[Cernak] Mukjizat Untuk Papaku

Aku anak tunggal. Aku masih kelas lima SD. Meskipun demikian, aku anak mandiri. Aku bisa membantu memasak ataupun bersih-bersih rumah. Selain itu, aku juga terbiasa merawat papa.

Papaku sedang sakit. Sudah tiga bulan ini, beliau hanya berbaring di tempat tidur. Beliau sudah tidak mampu untuk beraktifitas.

Mamaku seorang guru SD. Beliau termasuk guru teladan. Banyak prestasi diraihnya. Meskipun sibuk, Mama tidak pernah meninggalkan tugas seorang ibu. Beliau selalu melaksanakan tugas sebagai ibu maupun sebagai isteri.

Mama sangat telaten dalam mendampingi dan merawat Papa. Sebelum berangkat sekolah, beliau memandikan Papa terlebih dahulu. Selesai mandi, Mama menyuapinya. Setelah itu, baru berangkat mengajar.

Selama Mama mengajar, aku menemani Papa. Kebetulan, aku masuk sekolah pada siang hari. Keperluan Papa selalu aku siapkan.

Kami selalu rukun dan taat beribadah. Sesibuk apapun, kami tak pernah lupa untuk sembahyang. Meskipun sakit, Papa sering memimpin doa untuk kami. Tengah malam pun kami selalu doa bersama.

Pada malam hari, aku dan Mama mendekati Papa. Mama ingin menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan tugas dinasnya.

“Pa, minggu depan, Mama ditugaskan ke Singapura. Bagaimana pendapat Papa? tanya Mama.

“Iya, tidak mengapa. Papa mengizinkan Mama pergi.”

 “Lalu, bagaimana dengan Papa?”

“Papa tidak apa-apa. Tugas yang Mama emban itu sangatlah langka. Tidak semua guru mendapat kesempatan seperti itu, loh. Berangkatlah!”

“Begini saja… bagaimana kalau Papa dirawat Bude Minah? Beliau juga sudah kita anggap sebagai keluarga.”

Papaku mengangguk sambil tersenyum. Meski kondisinya lemah, rasa bangga terlihat di raut wajahnya.

Hari yang ditentukan tiba. Mamaku sudah akan berangkat ke Singapura. Selama ditinggal Mama, Papa dirawat oleh Bude. Meskipun demikian, pengelola keuangan keluarga diserahkan ke aku.

“Dira… Mama titip uang untuk keperluanmu dan Papa. Selama Mama tidak di rumah, bantu Bude Minah,” kata Mama padaku.

“Baik, Ma. Nanti, uang itu aku taruh di kaleng bekas susu saja. Kemudian,  kuletakkan di atas kulkas.”

“Jika Bude Minah akan berbelanja, biar langsung mengambilnya. Uang yang lainnya, aku simpan di lemari bajuku,” lanjut Dira.

“Ya, itu juga baik. Jika uang yang ada di kaleng itu tinggal sedikit, bisa kamu isi lagi.”

“Baik, Ma. Doakan kami baik-baik saja, ya. Begitu juga dengan Mama.”

Selama Mama pergi, kondisi Papa semakin melemah. Bude Minah mengusulkan untuk membawa Papa ke rumah sakit. Aku mencoba telepon Mama. Dari sana, Mama memintaku untuk menyetujui saran Bude Minah.

Sesampai di rumah sakit, Papa langsung dibawa ke ruang isolasi. Ruang isolasi adalah ruang khusus untuk pasien yang darurat. Tidak setiap orang boleh berkunjung ke ruang tersebut. Hanya aku dan Bude yang diperbolehkan menunggu di ruang itu. Papa dirawat dengan intensif.

“Dira…, bagaimana kondisi papamu?” tanya Mama lewat telepon.

“Papa sudah agak baikan. Papa juga sudah mau makan, kok.”

“Meskipun berjauhan, satukan hati untuk selalu berdoa bersama. Mama doa dari sini, kamu dan Papa dari sana, ya?”

“Iya, Ma.”

Dua hari kemudian, Mama pulang. Dari bandara langsung menuju rumah sakit. Setelah melihat kondisi Papa yang sudah membaik, Mama lega.

“Kamu pulang saja, Dik. Kondisi suamimu sudah membaik. Silakan istirahat di rumah saja dulu. Besok pagi barulah ke sini,” kata Bude Minah kepada Mama.

Setelah mendapat izin Papa, Mama istirahat di rumah. Jadi Mama dapat beristirahat cukup terlebih dahulu. Setelah doa bersama, Mama pun pulang.

Esok harinya, Mama datang ke rumah sakit. Semenjak itu, Mama selalu tidur di rumah sakit untuk menjaga Papa. Hari berganti, kondisi Papa semakin membaik. Namun, di hari ke-7 di rumah sakit, kondisinya mulai memburuk lagi. Papa harus dirawat ke ICU.

Di malam itu, aku dan Mama berdoa demi kesembuhan Papa. Kami pasrahkan kondisi Papa kepada Tuhan.

Di pagi harinya, aku dan Mama diminta perawat masuk ke ruang ICU. Kami dapati senyum ceria di mulut Papa.

“Pagi, Pa,” sapaku sambil mencium tangan Papa.

Papa mengangguk sambil menepuk-nepuk tanganku.

“Ma… sungguh luar biasa. Ini mukjizat, Ma. Tanpa campur tangan Tuhan, kondisi Papa tidak akan seperti ini.”

“Iya, benar katamu, Dir. Puji Tuhan, papamu mampu melewati masa kritis.”

Sungguh ajaib kuasa-Nya. Dua hari kemudian, Papa sudah diperkenankan keluar dari ruang ICU. Papa dipindah ke ruang perawatan. Setelah beberapa hari, kondisinya semakin membaik. Papa sudah diperkenankan pulang ke rumah. Papa sudah mampu berjalan dan beraktifitas ringan.

***

Ulasan Hikmah:

Kekuatan doa mampu mengubah sesuatu hal yang tidak mungkin menjadi kenyataan. Kekhusyukan dan kepasrahan dalam berdoa, mampu mewujudkan mukjizat.

Ditulis oleh: Eti Daniastuti

Baca Juga:   Curahan Hati Generasi Milenials

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *