[Cernak] Ketika Ibu Pergi

Angga memasuki rumah dengan tergesa, dia melepas sepatu, lalu ditinggal begitu saja. Kemudian dia melempar tas ke sembarangan tempat. Sejak pulang sekolah, dia sudah tidak sabar untuk melanjutkan permainan video yang biasa dimainkannya. Anak laki-laki itu kini duduk manis di depan televisi, asyik bermain playstation.

Suara Ibu yang berupa ajakan merapikan sepatu sampai makan siang dulu, tidak dilaksanakan oleh Angga. Anak laki-laki itu merasa berat untuk meninggalkan permainannya meski sebentar, “Nanti, Bu.” Hanya itu yang dia ucapkan.

Mendengar apa yang diucapkan anaknya, Ibu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, menyerah dengan sikap buruk Angga yang satu ini.

***

Clep! Layar televisi menghitam. Angga juga melihat arah kipas angin yang kini melambat. “Ugh! Pakai mati listrik lagi!” Anak delapan tahun itu kesal, lalu dia melihat jam sudah menunjukkan setengah tiga. “Bu…! Makan sama apa?” teriak anak itu.

Hening. Lagi dia mengulang pertanyaan yang sama. Tetap sama, tidak ada respon dari Ibu. Angga memutuskan untuk berdiri, lalu berjalan menuju dapur. Tapi, tempat biasa ditemukan Ibu itu sepi, tidak ada siapa-siapa.

“Ibu di mana?” Anak itu terus berkeliling mencari ibunya. Ke kamar mandi, ruang tamu, sampai kembali ke dapur lagi.

Ah, mungkin Ibu sedang belanja, pikirnya. Kemudian Angga pun menuju meja makan, dan membuka tudung saji dari anyaman bambu tersebut. Dia kaget dengan apa yang dilihatnya. Hanya ada piring yang kosong!

“Kok, kosong? Seingatku, Ibu tadi menyuruh aku makan, deh,” gumam anak itu sambil garuk-garuk kepala.

Angga pun menuju lemari es dan melompat-lompat untuk melihat isi lemari piring. Dia sedang mencoba mencari-cari makanan yang kemungkian disembunyikan oleh ibunya.

Dia buka lagi isi kultas ada banyak telur. Angga mengambil satu butir, dia ingin memasak sendiri. Tiba-tiba anak laki-laki itu pun teringat pesan ibunya untuk tidak menyalakan kompor kalau sedang sendirian di rumah. Angga pun menaruh kembali telur itu.

“Ibu!” Angga menangis karena bingung dan takut. Perutnya berkali-kali mengeluarkan bunyi. Angga dengan terisak menuju ruang tengah untuk menunggu Ibu pulang.

***

Sudah hampir satu jam, Ibu belum pulang-pulang juga. Sampai Angga tertidur pulas di karpet. Mendapati Angga yang tergeletak membuat Ibu tersenyum iba, “Angga… Angga…, coba kamu tadi menurut apa kata Ibu,” gumam Ibu.

Ibu mendekat lalu menyentuh wajah anaknya yang tertidur, “Nak, bangun.” Ibu sengaja membangunkan Angga, karena tahu anak itu pasti belum makan. Ibu pun menggoyang-goyangkan tubuh anaknya.

Angga yang merasakan kehadiran ibunya, langsung bangun dan memeluk wanita yang disayanginya itu. “Ibuuu, ke mana aja, sih?” ucapnya setelah membuka kedua matanya.

“Ibu main juga dong, memang cuma kamu yang bisa main,” jawab Ibu santai.

“Angga lapar, Bu,” keluh anak itu.

“Ooh, lapar toh? Ibu kira bisa kenyang dengan main video game,” sindir Ibu.

Angga menggeleng. “Aah, Ibu gitu. Maafkan Angga ya, Bu.”

“Janji tidak mengulangi kebiasaan buruknya?” ujar Ibu menatap wajah Angga.

Anak itu kali ini mengangguk, tanda sepakat, “Janji, Bu.”

“Ya sudah, ini Ibu bawakan abon kesukaan kamu. Ayo, ke dapur,” ajak Ibu. Angga mengikuti dari belakang. Sesampainya di dapur, Ibu pun menuju rak piring mengambil dua mangkuk berisi lauk dan sayur.

“Loh! Tadi sudah Angga cari, kok tidak ketemu,” sesal Angga.

“Itu karena Angga mencarinya saat lapar, jadi tidak fokus, hihi.”

Setidaknya Angga sudah bisa tersenyum bahagia, Ibunya telah kembali. Dia pun segera mengambil sepiring nasi, ditambah dengan lauk, dan tidak lupa abon kesukaannya.

***

Keesokan harinya, sepulang sekolah, hal yang tidak biasa terjadi. Angga melepaskan sepatunya, lalu ditaruhnya di rak sepatu. Kemudian dia masuk kamar, untuk menaruh tas serta mengganti pakaian. Begjtu sampai di ruang tengah, anak itu hanya lewat sambil melirik playstation yang tergeletak di lantai.

“Ibu, Angga lapar,” ucap Anak itu lalu menuju Ibunya untuk cium tangan.

“Nah, gini kan, cakep anak Ibu,” ucap Ibu senang, melihat perubahan pada putranya. Kini sudah berganti pakaian, dan langsung mau makan lagi.

“Iya, Bu. Angga kapok, nanti ditinggal Ibu main lagi.”

“Hahaha….” Ibu tertawa geli mendengar celoteh anak tersebut.*)

Ditulis oleh: Nurwahiddatur Rohman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *