[Cernak] Kehilangan Ponsel di Sekolah

Bel berbunyi, tanda waktu pulang. Semua murid kelas enam SD Kenanga bersiap-siap. Satu persatu temanku bangkit dari tempat duduk. Berjalan rapi menghampiri ibu guru yang berdiri di dekat pintu. Mereka menyalaminya, lalu pulang.

“Ilham, kamu tidak pulang?” ibu guru memanggilku.

“Ah, anu, Bu …,” buru-buru kumasukkan isi tas yang baru saja kukeluarkan,”iya, sebentar, Bu.”

Tentu saja aku tidak bisa mengatakan terus terang. Ibu guru akan marah jika tahu aku membawa ponsel di sekolah. Tadi aku menaruhnya di dalam tas. Entah apa yang terjadi. Ponsel itu tidak ada. Aku sudah mencarinya berkali-kali. Bahkan semua isi tas sudah aku keluarkan di atas meja. Namun, aku belum menemukannya.

Apa jangan-jangan ada yang mencuri ponsel itu, batinku. Aku beranjak dari tempat duduk. Menenteng tas ransel yang resletingnya masih terbuka. Aku berjalan mendekati ibu guru. Sesekali aku menoleh ke kanan dan kiri. Memperhatikan kolong-kolong meja. Barangkali ponsel itu terjatuh dan ada di salah satu sudut di bawah meja.

“Apa kamu kehilangan sesuatu?”

“E … Enggak kok, Bu.”

Aku meraih tangan Bu Eka, guru bahasa Indonesia. Mencium punggung tangan kanannya, kuucapkan salam, lalu keluar ruang kelas. Aku masih kepikiran, di mana ponsel itu? Tidak bisa kubayangkan kalau Ayah menelepon, lalu tidak ada seorangpun yang menjawab. Atau ketika orang lain yang menjawab. Pasti aku akan dimarahi.

Ayah akan marah karena aku tidak bisa menjaga amanah. Ponsel itu milik Ibu. Tadi pagi Ayah menitipkannya padaku. Aku membawa ponsel itu karena mereka akan pergi ke rumah Nenek. Ayah berkata, agar mudah menghubungiku jika sewaktu-waktu ada sesuatu. Ayah juga berpesan agar ponsel itu disimpan di tas. Jangan untuk mainan selama di sekolah.

Aku coba mengingat-ingat terakhir kali memegang ponsel itu. Ah iya, tadi sewaktu jam istirahat aku pergi ke kantin. Jangan-jangan tertinggal di sana.

Aku bergegas lari ke kantin. Melewati lorong kelas lima, kelas empat dan kelas tiga. Kulihat teman-teman sudah meninggalkan ruang kelas. Beberapa kulihat sedang ngobrol di teras musala, di ujung lorong. Cuek saja, aku berbelok ke kanan menuju kantin. Kebetulan kantin itu bersebelahan dengan musala. Pintu kantin sudah hampir ditutup. Tinggal Bu Parmi, pemilik kantin yang sedang menyapu dan membereskan perkakas.

“Maaf, Bu, apa tadi ada ponsel tertinggal di sini?”

“Ponsel apa, ya?” Bu Parmi coba mengingat-ingat. “Seharian ini ibu ndak lihat ada yang mainan ponsel di kantin.”

Tentu saja tidak akan ada yang berani terang-terangan bermain ponsel. Di sekolahku, murid-murid dilarang membawa gawai. Seperti ponsel, laptop, atau perangkat elektronik lainnya. Apalagi sejak kasus yang ramai diberitakan di media sosial. Gawai dianggap mengganggu konsentrasi belajar siswa di sekolah. Bahkan bisa menghancurkan masa depan siswa.

Waktu itu bapak Kepala Sekolah bersama para guru merazia tas siswa. Memastikan tidak ada yang membawa gawai di sekolah. Ternyata dari razia itu banyak gawai yang tersita. Salah satunya ponselku. Dulu aku sering membawa ponsel ke sekolah. Sering juga kupakai main game saat jam istirahat. Sejak razia itu, aku tidak pernah membawa ponsel ke sekolah. Ayah memintaku agar lebih rajin belajar daripada bermain ponsel.

Dari kantin, aku bergegas lari ke toilet sekolah. Letaknya tidak jauh dari kantin. Bersebelahan dengan musala dan menjadi satu dengan kamar mandi musala. Tadi saat jam pelajaran, aku sempat ke toilet. Barangkali ponsel itu tertinggal di sana.

Kutelusuri dari toilet paling ujung sampai wastafel di dekat pintu keluar. Sama sekali tidak kutemukan ponsel itu. Hanya terlihat dinding penuh coretan, lantai berkerak, dan porselen toilet yang mulai menghitam. Toilet ini seperti goa yang diabaikan penghuninya. Namun, tetap saja digunakan, karena inilah fasilitas toilet satu-satunya di sekolah.

Aku tidak tahu harus mencari kemana lagi. Seharian ini hanya dua tempat itu yang aku kunjungi. Kantin dan toilet. Musala, astagfirullah aku belum salat Zuhur.

Biarlah aku dimarahi Ayah. Aku sudah berusaha mencari ponsel Ibu. Tapi tetap belum ketemu. Semoga nanti Ayah bisa mengerti keteledoranku.

Aku duduk di serambi musala. Melepas sepatu, lalu mengambil air wudu. Aku menyesal tadi tidak ikut salat Zuhur berjamaah. Gara-gara mencari ponsel yang hilang, aku lupa kewajibanku. Ayah pernah bilang, “Allah selalu melihat apapun yang kita kerjakan dan mengabulkan doa kita.”

Baiklah, aku akan minta saja sama Allah. Agar ponsel itu ketemu. Aku masuk ke musala. Berdiri sendirian di samping kanan tempat imam, saf terdepan. Aku salat Zuhur empat rakaat. Tentang ponsel yang hilang, sejenak aku lupakan.

Setelah shalat, aku berzikir dan berdoa. Meminta agar Allah mengembalikan ponsel Ibu. Jika memang harus hilang, saya minta agar ditemukan oleh orang baik. Sehingga dikembalikan kepada Ibu atau dimanfaatkan untuk hal yang baik.

Aku keluar dari musala. Mengenakan sepatu, lalu berjalan pulang. Di sekolah sudah tidak ada siswa lain. Kecuali aku yang dari tadi kebingungan mencari ponsel. Beberapa guru kulihat masih di kantor. Sebenarnya aku ingin melaporkan masalah kehilangan ponsel ke ibu guru. Namun, aku takut dihukum. Ah, sudahlah.

“Ilham, kamu masih di sini?” tanya Bu Eka saat berpapasan denganku di depan gerbang sekolah.

“Iya, Bu. Tadi mampir ke musala dulu.”

“Kelihatannya kamu lagi ada masalah. Kenapa mukamu murung begitu?”

“E … Enggak kok, Bu. A … Anu.” Tiba-tiba saja aku jadi gugup. Jangan-jangan Bu Eka sudah tahu masalah ponsel yang hilang itu.

“Ayo, pulang bareng ibu. Kebetulan saya mau mampir ke rumahmu.”

“Ke rumah Ilham, Bu?” tanyaku heran. “Memangnya ada keperluan apa? Ayah dan ibu saya kan, sedang di rumah nenek.”

“Ada, deh …. Tadi ayahmu menelepon, sekarang sudah ada di rumah.” Bu Eka, guru berjilbab itu tersenyum. “Sini saya bonceng, biar enggak capek jalan kaki.”

Akhirnya aku pulang bersama Bu Eka. Sepanjang jalan aku masih memikirkan ponsel ibu yang hilang. Aku juga memikirkan alasan apa yang nanti akan kukatakan kepada Ayah. Ayah pasti marah. Aku sudah bersalah karena tidak menjaga amanahnya dengan baik. Ah, semoga Allah menolongku.

@@@

Sesampainya di rumah, ayah dan Bu Eka berbicara di ruang tamu. Aku berganti pakaian di kamar. Kebetulan kamarku bersebelahan dengan ruang tamu. Sehingga apa yang ayah bicarakan dengan Bu Eka terdengar jelas.

“Maaf, jadi merepotkan Bu Eka. Ilham memang kadang-kadang agak ceroboh.”

“Tidak apa-apa, Pak. Tadinya saya mau menegur Ilham karena membawa ponsel di sekolah, tapi saya urungkan. Karena saya percaya Ilham tidak akan mengulang kesalahannya yang dulu.”

“Iya, Bu. Seharusnya memang ponsel itu tidak saya titipkan kepada Ilham. Apalagi saat bersekolah. Tadi saya pikir akan pulang malam hari dari rumah nenek Ilham. Sehingga khawatir meninggalkan Ilham sendirian. Maka, saya bawakan ponsel ibunya agar bisa saya pantau sewaktu-waktu.”

Alhamdulillah. Ternyata ponsel Ibu tidak hilang. Ponsel itu disimpan Bu Eka. Kata Bu Eka, saat jam istirahat dia mendengar dering telepon dari mejaku. Setelah diperiksa, dia temukan ponsel itu di dalam tasku. Bu Eka sengaja tidak menegurku langsung saat itu. Karena khawatir menggangu konsentrasi belajarku. Karena setelah jam istirahat ada ujian mata pelajaran matematika. Duh, senangnya kalau kita selalu bertemu dengan orang baik. Pernahkah kalian berterima kasih atas kebaikan guru kalian? Aku akan menjadi murid yang baik sebagai wujud terima kasihku kepada ibu guru.

****

Ditulis oleh: Seno NS

Reviewer: Oky E. Noorsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *