[Cernak] Misteri Sandal Biru

Sumber gambar: serujambi.com

Lia uring-uringan. Sandal barunya hilang sebelah. Ini sudah ketiga kalinya dalam satu bulan terakhir.

“Huuh, sebel!” Lia menggerutu sambil terus mencari-cari sandal biru itu.

 Semua sudut halaman sekolah ditelusuri. Bak sampah, parkiran, belakang kelas bahkan sampai ke gudang sekolah. Namun tak tampak juga sandal itu.

“Sudah yuk Lia, sebentar lagi bel masuk,” ujar Nadia yang sedari tadi menemani.

“Tapi sandalku belum ketemu, Nad,” jawab Lia sambil cemberut. Pipinya menggembung menahan marah.

“Eh, jangan marah dong, aku ‘kan bantu kamu dari tadi,” sahut Nadia.

“Maaf ya, aku nggak marah sama kamu kok. Cuma kesal aja. Siapa sih yang mengambil sandalku. Masa sudah tiga kali hilang terus,” gerutu Lia lagi.

Bel berbunyi tanda istirahat usai. Lia dan Nadia bergegas masuk kelas. Pelajaran matematika hari itu sebenarnya seru karena Bu Rima mengadakan kuis tentang perkalian. Lia biasanya suka sekali pelajaran matematika, dan selalu antusias jika Bu Rima mengadakan kuis. Tapi gara-gara sandal itu Lia jadi tidak bersemangat.

Bu Rima rupanya memperhatikan Lia yang sedang lesu. Saat pelajaran usai, Bu Rima menanyakan keadaannya. Lia diam tak menjawab. Hampir saja air matanya tumpah, tapi Lia menahan sekuat tenaga.

“Sandalnya hilang lagi, Bu,” Nadia yang berdiri di samping Lia menyahut.

“Benar begitu Lia?” Bu Rima mencoba memastikan.

Lia hanya mengangguk lemah. Karena Lia belum mau bicara, akhirnya Bu Rima meminta Nadia menceritakan tentang kejadian itu.

***

Esoknya, Bu Rima menyampaikan kabar hilangnya sandal milik Lia. Kelas 3B menjadi riuh. Ternyata bukan Lia saja yang kehilangan sandal. Ibnu, Hildan, Laras, Alfi, Rasya dan Cleo juga mengalami hal serupa. Rio dan Raka tampak berbisik-bisik saat Bu Rima berbicara.

“Rio dan Raka, kalian sedang bisik-bisik tentang apa?” tanya Bu Rima tegas.

“Kalau ada yang mau diceritakan, bicara saja, biar teman-teman yang lain juga mendengar.”

Rio menyuruh Raka bicara, tapi Raka minta Rio yang bicara. Karena tak ada yang mau mengalah akhirnya Bu Rima meminta Rio berbicara dulu.

“Ayo Rio, kamu duluan yang bicara!” perintah Bu Rima.

“Eh … kemarin waktu pulang sekolah saya sama Raka melihat beberapa anak kelas 5 di lapangan dekat kebun belakang sekolah. Mereka sepertinya sedang bermain dengan sandal-sandal,” Rio menjelaskan.

“Kamu yakin mereka anak kelas 5?” tanya Bu Rima.

“Iya Bu, Raka juga lihat kok. Ada Banu dan Ismet di sana,” jawab Rio menyebut dua nama siswa kelas 5 yang dikenalnya. Raka mengangguk-angguk.

***

Siang itu, setelah kelas usai Bu Rima mengajak Rio, Raka, Lia, dan Nadia ke kebun belakang sekolah. Lapangan di dekat kebun itu memang sepi, anak-anak jarang main di sana. Dari kejauhan terdengar suara beberapa anak sedang asyik bermain. Nampaknya seru sekali permainan mereka. Ada lima orang anak yang bermain di sana.

Rupanya anak-anak itu sedang bermain sepak sekong, permainan lempar-lemparan dengan sandal. Lia hampir saja berteriak saat melihat sandal birunya yang hilang, untung saja Nadia berhasil menahannya.

“Waah! Asyik sekali, ya, mainnya?” sapa Bu Rima.

Kelima bocah itu terkejut melihat kedatangan Bu Rima. Mereka pun berhenti bermain. Anak-anak itu tampak bingung, dan hampir saja melarikan diri, tapi Bu Rima berhasil mencegahnya.

Bu Rima mengajak semuanya untuk duduk di bawah pohon mangga di pinggir lapangan.  Banu, Ismet, Adi, Nuri, dan Kevin duduk di hadapan Bu Rima sambil menunduk, tak berani memandang Bu Rima. Sedangkan Rio, Raka, Lia dan Nadia duduk di samping Bu Rima.

“Banu, Ismet, Adi, Nuri dan Kevin, kalian tahu kenapa Bu Rima ke sini dengan anak-anak ini?”

“Eh … tahu, Bu,” jawab Banu. “Ibu sedang mencari sandal-sandal itu ‘kan?”
“Kok kamu tahu Ibu mencari sandal-sandal itu?”

“Karena … eh … kami pinjam sandalnya untuk main, Bu,” sahut Ismet sambil menggaruk kepalanya.

“Pinjam? Kalian sudah ijin sama pemilik sandal itu?”

“Ehm … belum sih, Bu,” kata Ismet lagi.

“Kalau mengambil tanpa ijin itu berarti apa?”

“Pencuri, Bu,” serempak Rio, Raka, Lia dan Nadia menjawab.

“Kita bukan pencuri, kok,” Banu merasa tidak terima.

“Tapi ‘kan kamu ambil sandal tanpa ijin, itu mencuri namanya,” jawab Lia kesal.

“Sudah-sudah tidak usah ribut!” Bu Rima melerai. “Sekarang bagaimana? Banu, Ismet, Adi, Nuri, dan Kevin, kalian sudah tahu kesalahan kalian?”

“Iya, Bu. Kami minta maaf,” sahut Banu dan Ismet, sementara Adi, Nuri dan Kevin mengangguk-angguk saja.

“Lain kali kalau ingin bermain, bermainlah tanpa merugikan orang lain, ya. Kasihan tuh teman-teman yang kehilangan sandalnya. Sekarang kalian harus bertanggung jawab mengembalikan sandal-sandal itu.”

Banu, Ismet, Adi, Nuri dan Kevin bergegas mengumpulkan sandal-sandal yang bertebaran di lapangan. Lia segera berlari mengambil sandal birunya, ternyata sandal-sandal yang lain juga ada di situ. Lia senang sekali bisa menemukan sandal kesayangannya lagi. 



Ditulis oleh: Maya Romayanti

16 thoughts on “[Cernak] Misteri Sandal Biru”

  1. Haha kejadiannya pernah kualami. Bedanya ini waktu TPA.
    Sebagian sendal hilang, eeh dimainkan anak-anal lainnya di belakang Masjid. Haha
    Hidup itu asyik 😀

  2. Sepak sekong?
    Kok baru denger ya?

    Ceritanya idup banget. Jailnya anak-anak kebayang banget.
    Dulu juga punya temen jail. Tapi bukan ngumpetin sandal.

    Keren Miss Maya. Syukak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *