[Cernak] Lukisan Impian

“Hu, lukisan seperti ini mau ikut lomba?” ejek Zulfa sambil mengibaskan gambar kertas Atik. “Ngaca dong, Tik! Kalau aku malu punya lukisan seperti ini. Pantas kamu tidak pernah jadi juara.”

Atik merasa malu mendengar ejekan Zulfa. Ia tak menyangka jika ada teman yang tega mengejeknya. Padahal segala usaha telah dilakukan. Berbagai lomba lukis telah ia ikuti. Namun belum mendapat kejuaraan satupun.

“Nggak usah sedih, Tik. Masih ada harapan,” hibur Ira.                                              

“Aku nggak sedih, Ir. Tetapi, caranya memberi kritikan, aku tidak  suka. Terlalu pedas jika dirasakan,” ujar Atik menahan rasa sedih dan kecewa.

“Ya sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Jadikan ini sebagai cambuk untuk giat belajar,” kata Ira menasihati.

Atik memang suka melukis. Ia sering membuat sketsa lukisan. Tetapi sketsa yang ia buat kadang tidak selesai menjadi lukisan. Kadang-kadang satu lukisan belum selesai, ia ganti membuat sket lukisan yang lain. Oleh karena itu, hasil lukisannya kurang bagus. Walau demikian, hati kecilnya masih ingin mengikuti lomba. Ia mencoba membuat lukisan lagi.

Beberapa jam kemudian, lukisan yang di buat Atik  selesai. Hati Atik pun lega, karena lukisannya sudah jadi.

‘‘Hah, lega rasa hatiku. Akhirnya lukisanku jadi juga,’’gumam Atik.

‘‘Wah, lukisanmu sangat bagus, Tik,” puji Ira sambil memandang lukisan Atik.

‘‘Cuma lukisan seperti itu saja kagum,” kata Zulfa dengan nada mengejek.

‘‘Jangan begitu Zul, belum tentu kamu bisa membuat lukisan seperti itu,” sergah Ira.

 ‘‘Bisa saja! Masa, cuma lukisan seperti itu saja nggak bisa?” ucap Zulfa.

‘‘Ya, sudah jangan bertengkar mempermasalahkan lukisan,” pinta Atik.

Atik sangat sedih, karena lukisannya selalu diejek oleh Zulfa. Rasanya lukisan hasil karyanya tidak pantas dihargai. Kadang ada rasa malas untuk menyudahi karyanya. Ia tidak ingin mengikuti lomba lagi.

“Tik, hari Minggu besuk ada lomba melukis  di taman kota. Kamu daftar, nggak?” tanya Ira.

“Lukisanku tidak sebagus lukisan Zulfa, Ir. Aku takut mengikuti lomba itu,” jawab Atik dengan nada lirih.

Atik hampir  menyerah. Ia sadar bahwa lukisannya tak sebagus lukisan Zulfa. Namun, Ira selalu memberikan semangat untuk temannya.

“Kamu jangan putus asa begitu, masih ada cara untuk meraih cita, lho,” hibur Ira.

“Memang kamu tahu caranya?” desak Atik.

“Tahu aja. Ayo ikut ke rumahku!” ajak Ira.

“Ada apa di rumahmu? Alat lukis yang canggih? Atau ?” Belum selesai Atik bertanya, Ira sudah menyahut tangannya. Ira menggandeng tangan Atik untuk diajak ke rumahnya. Atik tidak menolak ajakan Ira. Ia hanya menurut saja. Seperti kata peri bahasa bagai kerbau dicocok hidungnya.

Setelah tiba di rumah Ira, Atik duduk di teras, sementara Ira masuk ke dalam. Ia ditinggal sendirian. Ia bingung dengan tingkah Ira yang tidak ia mengerti. Beberapa saat menunggu, dari dalam rumah muncul seorang pria yang berambut gondrong. Ira mengikuti di belakang pria tersebut.

“Perkenalkan, Tik. Ini pamanku. Om Jaya. Ia seorang seniman lukis yang terkenal. Kamu bisa belajar melukis dari omku,” jelas Ira.

“Kamu ingin menjadi pelukis, Dik?” tanya Om Jaya.

“Iya, Om. Apakah Om Jaya mau mengajariku?” pinta Atik.

‘Oh, tentu saja mau,” jawab Om Jaya.

Atik yang hampir menyerah akhirnya bersemangat lagi. Ia mulai bertanya kepada paman Ira. Pertanyaan yang diajukan seputar teknik melukis. Om Jaya dengan sabar memberi penjelasan kepada Atik. Ia juga disuruh praktik melukis menggunakan alat lukis milik pria berpenampilan nyentrik itu. Atik mendapat bimbingan melukis dari Om Jaya.

Selesai belajar dari Om Jaya, kepercayaan diri Atik mulai terbangun. Dirinya berani mengungkapkan pikirannya melalui goresan warna. Ia semakin tekun berlatih melukis. Tangannya sudah terampil mengusapkan kuas di atas kanvas. Lukisan yang dibuat Atik semakin berkualitas. Bentuk, komposisi, dan pewarnaannya bagus. Lukisan- lukisan natural yang menjadi kesukaannya.

Hasil karya Atik ada beberapa yang dipajang di rumahnya. Dengan pembingkaian yang rapi, ia tempelkan di beberapa sudut rumahnya. Lukisan-lukisan itu sangat cocok penempatannya. Lukisan sederhana yang menggambarkan suasana alam pedesaan. Siapapun yang melihatnya pasti akan senang dan ikut merasakan suasana pedesaan.

“Tik, sudah daftar lomba belum?” tanya Ira mengingatkan temannya.

“Lomba melukis di taman kota itu?” tanya Atik kemudian.

“Iya. Segera daftar! Jangan sampai terlambat,” kata Ira mengingatkan.

“Apakah Zulfa sudah tahu tentang lomba ini?” kata Atik penasaran.

“Kamu nggak usah mikir Zulfa. Bukankah dia yang selalu mengejek lukisanmu?” sahut Ira.

“Ya, jangan begitu, Ir. Dia tetap teman kita,” kata Atik.

“Dia sudah daftar lebih dulu. Tetapi dirinya tidak mau memberi tahu kamu,” ujar Ira.

“Ya, baiklah aku akan segera mendaftar. Aku akan menghubungi panitia lewat HP saja,” kata Atik.

Waktu lomba pun tiba. Atik berangkat lebih awal. Hal ini ia lakukan agar tidak terburu-buru. Ia akan lebih tenang dan santai mengikuti lomba.

“Mana Zulfa? Lomba hampir dimulai, kok dia belum datang,” pikir Atik sambil mencari sosok yang dicarinya. Namun ia tidak menemukan Zulfa padahal lomba akan dimulai.

Panitia sudah membuka acara lomba lukis di taman kota. Lomba lukis segera dimulai.  Sudah hampir berjalan lima belas menit, ternyata Zulfa baru datang. Ia tergopoh-gopoh mencari tempat untuk melukis. Tanpa basa-basi Zulfa langsung melukis karena ia sudah terlambat.

Setelah  dua jam kemudiian, akhirnya waktu yang ditentukan panitia telah usai. Semua hasil lukisan peserta lomba dikumpulkan. Mereka tinggal menunggu pengumuman kejuaraan.

Beberapa saat setelah penantian, akhirnya dewan juri mulai mengumumkan hasilnya. Hati Zulfa dan Atik merasa berdebar-debar. Juara tiga dan dua telah diumumkan. Tidak ada nama keduanya disebut.

“Juara satu lomba melukis kali ini diraih oleh ananda Atik,” teriak Juri.

“Hai, selamat ya, Tik. Kamu berhasil jadi juara,” ucap Zulfa sambil menyalami Atik.

“Terima kasih Zul,” jawab Atik.

“Maafkan aku ya, Tik. Selama ini aku selalu mengejek dan meremehkanmu,” pinta Zulfa.

“Ya, nggak apa-apa. Aku sudah memaafkanmu,” ujar Atik.

“Aku sadar bahwa lukisanku tidak sebagus lukisanmu,” kata Zulfa menahan rasa sedih.

“Lukisanmu juga bagus. Mungkin karena kamu terlambat dan tergesa-gesa membuatnya. Jadi, hasilnya kurang maksimal. Aku berterima kasih padamu, Zul. Tanpa kau ejek mungkin aku tidak dapat membuat lukisan yang bagus dan meraih juara. Inilah salah satu lukisan yang selalu kuimpikan. Lukisan yang dapat meraih kejuaraan,” pungkas Atik membesarkan hati Zulfa dan sekaligus menyampaikan rasa terima kasihnya.*)

Ditulis oleh: Suprapti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *