[Cernak] Ketika Adi Sakit Gigi

“Aduh!!!” Suara Adi mengejutkan Bu Desi, ibunya, yang sedang menulis daftar belanja.

“Kenapa, Di?” Bu Desi bergegas mendekati anak bungsunya. Bocah berpipi tembam itu tampak sedang memegang pipi sambil meringis.

“Gigi Adi mau copot, nih, Bunda,” ujar Adi seraya menunjukkan giginya yang goyang.

“Oh, betul, Di. Memang sudah saatnya gigimu itu lepas.” Bu Desi mengamati gigi anak lelakinya itu dengan saksama.

“Tapi, Bun,“ kata Adi ragu-ragu.

“Tapi kenapa, Di?” Bu Desi memerhatikan wajah Adi yang cemberut.

“Nggak perlu ke dokter gigi, kan?” Adi bertanya dengan cemas.

“Kalau bisa lepas sendiri, ya nggak perlu,” jawab ibunya. Bu Desi tahu Adi khawatir. Anak lelaki 8 tahun itu memang takut ke dokter.

Pagi itu, Adi sudah siap ke sekolah. Di depan cermin ia memerhatikan giginya yang goyang. Bocah itu masih gelisah. Ia berulang kali mendorong gigi itu dengan lidah agar cepat lepas. Tapi gigi itu belum copot juga.

Adi jadi kurang bernafsu makan. Biasanya anak berbadan gemuk itu akan lahap menyantap sarapan sebelum sekolah.

“Kok, nggak dimakan nasi gorengnya, Di?” Bu Desi melihat nasi goreng di piring Adi yang masih utuh.

“Nggak, Bun, gigi Adi sakit kalau mengunyah.” Bocah itu sebenarnya ingin sekali menikmati nasi goreng spesial buatan ibunya.

“Bawa jelly ini untuk bekalmu, ya.” Bu Desi memasukkan beberapa jelly dalam kotak bekal Adi.

Di sekolah, Adi tak semangat belajar, atau pun bermain. Padahal biasanya ia tak pernah bosan bermain bola, kejar-kejaran, atau petak umpet bersama teman-teman. 

“Ayo, Di! Sudah ditunggu sama Ipang, tuh.” Azka, teman sebangku Adi, mengajak bergegas ke lapangan depan sekolah.

“Nggak, ah, gigiku sakit,” kata Adi sambil menunjukkan giginya yang goyang.

“Oh, kalau itu sih, cuma mau tumbuh gigi baru. Kemarin gigiku juga copot, tapi sudah tumbuh lagi. Niih!” Azka meringis menunjukkan gigi depannya yang mulai muncul.

“Gigimu bisa copot sendiri?” Adi penasaran.

“Nggak, waktu gigiku mulai goyang, aku diajak ke dokter gigi sama Mama. Langsung dicabut, deh.” Azka menjelaskan.

“Sakit, ya, pas dicabut?” tanya Adi cemas.

“Yaa, sedikit kok, sama dokternya sih dikasih dingin-dingin gitu,” cerita Azka lagi.

Pulang sekolah, Adi tampak murung. Bocah itu membayangkan cerita Azka saat ke dokter gigi. Pokoknya aku nggak mau ke dokter gigi, batin Adi.

“Di, makan dulu, ya. Ini Bunda buatin bubur ayam,” ujar Bu Desi seraya menyodorkan semangkuk bubur hangat.

Adi menyantap bubur itu dengan lahap. Bu Desi tersenyum memandang tingkah anak bungsunya itu.

Selesai makan siang, Adi membaca majalah di kamar. Ibunya menghampiri dan duduk di sebelahnya.

“Gigimu sudah copot belum, Di?” tanya Bu Desi.

“Belum. Niih!!” Adi meringis menunjukkan giginya yang goyang.

“Kalau gitu, nanti sore Bunda antar ke dokter gigi, ya?” bujuk Bu Desi.

“Nggak mau, biar Adi tunggu sampai copot sendiri aja.” Adi menggeleng kuat-kuat. Mukanya cemberut.

“Tapi, Bunda sedih lihat kamu jadi nggak doyan makan dan nggak semangat belajar.” Bu Desi membelai rambut bocah itu.

Adi terdiam. Setelah beberapa saat, ia pun berkata lirih, “Besok aja.”

“Ok, kalau besok belum copot, kita ke dokter gigi, ya.” Bu Desi memandang anak lelakinya yang tertunduk lesu.

Hari berikutnya, gigi Adi belum copot juga. Ibunya memutuskan membawa Adi ke dokter gigi. Adi tak bisa mengelak lagi karena ia sudah berjanji.

Bu Desi sudah siap mengantar Adi, tapi bocah itu tak segera keluar dari kamarnya.

“Adi, ayo, Bunda sudah siap, nih.” Bu Desi mengetuk kamar bungsunya.

“Sebentar, Bunda. Sakit perut, nih.” Adi berteriak dari kamar.

Sebenarnya Adi cuma pura-pura. Itu hanya alasan mengulur waktu agar tidak jadi ke dokter gigi. Ibunya masuk dan melihat Adi meringkuk di kasur sambil memegang perut.

“Gimana, Di?” tanya Bu Desi khawatir.

“Sakit sekali.” Adi pura-pura meringis kesakitan.

“Bunda ambilkan obat, ya. Kita tunda dulu ke dokter giginya.” Bu Desi beranjak dari kamar Adi.

“Yesss!!!” Adi berteriak kegirangan, ia melompat-lompat di kasur.

Harapannya sudah terkabul. Ia tidak jadi ke dokter gigi hari itu.

“Aduuh!!!” Bocah lelaki itu jatuh dari kasur karena terlalu bersemangat melompat-lompat. Adi berusaha bangkit, lalu ia melihat sesuatu di lantai. Bocah itu pun mengambil dan mengamatinya. “Bundaaa, gigi Adi sudah copoot!!!” *)

                                                                                                Ditulis oleh: Maya Romayanti

Reviewer: Redy

Baca Juga:   ALQAMAH, IBU DAN ISTRINYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *