[Cernak] Gara-Gara Jo

“Seribu, dua ribu, tiga ribu… Cukuplah.” desis Gilang yang sedang menghitung uang tabungannya.

“Gilang, tabunganmu kamu buka?” tanya Ibu yang ternyata sembari tadi sudah ada di belakangnya.

“Iya, Bu,” jawab anak itu gugup. Dalam hatinya, ‘Aduh, kenapa Ibu melihatnya, aku mau jawab apa ini.’

“Gilang ingin membeli sesuatu?” tanya Ibu semakin mendesak.

“Iya, Gilang ingin membeli buku. Ayah, sudah pulang, kan? Kemarin Ayah berjanji akan mengantar ke toko buk,” ujar Gilang meski dalam hatinya, Maaf, Bu, anakmu ini berbohong. Gilang lalu berpaling pergi mencari sang ayah, tanpa menghiraukan Ibu yang masih ada di kamarnya.

“Ayah, Ayah, Ayah…!” teriak Gilang memanggil ayahnya.

Gilang berlari ke halaman belakang, biasanya Ayah ada di sana sepulang dari kantor. Dia sudah memonyongkan bibirnya seraya berkata, “Ayah ke mana, sih?” Anak itu kemudian mencoba ke depan, ke ruangan tengah juga, tapi Ayah belum juga ada. Dia semakin gusar, tangannya masih mengenggam erat uang tabungan yang akan dia belikan kado.

“Hai, Ganteng?” suara Ayah mengagetkan.

“Ayah, ayo antar aku ke toko.”

“Oh, iya, Ayah hampir saja lupa, Nak. Kamu udah pamit, Ibu?” tanya Ayah.

“Belum, sih. Aku bilang ke Ibu seperti rencana kita kemarin,” ucap Gilang sambil menarik tangan Ayah, dan mendekatkan bibirnya ke telinga.

“Siap, Bos!”

Anak itu berlalu ke dalam rumah untuk berpamitan dengan ibunya.

“Eh, Ibu masih di kamarku. Bu, Gilang mau pamit ke toko buku dengan Ayah, boleh, kan?” kata Gilang.

“Iya, hati-hati.” Gilang lalu merngulurkan tangannya untuk bersalaman kepada Ibu.

*****

“Bismillah, jangan lupa penggangan, Nak. Kamu juga harus sehat, ya, Jo! Bawa kami ke toko kue dengan selamat.” Kata Ayah yang tangannya tampak menepuk body depan motor. Jo, adalah sebutan untuk vespa kesayangan Ayah.

“Ayah, kenapa kita tidak memakai, motor biasanya?” tanya Gilang heran.

“Kasihan Jo enggak pernah dipakai, kan! Lagian, toko kuenya cuma dekat.” Ucap Ayah.

“Waduh… Waduh… Ayah! Kan, bener baru lima menit sudah macet.” Gilang turun dari motor dengan bibir cemberut.

“Maafkan, Nak. Sebentar Ayah benahi, dulu,” kata Ayah yang sedang mengamati mesin si jo.

Ayah mulai membuka bagasi si jo, mengambil kantong perlengkapan. Di sana ada beberapa kunci yang akan membantu Ayah memperbaiki Jo. Memang motor ini sudah tua, ia selalu menemani Ayah saat sekolah dulu. Meski ia sering macet, Ayah enggan untuk menjualnya.

Sudah, lima belas menit, Ayah memperbaikinya, tapi tak kunjung hidup juga. Gilang terlihat mondar-mandir, mukanya sudah semakin masam. Wajah yang sejak dari rumah dipenuhi senyum, sekarang berubah menjadi muram tanpa senyum.

“Ayah, kok lama, sih? Toko keburu tutup!” Gilang mulai tidak sabar.

Ayah kaget, dan melihat jam di tangannya. “Masih satu jam lagi tutupnya,” ujar Ayah.

Bibir Gilang semakin ke depan satu senti. Anak itu memainkan kakinya ke tanah.

Akhirnya, Jo mulai hidup. “Asik!” Gilang merasa terselamatkan.

“Alhamdulillah, mudah-mudahan tidak macet lagi,” kata Ayah sambil tersenyum melihat anak semata wayangnya yang sudah ceria.

“Buruan, Yah.”

*****

Baru dapat beberapa puluh meter, Jo macet lagi. Bulir-bulir lembut jatuh di pipi Gilang. Gilang menangis, dia takut sekali tidak bisa membelikan kue untuk Ibu. Padahal, sudah dari beberapa bulan yang lalu dia menabung.

Ayah mengelus kepala Gilang, “Sabar, ya, Sayang. Kuenya pasti terbeli. Sudah hapus air matamu itu, nanti gantengnya hilang, lho,” kata Ayah menatap wajah Gilang dari dekat.

“Iya, Ayah.” Gilang mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya. ‘Rasanya ingin jalan saja ke toko kuenya dan meninggalkan Ayah di sini. Tapi, Ayah pasti tidak mengizinkan,’ batin Gilang.

“Itu sepertinya, Om Ardi, Yah!” seru Gilang. Dia melambai-lambaikan tangan berharap Om Ardi melihatnya.

“Hai, Gilang!” sapa Om Ardi.

“Om, aku dan Ayah mau ke toko kue, tapi Jo macet terus. Sedangkan, tokonya sudah mau tutup,” kata Gilang dengan muka memelas.

“Ya, udah, ayo aku antar.”

“Boleh, kan, Yah?” Gilang meminta izin kepada Ayah. Ayah menjawab dengan anggukan.

Dengan wajah berbinar Gilang pergi ke toko kue dengan Om Ardi. Tidak ada 10 menit, mereka sudah sampai ke toko. Gilang langsung memilih kue untuk Ibu. Setelah mendapatkan kue Gilang pulang, dia menghampiri ayahnya di jalanan tadi.

Jo juga sudah hidup lagi, mereka pun pulang. Sampai rumah, Gilang langsung menghampiri Ibu dan memberikan kuenya. Selamat ulang tahun, Ibu. *)

______

Ditulis oleh : Sifa Dila
Reviewer: Jack Sulistya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *