[Cernak] Momo

Siang itu, Gilang dan Egi pulang sekolah bersama. Tiba-tiba Gilang menghentikan laju sepedanya. Sontak Egi kaget.

“Egi, ada kucing terjebak di dalam selokan.” Tanpa berkata-kata, Gilang masuk selokan dan mengambil kucing manis yang terjebak itu.

“Hati-hati, Gilang!” seru Egi.

Akhirnya Gilang bisa membawa kucing yang berbulu unik itu naik ke atas jalan. Sepertinya, kucing ini perbaduan kucing jawa dan persia.. Bulunya panjang-panjang, dan warnanya hitam dan kuning keemasan.

“Cantik, kan, Gi? Aku namai dia Momo.”

***

“Ibu, lihat yang aku bawa, aku sudah menyelamatkannya dari selokan loh, Bu.” Dengan bangga, Gilang menunjukkan Momo kepada Ibu.

“Cantik sekali kucingnya,” kata Ibu

“Bu, aku boleh memeliharanya, kan?” pinta Gilang.

“Tapi Ayah tidak suka pada kucing, nanti tunggu Ayah pulang. Sekarang biar Momo kita keringkan dulu, kasihan dia kedinginan.” Ibu kemudian memberi kain yang sudah tidak terpakai, untuk mengeringkan Momo.

***

Saat Ayah pulang, Gilang langsung berlari memburunya. “Ayah, bolehkah aku memelihara Momo?”

“Momo, siapa?” tanya Ayah bingung.

Gilang menceritakan semua kejadian sepulang sekolah. Awalnya, Ayah tidak setuju jika Momo dipelihara. Ayah tidak menyukai bulunya yang sering kali rontok di mana-mana. Tapi, setelah Gilang mengikuti persyaratan Ayah, akhirnya Momo boleh dipelihara. Momo boleh dipelihara, asal Momo tidak masuk ke rumah, jadi Momo hanya diperbolehkan tinggal di garasi.

“Asyik, Momo boleh dipelihara,” Gilang terlihat sangat bahagia.

Gilang menggendong Momo, dan menaruhnya di garasi depan. Bocah gendut itu memang sangat kreatif, dia membuat kandang sementara untuk Momo. Kandang Momo terbuat dari kardus. Tentunya, Gilang membuat kandang Momo dibantu oleh Ayah.

Sebelum tidur, Gilang pun menengok Momo. Dia sangat sayang dengan kucing manis itu. “Momo, selamat tidur.” Seraya Gilang menyelimuti Momo dengan kain, dia tidak mau Momo kedinginan.

Pagi hari, saat Gilang akan berangkat sekolah pun, dia menjenguk Momo terlebih dahulu. “Momo, kamu baik-baik, ya. Ini ada makanan, jangan lupa dimakan. Aku berangkat sekolah dulu.”

Momo bersuara, seolah paham dengan kata-kata Gilang.

***

Sepulang sekolah, Gilang sangat kaget karena Momo tidak ada di kandangnya. Dia mencoba mencarinya di kolong kursi depan rumah, siapa tahu Momo sedang sembunyi. Tapi, setelah di cari ke mana-mana, Momo tidak ditemukan.

“Bu, Momo ke mana, ya? Momo tidak ada di kandang,” rengeknya.

Ibu meminta Gilang untuk mencari lebih teliti.

“Momo sudah aku cari ke mana-mana, Bu. Tapi, tidak ada. Mungkin, Momo pergi ya, Bu? Dia tidak betah dengan kita,” jawab Gilang. Nampak wajah Gilang yang sedih karena kepergian Momo yang tidak dia duga.

“Ya sudah, mudah-mudahan Momo cepat kembali. Ayo! Makan dulu, ini Ibu sudah siapkan makan siang.”

Gilang pun mengikuti ibunya untuk makan siang, meski selera makannya tiba-tiba hilang. Tapi, dia tetap harus makan.

***

Pagi harinya, Ibu panik saat membangunkan Gilang. “Ya Allah, Gilang badan kamu demam, Nak.”

“Momo! Momo!” terdengar Gilang menginggau menyebut Momo.

“Momo pasti pulang, Nak,” kata Ibu sambil mengompres Gilang dengan handuk panas.

Gilang sedikit membuka matanya. “Ibu, Momo sudah pulang?”

“Belum, Sayang. Tapi, percayalah, Momo pasti akan pulang. Gilang jangan lupa berdo’a, agar Momo baik-baik saja.”

“Tapi, aku sangat menyayangi Momo, Bu.”

Badan Gilang semakin demam, Ibu dan Ayah membawa Gilang ke dokter. Awalnya, Gilang tidak mau dibawa ke dokter. Tapi, setelah dibujuk Ayah, kalau Momo akan kembali, akhirnya dia mau. Dia sakit karena memikirkan kepergian Momo. Kecintaannya kepada hewan peliharaannya, membuat badannya juga ikut merasakan sedih.

***

“Meong…, meong….” Suara itu menyambut kedatangan Gilang setelah periksa ke dokter.

“Momo!” Gilang langsung berlari menghampiri kucing manis yang membuatnya sakit.

“Momo, akhirnya kamu pulang. Kamu sudah makan? Kamu semalam tidur di mana? Mengapa kamu tiba-tiba pergi dari rumah?” pertanyaan panjang Gilang kepada Momo, seolah kucing itu paham maksudnya.

Gilang terlihat bahagia karena kedatangan Momo.

Tiba-tiba, Ayah memeluk Gilang. “Nak, maafin Ayah, ya? Sebenarnya kemarin yang mengambil Momo adalah Ayah. Ayah ingin sekali menjaga kesehatanmu dari bulu Momo.”

Sebenarnya, Ibu mengetahui tentang ini tapi hanya pura-pura tidak tahu. Setelah itu, Ayah percaya kalau Gilang bisa berhati-hati selama bermain dan merawat Momo.


Ditulis oleh: Sifa Dila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *