian, kami bermain. Hal itu diulang-ulang sampai kami menemukan teknik terbaik.

Namun, permainan berlangsung hanya beberapa menit saja. Kegaduhan dan suara gedebrak-gedebruk  lompatan terdengar oleh ibu dan kakak. Kebetulan, mereka sedang di ruang tengah.

“Suara apa, itu, Bu?” tanya Kakak kepada Ibu.

“Reni…, Tuti…, apa yang kalian lakukan?” teriak Ibu.

Aku dan Dik Tuti kaget mendengar teriakan Ibu. Kami baru menyadari bahwa kegaduhan dan hentakan kaki saat lompat tali terdengar olehnya.

Ibu membuka kamar kami. Aku dan Dik Tuti tertunduk takut. Ibu duduk di kasur sambil menasihati kami.

“Perbuatan kalian itu tidak baik. Bangunan rumah ini terbuat dari kayu, kan? Bagaimana jika rumah ini roboh?” tanya Ibu.

“Jangan, Bu!” sahut kami hampir bersamaan.

“Maka dari itu, jangan  engkau lakukan lagi,” jawab Ibu.

“Iya, Bu, maafkan kami. Kami tidak akan mengulanginya lagi,” jawab kami serempak.

 “Sekarang, apakah Ibu masih marah?” tanya Dik Tuti.

“Tidak, karena kalian sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” jawab Ibu.

“Terima kasih,  Bu,” sahut Dik Tuti sambil memeluk Ibu.

Aku juga ikut memeluk Ibu sebagai ungkapan maafku.

“Ya sudah, sekarang cuci kaki kalian, lalu tidur. Ingat, sebelum tidur, berdoalah dahulu,” kata Ibu.

Aku dan Dik Tuti segera melakukan perintah Ibu.

***

Saat bangun pagi, aku kaget karena kasur Dik Tuti basah. Aku membangunkan Dik Tuti untuk memeriksa kasurnya.

“Hai, Dik, kamu ngompol, ya?” tanyaku.

“Maaf, Kak Reni, saya tidak tahu kalau ngompol,” kata Dik Tuti nyengir.

Mendengar keributan di kamar kami, Kakak datang. Kakak mengamati kamar kami. Didapatinya, kasur basah. Kakak marah karena Dik Tuti ngompol. Adik tertunduk takut mendengar omelan Kakak.

“Maaf, Kak! Aku tidak sadar jika ngompol,” kata Dik Tuti.

“Rendy, janganlah marah. Sewaktu kecil, kamu juga pernah ngompol, kan? Sudahlah. Segeralah jemur kasur adikmu!” kata Ibu kepada Kakak.

Kakak hanya tertunduk malu mendengar hardikan Ibu. Aku dan Dik Tuti membantu Kakak menjemur kasur. Setelah itu, kami mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah.

Aku dan Dik Tuti terlambat sekolah. Kami masuk kelas hampir bersamaan dengan masuknya Ibu Guru.

“Mengapa kalian terlambat?” tanya Bu Guru kepada kami.

“Maaf, Bu. Kami harus membantu Kakak menjemur kasur terlebih dahulu,” jawabku.

“Ada apa dengan kasurmu?” tanya Bu Guru.

Aku melirik ke arah Dik Tuti. Ia memberi isyarat gelengan kepala kepadaku. Bu guru semakin penasaran dengan tingkah kami.

“Reni, mengapa dengan kasurmu? tanya Bu Guru penasaran.

“Eee…, Dik Tuti…,” kataku sambil melirik ke arahnya.

 “Janganlah, Kak, aku malu,” kata Dik Tuti.

“Ada apa, Tut?” tanya Bu Guru lagi.

Dengan terpaksa, Dik Tuti mengatakannya.

“Maaf, Bu! Semalam, saya ngompol. Sehingga, saya harus membantu Kak Rendy menjemur kasur terlebih dahulu,” jawab Dik Tuti sambil tertunduk malu.

Teman-teman kami tertawa mendengar pengakuan Dik Tuti. Kami disuruh Bu Guru duduk. Bu Guru menjelaskan cara mengantisipasi agar tidak ngompol.  

“Anak-anak, agar tidak ngompol, kencinglah dahulu sebelum tidur. Janganlah bermain loncat-loncat sebelum tidur. Kurangi porsi minum menjelang tidur,” pesan  Bu Guru.

“O, berarti, saya ngompol karena bermain lompat tali. Baiklah, saya tidak akan melakukannya lagi. Saya juga akan kencing sebelum tidur,” bisik Dik Tuti.

Semenjak kejadian itu, Dik Tuti tidak ngompol lagi. Ia mematuhi nasihat Ibu dan Bu Guru.


*****

Pesan moral :

Aku dan Dik Tuti menyadari bahwa tingkah laku mereka kurang baik. Tuti ngompol karena banyak bermain lompat tali. Dia lupa kencing sebelum tidur. Namun, ada hal baik dari Aku dan Dik Tuti. Mereka mau mengakui kesalahannya.
Ditulis oleh: Bu Eti Daniastuti – Guru di Sleman

1 thought on “[Cernak] NGOMPOL…, MALU AH!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *