[Cernak] Mela Ingin Cantik

Mela duduk di kelas enam sekolah dasar.  Orang tuanya bekerja sebagai penjual susu segar. Susu segar tersebut diambil dari peternakan sapi milik ayah Nadia. Karena ekonomi keluarga pas-pasan, uang saku yang diterima Mela juga sedikit. Kadang-kadang kalau susu yang dijual bapak tidak laku, gadis berambut poni itu tidak diberi uang saku.

Anak perempuan berkulit putih itu sering mengeluh jika tidak ada uang saku untuknya. Hari ini pun dia tidak mendapat jatah untuk jajan. Sejak subuh hingga jam enam, bapak Mela belum mendapatkan uang. Susu yang dijual belum laku, beberapa termos yang dibawa masih utuh.

“Maaf, Nak. Hari ini tidak ada uang jajan untukmu. Susu yang Bapak jual masih banyak. Ini akan Bapak kembalikan ke Juragan Nono,” kata Pak Darto, orang tua Mela.

“Yah, kapan aku bisa jajan enak dan beli baju yang bagus,” celetuk Mela.

Dengan wajah bersungut, Mela mengemasi peralatan sekolahnya. Ia siap berangkat ke sekolah dengan sepeda butut. Walau tanpa uang saku, Mela tetap berangkat ke sekolah. Ia mengayuh sepeda tanpa semangat.

Beberapa menit kemudian, Mela sampai di sekolah. Ia menuju kelas yang terletak paling ujung sebelah timur. Belum sempat meletakkan tas di laci, ia sudah disambut Nadia.

“Assalamualaikum, Mela. Kamu sudah beli baju untuk acara ulang tahun Melisa belum? Waktunya tinggal satu minggu lagi, lho,” kata Nadia, teman sekelasnya.

Mela hanya terdiam dan tertunduk saja. Matanya tidak berani menatap pandangan Nadia. Mulut pun terasa kelu dan bisu. Ia kerap merasa iri dengan Nadia. Teman Mela itu, selalu mengenakan baju yang indah dan sepatu yang keren. Meski sebenarnya Mela tidak kalah cantik, namun ia terlihat lebih lusuh daripada Nadia. Setiap ada acara ulang tahun teman, Mela hanya mengenakan kaus dan celana jeans, serta sandal jepit yang sudah usang.

Karena rasa iri yang dimiliki, maka Mela ingin menyaingi Nadia. “Semua teman memuji dia karena baju dan sepatunya yang indah serta jam tangan yang mahal. Coba jika aku memakai baju, sepatu dan jam tangan yang sama, pasti teman sekelas akan memujiku,” pikir Mela.

Sejak kejadian di sekolah itu, Mela mulai menabung. Ia ingin dapat menandingi penampilan Nadia yang cantik. Uang yang dimiliki pun dihemat agar dapat membeli baju dan sepatu yang cantik. Biasanya, jika diberi uang jajan, Mela langsung menggunakan semuanya untuk membeli makanan. Ia tidak pernah menyisihkan sedikit pun untuk membeli alat tulis apalagi baju.

Saat istirahat tiba, Nadia menghampiri Mela yang masih duduk termangu. Ia ingin mengajak gadis berwajah oval itu jajan.

“Ayo kita ke kantin, Mel. Nanti jajanannya keburu habis.”

“Kamu saja, Nad. Aku masih kenyang. Buruan, nanti ketinggalan sama mereka, loh,” jawab Mela sambil

menunjuk teman kelas enam yang menuju kantin sekolah.

Kali itu Mela menolak diajak ke kantin karena ia tidak membawa uang. Tapi esok hari dan seterusnya Mela bertekad tidak akan membeli jajan juga. Ia akan menghemat uang saku dengan menabung di sebuah celengan. Hal ini ia lakukan demi sebuah baju pesta yang cantik.

Tapi celengan ayam milik Mela tidak juga penuh. Sudah berbagai cara dilakukan,  namun uang tabungan masih sedikit. Wajah Mela semakin pucat, badan juga semakin lesu. Banyak tenaga yang dikeluarkan untuk kegiatan di sekolah. Tetapi energi yang masuk ke dalam tubuh kurang. Namun ia tidak akan menyerah begitu saja. Gadis berparas ayu itu selalu membayangkan memiliki baju yang indah. Baju yang bisa menyamai milik Nadia. Harapannya ia bisa tampil cantik dan dipuji oleh teman sekelasnya.

Akibat kekurangan energi dan tubuh semakin lemas, akhirnya Mela jatuh sakit. Ia merasakan sakit perut juga sehingga kini terbaring tak berdaya.

Pak Darto segera membawa Mela ke puskesmas.

“Kenapa anak saya, Dok?” tanya Pak Darto.

“Nggak apa-apa. Anak Bapak hanya butuh istirahat, makan yang cukup dan teratur,” jelas Bu Rina, dokter puskesmas.

Selesai memeriksa Mela, dokter puskesmas itu segera memberikan resep obat kepada Pak Darto.

“Ini resepnya. Silakan diambil di apotek. Jangan lupa makan yang cukup,  bergizi, dan teratur, ya!” pesan Bu Rina kepada Mela.

Mela tak menjawab pesan yang disampaikan dokter Rina. Gadis yang berwajah pucat itu hanya mengangguk pelan. Kemudian meninggalkan ruang periksa bersama bapaknya.

Mela segera pulang setelah mendapatkan obat. Langkah kakinya gontai ketika keluar dari puskesmas. Pak Darto mengiringi putrinya di belakang. Laki-laki berbadan tegap itu merasa heran dengan keadaan Mela. Padahal makanan yang disediakan di rumah cukup. Uang jajan untuk di sekolah, kadang-kadang juga diberi. “Tetapi mengapa Mela bisa sakit?” pikir Pak Darto.

Sampai di rumah, Pak Darto mendekati Mela. Ia menanyakan tentang penyebab sakit anaknya.

“Ada apa denganmu, Nak? Kenapa kamu sakit?”

Mela lalu menceritakan semua kepada orang tuanya.

Pak Darto hanya bisa menggelengkan kepala dan berkata, “Nadia itu kan orang kaya. Kamu tidak akan bisa menyainginya. Ia punya banyak uang untuk beli baju dan segala macam agar tampil cantik. Sedangkan keadaanmu sekarang belum mampu untuk itu. Kita terima saja. Mari kita syukuri dan terus berusaha. Tetapi jangan sampai mengorbankan kesehatan kita.”

Mela mengangguk lemah mengiyakan nasihat baik itu. Kata Bapak itu benar. Memang sebaiknya Mela menerima keadaan dan tidak iri dengan keberadaan dan keberuntungan orang lain.*)

 

Ditulis oleh: Suprapti

Reviewer: Oky E. Noorsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *