[Cernak] Geblek dari Nenek

sumber: freepik.com

 

          Sabtu sore, Gilang terlihat senang sekali. Rupanya, dia akan diajak ayahnya liburan, dan berkunjung ke rumah Nenek besok pagi. Asyik, besok berkunjung ke rumah Nenek. Pasti perjalanannya menyenangkan, batin Gilang.
Rumah Nenek Gilang ini, berada di perbukitan menoreh Kulon Progo. Tepatnya, di salah satu kecamatan di Kulon Progo yaitu Kokap. Untuk masuk ke daerah tersebut, Gilang harus melewati salah satu tempat wisata yaitu Waduk Sermo. Salah satu bendungan di Kulon Progo. Tempatnya di kelilingi oleh perbukitan menoreh.
“Yah, besok jadi kan, ke rumah Nenek?” tanya Gilang.
“Iya jadi, Sayang,” jawab Ayah.
“Asyik! Bisa main ke sungai, nih!” seru Gilang.
“Tidak, Ayah tidak mengijinkan kamu main di sungai, ya,” cegah Ayah.
“Lho, kenapa Yah?”
“Sayang, ini kan musim penghujan, jadi berbahaya,” jelas Ayah.
“Berbahaya bagaimana, Ayah?” Gilang bertanya semakin penasaran.
“Kalau musim penghujan, airnya meluap, Nak. Besok Gilang akan Ayah ajak ke Waduk Sermo saja. Mau kan?”
“Mau, Yah! Wah, sekalian piknik, nih!” seru Gilang dengan bahagia.
“Iya, sekarang Gilang mandi, sudah sore. Nanti malam jangan tidur kemalaman, ya!”
“Siap, Ayah!” jawab Gilang seraya pergi untuk mandi.
***
            Keesokan harinya, anak laki-laki yang berkulit sawo matang itu bangun pagi sekali. Dia sudah tidak sabar untuk ke rumah Nenek. “Yah, Gilang sudah siap, nih.”
            “Sebentar, ya,” jawab Ayah.
            “Buruan, Ayah!” paksa Gilang.
            “Sebentar, Ibu sedang siapin oleh–oleh untuk Nenek.”
            Setelah semuanya siap, Gilang, Ayah, dan Ibu pun berangkat ke rumah Nenek.
            “Gilang, ayo dipakai sabuk pengamannya,” suruh Ayah.
            Gilang pun menurut dengan perintah ayahnya.
Selama perjalanan, Gilang terlihat sangat bahagia. Ayah, sengaja melalui jalur yang tidak biasanya. Beliau ingin sekali memperlihatkan putranya banyak hal.
            “Gilang, lihat itu. Itu adalah Patung Nyi Ageng Serang.” Ayah menunjuk tugu di tengah persimpangan kota Wates. Di atas tugu itu terdapat patung seorang perempuan yang menunggang kuda.
            “Dia siapa, Yah?” tanya Gilang.
            “Dia adalah salah satu pahlawan perempuan, Sayang.”
            Lima menit setelah melewati simpang lima Wates, mereka akan sampai di alun-alun kota Wates.
            “Gilang, kalau ini kamu tahu apa?” tanya Ayah.
            “Kalau ini Gilang tahu Ayah, ini kan alun- alun Wates.” Kali ini Gilang tahu, karena sudah biasa diajak Ayah jalan–jalan sore ke sana. Hanya, biasanya tidak melalui simpang lima kota Wates.
            Setelah melaju kurang lebih 15 menit. “Gilang, kalau jalanan sudah mulai menanjak seperti ini.  Kita sudah mau sampai di mana?”
            “Kita akan sampai di rumah Nenek,” jawab Gilang.
            “Kurang tepat, yang  benar kita hampir sampai ke Waduk Sermo.”
            “Hore!” seru Gilang bahagia. Gilang sangat takjub dengan keindahan Waduk Sermo. “Ayah, luas sekali ya, waduknya.”
            “Iya, kita berhenti di sini saja, ya?” Ayah memarkirkan mobil di dekat jembatan pemeriksaan debit air.
            “Yah, Gilang ingin memancing!” seru Gilang. Ternyata, sejak tadi dia memerhatikan kalau di Waduk Sermo ikannya banyak.
            “Mancing? Mancing di rumah saja ya? Tapi liburan minggu depan.” ucap Ayah sambil tersenyum.
            Setelah puas menikmati pemandangan Waduk Sermo, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Nenek. Jalan menuju rumah Nenek kurang lebih sepuluh menit lagi, memang naik turun pegunungan, tapi Gilang sangat menyukai itu.
            “Setelah dari belokan di depan, kita sampai ke rumah Nenek, kan, Yah?” tanya Gilang.
            “Iya, kamu sudah hafal rupanya ya, Nak,” jawab Ayah.
            “Hore! sampai rumah Nenek!” seru Gilang dari dalam mobil.
            Ternyata, Nenek sudah menunggu di depan rumah.
            “Alhamdulillah, sampai!” seru Ayah.
            Setelah mobil terparkir, Gilang pun turun dari mobil. “Nenek!” panggil Gilang seraya berlari menghampiri si nenek.
            “Gilang,” jawab nenek menerima pelukan cucunya.
            “Nenek sehat kan?” tanya Gilang.
            “Sehat, Gilang juga sehat kan?” tanya nenek lagi.
            Setelah bercengkerama beberapa saat di luar, Nenek pun mengajak Gilang dan keluarga untuk masuk.
            “Masuk yuk, Nenek sudah buatin geblek kesukaan Ayahmu,” ajak Nenek Gilang. Geblek adalah makanan yang terbuat dari kanji, bawang putih dan parutan kelapa. Ini adalah makanan khas Kulon Progo.
            “Wow, geblek buatan Nenek ini sangat lezat lho, Nak. Kamu harus mencobanya,” kata Ayah.
            “Geblek, Gilang tidak mau!” jawabnya.
            “Ayo, cobain dulu Gilang, ini buatan Nenek,” bujuk Nenek Gilang.
            “Tapi, Gilang pernah nyobain di rumah tidak enak, Nek,”
            “Coba makannya sama besengek,” bujuknya lagi. Besengek itu tempe dari tanaman benguk. Yang dimasak dengan cara dikukus lalu diberi santan dan parutan kelapa. Sangat pas, dinikmati dengan geblek.
            “Ya udah, Gilang nyobain.”
            “Gimana rasanya, Nak?” tanya nenek.
            “Ternyata enak ya, Nek.” Gilang mau lagi.
            “Kalau enak ayo habisin,” rayu si Nenek.
“Nanti kalau pulang, Gilang dibawain geblek yang belum di goreng ya, biar ibumu yang mengorengkan. Besengeknya juga masih kok, nanti Gilang boleh bawa sepuasnya.”
            Gilang sangat lahap memakan gebleknya.
Sejak dari rumah Nenek, Gilang sangat suka dengan geblek. Padahal, kalau di rumah Gilang tidak suka. Ternyata mengenalkan makanan dari kecil itu sangat penting. Apalagi makanan khas suatu daerah. Jangan sampai orang daerah, tapi tidak tahu dan tidak suka dengan makanan khasnya daerah sendiri.
//–//
Ditulis oleh: Sifa Dila
Baca Juga:   Surat untuk Ayah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *