[Cernak] Ikan Mas Koki

Sumber gambar: jitunews.com
Bimo memelihara lima ekor ikan mas koki dalam sebuah aquarium bundar. Bimo suka sekali ikan mungil berwarna oranye itu. Setiap hari Bimo rajin merawat ikan-ikannya, memberi makan dua kali sehari, mengganti air jika sudah mengeruh dan membersihkan lumut yang menempel di dinding aquarium.
            Sore itu, Bimo duduk termenung di depan aquariumnya. Biasanya setelah memberi makan ikan-ikannya, Bimo akan bergegas ke lapangan di pinggir kampung. Dia senang bermain bola dengan teman-teman di sana. Tadi malam ibu memberitahu nenek sedang sakit. Mereka harus berangkat ke desa untuk menjenguk nenek. Rencananya mereka akan berada di sana selama beberapa hari. Bimo bingung. Siapa yang akan merawat ikan-ikan itu saat dia pergi? Tak mungkin juga membawa ikan peliharaannya ke desa.
            Tiba-tiba Adi muncul. Adi sahabat Bimo. Mereka sering bermain bersama. Adi mencari Bimo karena tak nampak di lapangan.
“Hei, Bim,” sapa Adi sambil menepuk pundak Bimo.
 “Kok, melamun sih, Bim? Udah ditunggu teman-teman di lapangan tuh,” ujar Adi sambil duduk di samping Bimo.
“Iya nih, aku lagi bingung,” jawab Bimo, pandangannya masih tertuju pada ikan-ikannya yang lincah berenang ke sana kemari.
“Bingung kenapa, Bim?” tanya Adi penasaran.
“Nenekku sakit, besok aku harus ikut ibu dan ayah ke desa menjenguk nenek. Tapi kalau aku pergi, siapa yang akan merawat ikan-ikanku?” Bimo menceritakan kebingungannya.
“Oh begitu, hmmm … itu sih gampang, Bim,” sahut Adi sambil tersenyum lebar, “Serahkan saja ikan-ikan itu padaku. Aku akan merawat mereka.”
“Sungguh? Kamu mau merawat mereka, Di?” tanya Bimo, wajahnya cerah kembali, matanya berbinar.
“Kalau cuma merawat ikan mas koki sih kecil,” kata Adi sambil menjentikkan jarinya.
“OK, kalau begitu besok aku antar ikan-ikanku ke rumahmu ya,” ujar Bimo bersemangat. Hilang sudah kekhawatirannya.
            Minggu pagi, Bimo mengantar aquarium bundarnya ke rumah Adi yang terletak di gang sebelah.
“Titip ikan-ikanku ya, Di. Makanan dan spons pembersih ada di kantong biru ini,” pesan Bimo.
“OK Bim, santai saja. Pokoknya beres deh. Selamat jalan ya, semoga nenekmu cepat sembuh,” kata Adi sambil nyengir lebar dan menepuk-nepuk pundak Bimo.
***
Setelah nenek sembuh, Bimo dan kedua orang tuanya pun kembali ke kota. Bimo sudah tak sabar ingin melihat ikan-ikan mungilnya.
Sampai di rumah, Bimo langsung mengunjungi rumah Adi. Namun rumah Adi tampak sepi. Bimo jadi kecewa dan kembali ke rumah dengan lesu.
“Lho, kok sudah pulang lagi Bim?” tanya ibu yang sedang mengeluarkan pakaian kotor untuk dicuci.
“Rumah Adi kok sepi ya, Bu? Sudah kuketuk beberapa kali tapi tidak ada yang menyahut,” ucap Bimo sambil merengut.
“Barangkali Adi sedang pergi sebentar dengan keluarganya,” ujar ayah yang baru saja mandi.
“Sudah, kamu istirahat dulu saja, Bim,” kata ibu lembut sambil membelai kepala Bimo.
            Bimo menjadi gelisah. Ia sudah rindu melihat tingkah ikan-ikannya yang lucu. Setelah beristirahat, sore itu Bimo berencana ke rumah Adi lagi.
Tiba-tiba terdengar bunyi pintu diketuk. Dari kamarnya Bimo mendengar langkah ibu menuju ruang tamu.  
“Bim, ada Adi nih,” panggil ibu.
Bimo pun segera ke ruang tamu. Adi datang bersama ibunya. Ia  tampak murung.
“Ayo, duduk sini Bim, dekat Adi,” kata Ibu sambil membimbing Bimo. Bimo bingung melihat sikap Adi.
“Nah, Adi, ayo cerita sama Bimo,” ujar ibu Adi.
Adi masih menunduk, dia tak berani memandang Bimo. Di depannya ada sebuah kotak besar.
“Ayo, Di,” ujar ibu Adi sekali lagi saat melihat Adi masih terdiam.
“Emm … maafin aku ya, Bim,” ucap Adi lirih.
“Memang kamu salah apa, Di?” tanya Bimo tak mengerti.
            Adi pun bercerita bahwa ia sangat bersemangat merawat ikan-ikan itu. Tapi kemarin sore, tak sengaja ia menyenggol aquarium yang diletakkan di meja belajar. Aquarium itu terjatuh dan pecah. Kebetulan, saat itu kucing peliharaan Adi berada di kamarnya, dan memakan ikan-ikan itu.
Bimo tak bisa berkata-kata mendengar cerita Adi. Ia  teringat ikan-ikan mungilnya.
“Aku minta maaf ya, Bim,” kata Adi lagi. Lalu Adi mengambil kotak besar yang ada di hadapannya.
“Ini buat kamu, Bim,” ucap Adi.
Bimo tampak ragu menerimanya. Bimo masih tak percaya ikan-ikannya sudah tak ada lagi.
“Ayo, terima Bim, Adi sudah bersusah payah membelinya,” kata Ibu Bimo.
Bimo pun menerima kotak besar itu, lalu membukanya perlahan. Di dalam kotak itu ada sebuah aquarium bundar yang persis dengan miliknya dulu.
“Adi membelinya tadi siang dengan uang tabungannya Bim, karena Adi ingin mengganti aquariummu,” ibu Adi menjelaskan.
Bimo menepuk pundak Adi.
“Terima kasih ya Di. Kamu sudah mengganti aquariumku,” ujar Bimo.
” Kamu nggak marah sama aku Bim?”
Bimo menggeleng. “Besok kita pergi ke pasar, beli ikan mas koki ya Di, nanti kita rawat bersama,” kata Bimo, senyum mengembang di bibirnya.
Ditulis oleh Maya Romayanti, seorang guru SD yang sedang belajar menulis.
FB Maya Romayanti, IG @myromayanti
 

3 thoughts on “[Cernak] Ikan Mas Koki”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *