[Cernak] HP Siapa?

Sudah menjadi kebiasaan, begitu terdengar azan, Nasywa dan keluarganya melakukan salat magrib berjamaah di musala. Musala itu hanya beberapa meter saja jaraknya dari rumah Nasywa.

Sepulang salat, Nasywa berkata pada Ayah,” Antar aku ke toko buku ya, Yah.”

Nasywa dan kakaknya, Faiz, memang memiliki hobi yang sama. Mereka sangat menyukai buku. Toko buku menjadi tempat favorit setiap bulan sekali di malam Minggu selepas magrib. Mereka senang berlama-lama di tempat itu untuk berburu buku-buku kesayangan mereka.

Setelah menempuh perjalanan 45 menit, dengan wajah ceria Nasywa dan Faiz melangkah ke dalam toko buku.  Ayah dan Bunda mengikuti dan mengawasi mereka. Setiba di lantai dua, kedua bocah itu mulai sibuk melihat-lihat buku cerita yang terpajang di rak. Tangan-tangan mungil mereka sudah sangat terampil membuka-buka lembaran buku untuk menemukan buku cerita yang mereka inginkan.

Ditengah keasyikan mencari buku, tiba-tiba mata Nasywa tak sengaja melihat sesuatu. Benda itu tergeletak di lantai. Bentuknya kotak tipis. Warnanya coklat silver.  Gadis kecil berusia tujuh tahun itu  melongokkan kepalanya, mencari tahu sang empu benda itu. Tidak terlihat siapa pun di sampingnya, kecuali sang kakak.

Kaki dara kecil itu berjingkat. Ia mengendap-endap mendekat benda itu. Tubuh mungilnya membungkuk. Tangan kanannya menjulur mengambil benda itu. Kembali ia tegakkan badannya. Lalu, tangan kanannya mulai membolak-balikkan benda itu. Sementara, tangan kirinya sibuk menyibak beberapa helai rambut panjang yang menjulur di wajah. Mendadak mata kecilnya membulat. Rasanya ia ingin berteriak sekeras-kerasnya. Hore! Akhirnya aku mendapatkan juga benda yang aku inginkan.

Namun, seketika sinar matanya meredup. Hatinya ragu untuk membawa pulang hp itu. Nasywa urung memasukkan benda kecil itu ke dalam saku baju. Ia berjalan mendekati Faiz yang berdiri tak jauh darinya.

“Mas, aku menemukan hp,” ucap Nasywa tiba-tiba. Ia  menunjukkan ponsel itu kepada sang kakak yang terpaut empat tahun  lebih tua darinya.

Faiz yang tengah serius membaca buku menoleh ke arah adik kesayangannya. Kedua alis matanya hampir bertautan. Lalu, ia bertanya, “Di mana kamu menemukan barang itu?”

Nasywa menjelaskan di mana dan bagaimana ia menemukan benda impianya itu. Sang kakak berkali-kali menganggukan kepala mendengar celoteh adiknya. 

 “Tapi, aku ingin membawa pulang hp ini, Mas,” ucap  Nasywa kepada kakaknya.

“Tidak boleh. Itu sama saja dengan mencuri,” jawab Faiz.

“Mas, aku enggak mencuri. Aku kan, menemukannya,” timpal Nasywa keras kepala.

“Dik Nasywa, masih ingat, kan? Apa yang Mbah Kyai bilang saat pengajian hari Minggu lalu?” Faiz mengingatkan adiknya.

Setiap hari Minggu Kliwon, pondok pesantren tempat Faiz menuntut ilmu rutin mengadakan pengajian. Dalam ceramahnya, Mbah Kyai mengatakan jika menemukan benda, tidak berarti benda itu menjadi miliknya. Siapa saja yang menemukan suatu benda, wajib baginya mengumumkan berita kehilangan. Kalau sudah dua tahun tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya, benda temuan itu mejadi halal untuk dimiliki.

Faiz dengan sabar mencoba mengingatkan adiknya. Mendengar tutur kata sang kakak, Nasywa menyadari niatnya membawa pulang hp itu adalah perbuatan tercela. Perbuatan yang mendatangkan dosa dan hidup tidak berkah. Dalam hati kecil Nasywa, ia menyesali perbuatannya. Akhirnya, ia minta sang kakak menemaninya untuk menyerahkan hp itu pada penjaga toko. Kakak beradik itu senang, karena telah lulus satu tes kejujuran.*)

Ditulis oleh: Widayati

Reviewer: Oky

Baca Juga:   Tiga Makna, Tiga Cerita Perihal Jodoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *