[Cernak] Ketika Bu Nana Cemas

 

Sumber gambar: thayyiba.com

Bu Nana mulai cemas. Sudah lebih dari sepuluh menit Nayla, anaknya belum kembali dari warung Bu Karto. Tadi Bu Nana meminta Nayla membeli gula pasir. Adonan kue yang sedang ia buat, membutuhkan lebih banyak gula. Warung Bu Karto tak jauh, hanya berjarak enam rumah saja. Biasanya Nayla hanya butuh sepuluh menit untuk pulang dan pergi. Tetapi mengapa sekarang dia pergi begitu lama? Ini di luar kebiasaan gadis kecil berkucir dua itu. 

Bu Nana menghentikan kegiatannya membuat adonan. Setelah membersihkan tangan dan melepas celemek, ia bermaksud menyusul Nayla. Namun, ia tercengang di halaman. Sepeda mini milik Nayla tersandar di pagar. Lantas, di manakah gadis kecil berumur delapan tahun itu?
 
“Nay …, Nayla! Di mana kamu, Nak?!” seru Bu Nana mulai was-was. 
Tak ada jawaban. Bu Nana semakin khawatir. Berbagai pikiran jelek memenuhi kepala ibu muda itu. “Ya, Allah. Lindungi anakku,” gumamnya lirih. 
Setengah berlari, Bu Nana mendatangi rumah Bu Indah, tetangga sebelah. Siapa tahu Nayla bermain di sana. Ceryl, anak sulung Bu Indah adalah teman sekelas Nayla. Mereka teman dekat. Biasanya mereka bermain bersama teman-teman satu kompleks lainnya.
“Nayla pergi sama Dila, Tante,” Ceryl menjelaskan. “Mereka boncengan.”
Bu Nana menelepon ke rumah Dila. Bu Reny, mamanya Dila mengatakan bahwa Dila juga tak ada di rumah. Dila dijemput Nayla lima belas menit yang lalu. Mungkin mereka bermain sepeda di lapangan, Bu Reny menduga-duga. Setelah dijelaskan panjang lebar, Bu Reny baru paham kenapa Bu Nana sangat cemas. Bu Reny pun ikut-ikutan panik.
“Kita susul ke warung saja,” usul Bu Reny kemudian.
Tergopoh-gopoh Bu Nana mendatangi warung Bu Karto di ujung kompleks. Bu Indah, Bu Reny dan Cyril ikut serta. Kepanikan Bu Reny membuat Bu Nana semakin cemas. Mendadak Bu Nana khawatir ada orang tak dikenal mengajak Nayla pergi. 
“Tadi Nayla dan Dila memang ke sini,” tutur Bu Karto setelah Bu Nana bercerita tentang hilangnya Nayla dan Dila. “Nayla tanya harga gula perkilo. Setelah saya jawab, dia bilang uangnya kurang. Saya bilang, bawa saja gulanya, uangya nanti. Eh, mereka malah pergi.”
“Saya memberinya uang untuk dua kilo gula, Bu Karto.”
“Uangnya hanya cukup untuk setengah kilo saja,” ujar Bu Karto lagi.
 
“Jangan-jangan Nayla jajan sembarangan, lalu takut pulang,” sahut Bu Reny.
Atas kesepakatan bersama, Bu Indah menemani Bu Reny mencari ke sudut-sudut kompleks. Tak ketinggalan, tempat-tempat bermain pun mereka datangi. Sementara itu, Bu Nana kembali ke rumah untuk memeriksa kamar Nayla. Siapa tahu ia kelelahan dan tertidur. Dan Bu Nana kaget luar biasa. Ia menemukan sebelah sandal Nayla di sisi ranjang tidurnya.
 
“Nay …, di mana kamu, Nak?!” seru Ibu berulang-ulang. 
Ibu memeriksa setiap sudut kamar. Tangisnya tak bisa ditahan lagi. Ia benar-benar panik saat ini. Saat itulah ia mendengar suara-suara mencurigakan dari dalam lemari pakaian. Tanpa berpikir panjang, perempuan itu segera membuka lemari kayu berukuran besar. 
“Nayla?! Dila? Apa yang kalian lakukan di sini?” Bu Nana benar-benar tak mengerti kenapa Nayla dan Dila ada di dalam lemari. “Ayok keluar, Nak.”
Wajah Nayla memerah. Ia menangis sambil mendekap celengan ayam. Sementara Dila hanya tertunduk takut. Bu Nana mulai membujuk keduanya untuk bercerita. Butuh waktu lama untuk menenangkan Nayla. Bu Nana meyakinkan keduanya bahwa ia sama sekali tak marah. 
“Maafkan Nayla, Bu …, Nayla yang salah,” Nayla memeluk ibunya dan mulai bercerita. “Tadi, di jalan kami ketemu ibu tua. Dia bersama anak perempuan seusia Nayla. Pakaian mereka kumal. Badannya kurus dan kotor. Waktu Nayla tanya, ibu itu malah nangis. Mungkin mereka lapar. Uang Ibu kami belikan dua bungkus nasi. Ibu itu menolak diberi uang, Bu.”
“Maaf, Dila yang menyarankan membeli nasi Padang,” sambung Dila.
“Ibu jangan marah ya,” rengek Nayla. “Uangnya akan Nayla ganti dari celengan ini.”
Bu Nana tak bisa menahan air mata. Ia terharu. Dibelainya kepala Nayla dan Dila dengan rasa sayang. Sungguh ia tak pernah menduga Nayla dan Dila melakukan perbuatan itu. 
“Ibu tidak marah, Nak. Hanya cemas,” Bu Nana menjelaskan. “Kalian sudah melakukan hal yang luar biasa. Cemas Ibu berganti bangga sekarang. Kalian hebat.”
“Ibu nggak akan menghukum kami?” Nayla mengusap pipi ibunya.
 
 “Sama sekali tidak,” jawab Ibu sambil tersenyum. “Tapi Ibu mohon, lain kali tak perlu bersembunyi seperti ini. Jangan biarkan Ibu cemas ya.”
“Maafkan kami, Bu,” ujar Nayla lirih. “Nayla janji nggak akan mengulangi.”
Bu Nana tersenyum dan kembali merengkuh kedua gadis kecil itu ke dalam pelukan. Rasa bahagia dan bangga terselip di dalam hati. 
Ditulis oleh Redy Kuswanto. Penulis novel Jilbab Love Story, Karena Aku Tak Buta, dan beberapa buku anak. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan aktif sebagai relawan Museum Kolong Tangga.  
Baca Juga:   Bermain Dengan Makhluk Gaib

9 thoughts on “[Cernak] Ketika Bu Nana Cemas

  1. Seperti Nasywa anakku mas. Kemarin pulang dari tpy ke 8 menangis melihat mbah mbah berbaju kumal yang tampak kelelahan berjalan. Setiap kali berjumpa dengan orang orang seperti it's, Ia selalu meminta uang untuk dikasihkan kepada mereka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *