[Cernak] Musik dari Desa

 

Nong! Nong! Ning, Nong!

Jehan menutup kedua telinganya. Dahinya berkerut.

“Ibu, itu bunyi apa sih? Dadaku jadi ikut jeduk-jeduk,” kata Jehan sambil mendekapkan tangannya di dadab

“Itu bunyi alat musik, Je. Namanya gamelan.” Ibu menunjuk pendopo. Tak jauh dari tempat mereka makan.

Akhir pekan itu Jehan dan kedua orang tuanya menghabiskan waktu dengan menginap di Desa Wisata Jelok, Gunung Kidul. Suara gamelan itu sudah mulai dimainkan sejak semalam.

“Ada ya, alat musik yang bunyinya begitu?” Jehan melongok ke luar. Hari masih pagi. Ada kabut tipis yang seolah mengambang. Pandangan gadis cilik itu jadi sedikit samar.  

“Setelah makan, kita ke sana ya, Bu,”ajak Jehan pada ibunya. Dia terlihat masih mendengarkan musik asing itu baik-baik.

Saat mendekat, tangan Jehan masih menutup telinganya. Tapi kedua matanya memperhatikan dengan seksama. Lalu kepalanya ikut mengangguk-angguk seiring irama gamelan. Kedua tangannya sudah tidak lagi menutup telinganya.

Jehan melihat ada banyak orang yang sedang menonton pertunjukan gamelan itu.

“Ibu, lihat! Itu orang-orang asing, ya, Bu?” Jehan menunjuk sekelompok turis dari luar negeri.

“Mereka juga suka gamelan, Bu?” tanya Jehan penuh rasa ingin tahu.

Ibu mengangguk. “Iya. Malah ada yang belajar gamelan juga, lho.”

Jehan mengangguk tanda mengerti. “Keren, ya, Bu. Padahal gamelan itu musik dari desa, tapi orang luar negeri juga suka.”

Ibu tersenyum geli. Jehan baru kali ini merasakan liburan di desa. Jehan juga baru pertama kali melihat dan mendengar pertunjukan gamelan. Pantas saja dia menyebut gamelan sebagai musik desa.

Sepulang dari liburan, Jehan terus menanyakan pada ibunya, di mana dia bisa belajar musik dari desa itu? Rupanya dia sangat terkesan saat menonton gamelan tempo hari.

Ibu berjanji akan mencari tahu. Tapi gadis yang masih duduk di kelas 1 SD itu justru cemberut. Dia tak sabar ingin segera mendapatkan jawabannya.

Ibu tersenyum dan membelai kepala gadis kecil itu. “Ibu kan, perlu waktu juga untuk cari tahu, Nak. Sabar, ya….”

Jehan mengangguk-angguk. Dia belajar untuk bersabar dan menunggu.

***

Dua minggu kemudian, ayah mengajak Jehan pergi ke suatu tempat.

“Kita mau pergi ke mana, Yah? Aku nggak mau kalau pergi ke mal. Capek. Berisik,” tanya Jehan.

Ayah mengedipkan mata. “Katanya Jehan mau belajar gamelan?”

Jehan rupanya sibuk dengan tugas-tugas sekolahnnya. Sampai dia lupa dengan keinginannya. Seketika wajah Jehan berubah. Matanya berbinar cerah.

“Oh iya! Ayo Yah!”

Tempat yang mereka tuju lumayan juga jaraknya dari rumah. Hampir dua puluh menit waktu yang diperlukan Jehan dan ayah untuk sampai ke tempat itu. Sebuah rumah pendopo yang letaknya terselip di antara hunian penduduk yang padat.

Sejak turun dari motor dan memasuki gerbang, Jehan sudah mendengar sayup-sayup musik yang berhasil menarik hatinya itu. Saking girangnya, gadis kecil itu melompat-lompat sambil menggenggam erat tangan ayahnya.

“Ayo Yah! Lebih cepat jalannya!”

Di sebuah teras belakang yang sangat luas, berderet aneka macam alat musik gamelan. Lebih banyak dari yang pertama kali Jehan lihat. Para pemainnya sudah tentu lebih banyak juga. Jehan jadi semakin terkagum-kagum.

Apalagi ada di antara para pemain yang masih anak-anak juga. Tangan mereka lincah mengetuk papan tembaga pada perangkat gamelan.

Seorang kakak mendekati Jehan. Dia menunjuk peralatan gamelan yang sedang diperhatikan anak itu.

“Halo Dik, mau belajar main gamelan, ya?” sapa kakak berbaju adat Jawa itu dengan ramah.

Jehan mengangguk dengan bersemangat.

“Ini namanya Demung, yang itu Saron. Kalau yang kecil ini, namanya Peking. Adik mau coba?”

Kakak yang baik hati itu membimbing Jehan untuk duduk di posisi yang benar di belakang Peking, lalu memberikan alat pemukulnya. Tangan kanan si kakak menggenggam tangan kecil Jehan yang memegang pemukul dan menggerakkannya mengikuti irama. Sedang tangan kirinya berpindah-pindah bergantian memegang bilah tembaga yang baru saja diketuk.

“Ayah! Lihat!” Jehan tertawa lebar pada ayah yang sibuk memotret aksi anak gadisnya.

Hari itu sangat menyenangkan untuk Jehan. Dia bisa begitu dekat dengan sesuatu yang dia inginkan sejak lama. Esok hari, di sekolah, Jehan punya banyak cerita untuk dibagi pada teman-temannya. []

Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

Reviewer: Seno NS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *