[Cernak] Jasa Si Boni

Meong, meong, meong. Terdengar suara kucing dari selokan di depan rumah Rafa. Hewan itu terjatuh di selokan yang berlumpur. Kucing itu kedinginan. Badannya gemetar dan lemah. Bulunya pun kotor karena lumpur.

“Kasihan kucing ini. Mari, aku bersihkan kau. Badanmu penuh lumpur. Kamu lemah, pasti belum makan,” kata ibu Rafa sambil menghampiri kucing itu.

Meong, meong, meong. Hewan bermata biru itu tidak henti-hentinya mengeong. Berulang kali ia meronta ketika dibersihkan oleh ibu Rafa.

“Rafa, tolong ambilkan sampo untuk membersihkan lumpur di badan kucing ini,” pinta Ibu.

Rafa segera mengambil barang yang diminta dan memberikannya pada Ibu.

“Ini Bu, samponya. Ih, menjijikkan sekali kucing ini.”

Rafa sangat tidak suka dengan kucing karena sering mencuri makanan di rumahnya.

“Jangan begitu, Rafa. Kasihan kucing ini. Kita akan memeliharanya setelah dia bersih.”

Dengan wajah cemberut Rafa pun menyahut,“Aku nggak mau memelihara kucing. Pasti ia akan mencuri makanan juga.”

Rafa merasa kesal dengan keinginan Ibu. Ia tidak mau ada kucing di rumahnya. Anak berperawakan gendut itu pun segera masuk rumah. Ia meninggalkan Ibu yang masih memandikan binatang berlumpur itu.

Beberapa saat kemudian, kucing berbulu lebat itu sudah bersih. Bulunya juga sudah kering. Hewan lucu berwarna putih itu sudah mau melompat-lompat. Mungkin hewan itu merasa bahagia. Gerakannya sangat lincah dan gesit. Binatang berbulu putih itu mengajak Rafa untuk bermain dan bercanda. Namun Rafa tidak memedulikan hewan yang menggemaskan itu.

“Ayo Rafa, beri makan kucing itu. Oh ya, sebaiknya kita beri nama siapa?”

“Eh, jangan hanya diam saja, Rafa. Bagaimana kalau kita beri nama Boni? Kamu setuju tidak,” lanjut Ibu karena Rafa tidak juga menjawab.

“Terserah, Ibu. Pokoknya Rafa tetap nggak suka dengan kucing. Bikin jengkel saja.”

Ibu tidak memedulikan pendapat Rafa. Boni, si kucing bermata biru itu akan tetap dipelihara.

                                                  ***

Setelah beberapa minggu di rumah Rafa, ternyata Boni semakin menggemaskan. Badan Boni semakin besar dan gemuk. Bulu-bulu di badan kucing itu tampak bersih dan mengilap.

Meong, meong,meong. Boni ramai bersuara sambil mendekati Rafa yang asyik nonton TV. Kucing lucu itu selalu mengajak Rafa untuk bermain. Namun, Rafa selalu membentak dan mengusirnya.

“Hus, hus. Pergi kau. Huh, mengganggu saja!”

“Mungkin dia lapar, Rafa. Kamu jangan kasar begitu sama Boni. Kita harus menyayangi binatang. Bukankah Nabi Muhammad juga menyayangi binatang? Ayo Rafa, tolong Boni kau ambilkan makan. Siapa tahu kucing itu lapar,” bujuk Ibu.

“Tapi, Bu. Aku nggak suka kucing ini. Kemarin ia sudah mengambil ikan goreng kesukaanku. Huh sebel, rasanya ingin kupukul saja Boni.”

“Nah, biar tidak mencuri, maka berilah makan. Kalau ia kenyang, pasti nggak akan mengambil makananmu.”

Rafa pun segera melaksanakan perintah Ibu. Walau dengan hati jengkel, anak bertubuh bongsor itu mau mengambil makanan untuk Boni.

Hingga malam menjelang, Rafa masih juga menyimpan kejengkelan pada Boni. Ia berusaha melupakan Boni dengan tidur lebih awal dari biasanya. Barang-barang dan mainan masih berserakan di kamar anak itu. Pintu kamar juga lupa tidak ditutup.

Ketika Rafa tidur, ada seekor tikus yang masuk ke kamarnya. Tikus itu berasal dari sawah dekat rumah Rafa. Karena lapar, hewan pengerat itu masuk ke kamar Rafa untuk mencari makanan. Maklum saja kamar Rafa begitu kotor dan berantakan. Si tikus berharap menemukan sisa makanan di situ. Hewan kecil itu melompat dari lemari dan meja belajar Rafa. Ketika tikus melompat ke tempat tidur, tiba-tiba terjadi keributan.

“Hiii, ada tikus! Menjijikan sekali binatang ini! Husss!” teriak Rafa.

Mendengar teriakan Rafa, Ibu pun terbangun dan menghampiri Rafa yang masih mencari-cari binatang pengerat itu.

“Ada apa Rafa, teriak-teriak. Kamu sudah membangunkan seisi rumah ini.”

“Tadi waktu aku sedang tidur, ada tikus melompat ke badanku. Aku jadi kaget, Bu,” cerita Rafa.

 “Makanya jaga kebersihan kamar. Dan jangan lupa tutup pintu  ketika akan tidur.”

Belum selesai ibu menasihati Rafa tiba-tiba… gedubrak, gedebuk! Terdengar suara barang jatuh dari arah dapur. Ibu dan Rafa melangkah menuju asal suara. Mereka melihat satu pemandangan yang mengejutkan. Ternyata suara berdebam tadi adalah suara Boni yang jatuh. Kucing bermata biru itu terpelanting saat berusaha menangkap seekor tikus. Hewan pengerat itu masih ada di cengkeraman si Boni.

“Lho, lihat tuh, si Boni sudah menangkap pengganggu di rumah kita,” kata Ibu sambil menunjuk Boni.

“O, iya Bu. Ternyata Boni pintar juga, ya,” puji Rafa.

“Nah, tidak sia-sia Ibu memelihara Boni. Ayo Rafa, berterima kasihlah pada Boni. Dia sudah menjaga rumah kita dari gangguan tikus,” perintah Ibu.

            Rafa pun menuruti perintah Ibu. Ia mengusap kepala Boni yang masih asyik dengan hewan buruannya. Ia pun berjanji dalam hati akan belajar untuk menyayangi Boni.

*****

Ditulis oleh: Su Prapti

Reviewer: Oky E. Noorsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *