[Cernak] Karena Bohong


sumber: google image

 

            Di hari Minggu pagi yang cerah, Gilang pergi ke alun-alun Wates bersama Paman dan Boni. Boni adalah anak dari Paman. Mereka berangkat tepat pukul 6 pagi. Mereka akan lari pagi lalu dilanjutkan dengan senam.
            Setiap pukul 6 pagi sampai 9 pagi, di alun-alun Wates diberlakukan Car Free Day. Para pengemudi motor dilarang melintasi sekitar alun-alun Wates. Jadi, penikmat olahraga bisa sangat leluasa berolahraga pagi.
            Pagi ini, alun-alun Wates terlihat sangat padat. Ada yang bersepeda, ada juga yang berlari. Dari anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang tua juga sangat menikmati olahraga di alun-alun. Di bagian sisi timur dan barat alun-alun terlihat berbagai wahana permainan anak-anak. Dari mobil-mobilan, odong-odong juga ada di sana. Berbagai sajian kuliner juga ada seperti:  lontong sayur, soto ayam, angkringan, dan bubur ayam. Semua bisa dinikmati. Dan di sepanjang trotoar alun-alun banyak penjual beraneka jenis dagangan. Dari baju, jilbab, dan aksesoris jilbabnya pun ada.
            “Paman, Gilang istirahat dulu, ya?” terlihat Gilang sangat kecapekan, padahal baru 1 kali putaran.
            “Ya udah, Gilang istirahat dulu, Paman dan Boni berputar 1 kali lagi, ya?”
            Sementara Paman dan Boni melanjutkan larinya, Gilang menuju ke penjual es. Dia sangat kehausan.
                                                                           ***
             “Lho, Gilang minum es?” tanya Paman heran.
            “Iya Paman, Boni mau?” jawab Gilang sambil menyodorkan es yang dia bawa.
            “Bukannya Gilang tidak boleh minum es, ya? Apa amandel kamu sudah sembuh?”
            “Sudah, kok!”
            “Alhamdulillah, kalau sudah sembuh. Gilang minumnya sudah? Kalau sudah, kita lanjut ke depan panggung, ya? Senamnya sudah mau di mulai,” ujar Paman.
Di pojok selatan bagian timur, memang ada panggung permanen. Setiap minggu pagi, selalu ada senam bersama. Dari bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan anak kecil juga suka mengikuti senam tersebut. Meski, untuk anak seusia Gilang hanya untuk bersenang-senang saja.
            Gilang, Boni dan Paman sangat menikmati senamnya. Kadang terlihat Gilang berhenti karena kecapean. Karena ini memang senam, untuk orang dewasa jadi Gilang dan Boni hanya mengikuti sebisanya saja.
                                                                        ***
            “Paman, sebelum pulang, kita makan dulu yuk! Boni, kamu juga pasti lapar, kan?” tanya anak berkulit sawo matang.
            “Jelas laparlah,” jawab Boni.
            ‘Paman, kita makan bubur ayam saja, ya? Kamu mau kan, Boni?”
            “Mau! Bubur ayam kan makanan kesukaanku,”
            “Baiklah, kita makan bubur ayam!” seru Paman.
“Hore!” jawab Gilang dan Boni dengan kompak. Mereka bertiga, langsung menuju ke penjual bubur ayam yang di sebelah utara alun-alun.
            Karena mereka bertiga sudah sangat lapar, mereka pun sangat lahap memakan bubur ayam itu.
            “Kita sudah kenyang, itu artinya kita harus pulang,” kata Paman sambil tertawa.
            “Ya, kok pulang?” rengek Gilang. Tapi, akhirnya Gilang menurut perintah Paman.
                                                                        ***
“Gilang, sudah sore, Nak. Ayo, bangun!” seru Ibu. Ibu mencoba membangunkan Gilang yang  sudah tidur dari selepas dhuhur.
Tidak ada jawaban dari Gilang. Lalu, Ibu mencoba masuk ke kamar Gilang.
“Gilang, ayo bangun, Nak.” Sekali lagi Ibu membangunkan. Nampaknya Gilang tidak merespon. Ibu memegang kening Gilang.
“Ya ampun, kamu demam,” Ibu panik.
Kemudian, Ibu pergi ke dapur untuk mengambil air hangat dan handuk.
Ibu mengompres Gilang. “Nak, bangun yuk!”
“Iya, Bu. Gilang pusing ini.” Sedikit matanya terbuka dan Gilang merengek manja dengan Ibu.
“Ini Ibu kompres, nanti habis ini makan lalu minum obat, ya?”
                                                                           ***
            Pagi-pagi sekali, Ibu Gilang terlihat panik. Ibu mengecek kening Gilang dan ternyata masih terasa panas. Ibu tidak mengijinkan Gilang berangkat sekolah. Akhirnya, Ibu membawa Gilang ke dokter. Kata dokter, Gilang terkena radang tenggorokan.
            “Gilang, kamu kemarin minum es?” tanya Ibu.
            “Tidak kok, Bu,” Gilang berbohong. Mendengar jawaban Gilang, Pak Dokter hanya senyum-senyum sepertinya tahu kalau Gilang bohong. Sementara, Ibu percaya kepada Gilang.
            “Gilang kamu jangan minum es lagi. Ini obatnya jangan lupa diminum,” pesan Pak Dokter.
            “Iya, Pak.” Jawab Gilang.
                                                                          ***
            Sampai di rumah, Gilang langsung memeluk Ibu.
            “Lho, ini ada apa, Nak?” tanya Ibu heran.
            “Bu, maafin Gilang, ya? Gilang udah berbohong. Kemarin Gilang minum es. Gilang tadi mau bilang iya, tapi malu dengan Pak Dokter.”
            “Ya udah, tidak apa-apa. Asal, jangan diulangi lagi, ya? Ibu, kan tidak pernah mengajari Gilang berbohong. Lagi pula, Gilang kan, punya amandel, jadi tidak boleh minum es dulu.”
            “Baik, Bu.” Gilang menyesali kesalahannya. Karena kebohongannya, dia sakit dan tidak masuk sekolah. Dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
                                                                        —–
Ditulis oleh: Sifa Dila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *