[Cernak] HIDUP DARI LAUT

Anakku , sudah saatnya kamu akan Ayah kenalkan dengan apa yang ada di laut,” kata Pak Warto.

“Ya, Ayah,” jawab Nurdin anaknya.

Nurdin adalah anak Pak Warto satu-satunya. Ia berumur kurang lebih sebelas tahun.  Nurdin masih duduk di kelas V di sebuah Sekolah Dasar Negeri. Pak Warto berharap Nurdin menjadi nelayan juga seperti dirinya.

Dua manusia itu adalah ayah dan anak yang hidupnya bergantung dari laut. Ibu Nurdin sudah lama meninggal dunia ketika anak laki-laki itu masih berumur satu tahun. Keluarga Pak Warto menjadi nelayan secara turun-temurun, sejak dari kakek beliau. Sebagai seorang nelayan tentu saja penghasilannya dari mencari ikan di laut. Kulit pak Warto hitam legam karena sering terkena sinar matahari saat melaut.

“Kamu nanti akan Ayah ajak ke tengah laut, kita lihat apa saja yang ada di laut itu dan di situlah nanti kamu akan belajar dan hidup dari laut,” kata Pak Warto, menerangkan  pada Nurdin.

Senyum   bahagia terpancar dari wajah Nurdin, dengan penuh semangat dia berlari ke arah perahu motor  yang tersandar di bibir pantai.

 “Ayo, buruan Ayah, sudah tak sabar nih,” ajak Nurdin.

Melihat sang anak begitu semangat, Pak Warto segera menyusul menuju perahu motor yang sengaja bersandar di pantai karena tidak ada dermaga. Dengan tenaga dan semangat yang luar biasa dari Nurdin, perahu motor itu berhasil bergerak menuju ke tengah laut meski ombak agak besar. Perahu kayu yang sederhana, dengan mesin yang terlihat sudah berkarat di beberapa bagian.

Ombak laut bergerak dengan kecepatan penuh, lajunya tidak bisa dihentikan, tetapi sesaat kemudian laju ombak terhenti secara mendadak ketika menghantam sekumpulan batu besar . Batu-batu karang besar di pantai  menjadi  penghadang laju ombak . Ombak  akan  menghasilkan suara  khas  saat  menumbuk batu karang.  Suara yang selalu mengingatkan pada pantai bagi  siapa saja yang mendengarnya.

“Nanti kalau kamu sudah bisa mencari ikan sendiri  kamu, harus tahu  lebih dahulu tentang ombak.  Kamu tidak bisa melawan ombak, jadi harus bisa berdampingan dengan ombak. Di balik keindahan ombak laut itu tersimpan  bahaya besar yang mengancam. Sedikit saja kita lengah ombak siap menelan kita hidup-hidup,” kata Pak Warto panjang lebar.

” Ya, Ayah,” kata Nurdin sambil manggut-manggut.

Tidak membutuhkan waktu lama,  mereka berdua sudah sampai  di tujuan. Ombak sudah tidak terlalu besar dan angin bertiup tidak terlalu kencang. Pak Warto segera menurunkan jangkarnya yang sederhana ke dalam laut, untuk memastikan kalau perahunya tidak terombang-ambing di tengah laut.

“Ikuti Ayah, ya !” perintah Pak Warto kepada Nurdin agar segera menyusul ayahnya yang lebih dulu menceburkan diri ke laut. Nurdin segera mengiyakan dengan suara lantang.

Meski masih muda,  Nurdin sudah pandai berenang dan menyelam ke dalam laut. Tapi baru di laut yang dangkal. Mungkin karena sejak kecil sudah dilatih berenang dan menyelam oleh Pak Warto. Hanya beberapa menit di dalam laut, karena keterbatasan napas akhirnya mereka berdua keluar dari laut dan segera menuju ke pinggiran perahu untuk berpegangan.

Tiba-tiba, Nurdin menjerit. “ Aduh Ayah, gatal sekali nih, tanganku….” Dia terus-menerus menggaruk leher dan beberapa bagian tubuh lainnya yang terasa gatal.

 “Kamu pasti kena ubur-ubur, ya?” tanya Ayah sambil menarik Nurdin.

“ Iya, Yah, tadi aku lihat bentuknya bagus, tapi kenapa jadi gatal-gatal begini?” tanya Nurdin sambil terus menggaruk.

“Jadi lain kali jangan sembarangan,” terang Pak Warto panjang lebar.

 “Oh begitu ya, aku tidak tahu kalau ubur-ubur itu beracun, Ayah,” jawab Nurdin.

 “Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja ya, kita obati saja dulu !” ajak Pak Warto.

Pak Warto segera menyalakan mesin perahunya dan bergegas menuju pantai. Di sepanjang perjalanan pulang, Pak Warto memberikan nasihat pada anaknya tentang laut.

 Nasihat sang Ayah berlanjut, kali ini masih tentang kehidupan.

“Jadi, jangan sedih kalau kamu punya kekurangan karena dibalik itu pasti kamu punya kelebihan . Lalu cari kelebihan yang kamu punya, setelah dapat jangan sombong, karena kamu juga harus ingat ada kekurangan di balik semua itu. Tinggal bagaimana kamu memperlakukan kelebihan dan kekurangan itu,” kata Pak Warto panjang lebar.

“ Ingat ya, Nak,” kata Pak Warto lagi.

Nurdin mendengarkan nasihat Ayahnya sambil tersenyum. Hari ini, Nurdin mendapat pelajaran berharga dari sang Ayah mengenai kehidupan,  yang  akan menjadi bekal saat dewasa nanti.

 “Alangkah beruntungnya aku mempunyai Ayah yang bijaksana,” batin Nurdin sambil tersenyum.[]

Ditulis oleh: Dwi Lestari

Reviewer: Oky E. Noorsari

Baca Juga:   [Cerpen] Laki-laki Tanpa Nama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *