[Cernak] Gadis Pecinta Alam

sumber: tripsinborneo-ind[dot]blogspot.co.id

Udara terasa panas, terik matahari menyengat bumi. Sejak hutan di lereng bukit ditebangi, warga desa disekitar lereng bukit tersebut mengeluh. Selain merasa gerah, warga desa sekitar lereng bukit merasa resah dan khawatir akan terjadi bencana di desanya.

“Ya ampun, panas sekali udara hari ini!” teriak Wanda kepada teman-temannya. Wanda dan teman-temanya adalah warga desa di lereng bukit itu.

“Iya, mungkin nanti akan turun hujan yang sangat lebat,” sahut  Dewi sambil memandang ke arah langit.

“Ah, kamu jangan menakut-nakuti kami,Wi. Memang kamu ahli cuaca?” tanya Sofi dengan perasaan khawatir.

“Perempuan tidak tepat jika jadi ahli geologi,” seru Wanda.

“Eh, siapa bilang perempuan tidak bisa menjadi ahli geologi? Lihat saja nanti perkiraan cuacaku pasti tepat,” jawab Dewi yakin.

“Tidak usah bicara cuaca lagi.Ayo, kita segera pulang!” ajak Wanda kemudian.

Satu jam kemudian ternyata langit mendung. Gumpalan-gumpalan awan hitam mulai berkumpul. Suara gemuruh petir mulai menggelegar seakan memberikan sebuah isyarat. Tak berapa lama kemudian hujan deras mulai turun. Angin pun bertiup kencang disertai dengan sambaran petir. Warga desa lereng bukit mulai waspada.

Keluarga Dewi berkumpul di teras rumah sambil mengamati situasi di sekitar rumahnya yang terletak di lereng bukit itu.

“Waduh, hujannya deras sekali!” kata Dewi kepada bapaknya.

“Iya nih, Bapak merasa akan terjadi sesuatu di desa kita,” jawab bapak Dewi

Belum selesai keluarga Dewi memperbincangkan keadaan lereng bukit yang gundul tiba-tiba, “Krosak gruduuuk… gruduuuk… gruduuuk…!” terdengar suara gemuruh dari atas bukit. Suara kentongan mulai terdengar bersahutan. Itu pertanda ada bahaya di desa tersebut. Bahkan warga ada yang berteriak- teriak,Longsor longsor !”

”Ayo, anak-anak kita mencari tempat yang aman!” ajak bapak Dewi.

“Ada apa, Pak?” tanya ibu Dewi.

“Sepertinya tanah di lereng bukit ini longsor Bu. Ayo!Segera kita keluar dari rumah menuju ke tempat yang aman!” ajak Bapak Dewi sambil menggendong Dinda, adik Dewi.

Warga lereng bukit segera berbondong-bondong mencari tempat yang aman. Mereka berkumpul di balai desa. Balai Desa terletak di tempat yang aman karena berada di daerah datar. Warga desa lereng bukit mulai berdatangan untuk mengungsi di gedungtersebut.

Pak Lurah dan para relawan menyiapkan keperluan warga desa yang mengungsi. Mereka menyiapkan ruangan dan dapur umum. Selain itu relawan juga menyiapkan perlengkapan logistik untuk pengungsi. Mereka bahu membahu menolong warga yang tertimpa musibah.

Menjelang malam, warga lereng bukit yang merupakan korban longsor sudah berkumpul di Balai Desa.

“Untung kejadian tanah longsornya siang hari ya, Pak,” kata Dewi kepada bapaknya.

”Iya, kalau longsor terjadi malam hari pasti akan banyak korban jiwa,”  jelas bapak Dewi.

“Untung juga musibah ini tidak menimbulkan korban sehingga semua warga lereng bukit ini selamat,” lanjut bapak Dewi kemudian.

“Sampai berapa lama kita akan tinggal di pengungsian ini Pak?” tanya Dewi.

Belum sempat bapak Dewi menjawab, datang beberapa relawan membawa nasi bungkus. Mereka mengantar makan malam bagi pengungsi. Warga yang mengungsi pun segera menikmati makan malam.

“Mengapa relawannya ada yang perempuan,Pak? Apa tidak besar resikonya?” tanya Dewi sambil menikmati makanannya.

“Memangnya hanya laki laki saja yang boleh menjadi relawan? Perempuan juga boleh kok!” jelas bapak Dewi.

Mendengar penjelasan bapaknya Dewi mulai berpikir tentang pekerjaan yang tidak hanya dapat dilakukan oleh kaum lelaki saja. Belum juga selesai merenung Dewi sudah tertidur pulas.

Keesokan harinya, setelah kejadian tanah longsor, Dewi dan  teman-temannya selalu membicarakan kejadian itu. Apa yang menyebabkan tanah longsor tersebut. Bagaimana caranya untuk mencegah agar peristiwa itu tak terulang lagi. Pertanyaan – pertanyaan itu bergelut di benaknya. Untuk mencari jawabannya, mereka meminta pendapat dan bantuan pembina pramuka di sekolahnya. Mereka akan melakukan aksi untuk mencegah bencana longsor di desanya.

Agar kegiatannya berjalan lancar, Dewi minta ijin dan pendapat bapaknya tentang kegiatan yang akan dilakukan.

“Apa pendapat Bapak, seandainya Dewi  mengadakan kegiatan reboisasi di desa ini?” tanya Dewi mengawali pembicaraan dengan bapaknya.

“Kamu itu seorang gadis, apakah kamu mampu?” tanya Bapak kepada Dewi. “Pekerjaan itu sangat berat, Nak,” lanjut bapak mengingatkan Dewi.

“Jika Bapak mengijinkan, aku akan berusaha sekuat tenaga!” jawab Dewi dengan penuh keyakinan.

”Biarlah hal itu diurusi oleh aparat pemerintah. Kamu tidak perlu bersusah payah memikirkannya. Belajar saja supaya kamu menjadi anak yang pintar!” kata Bapak menasihati.

Belum sempat Dewi menjawab, Bapak sudah menyuruh Dewi pergi tidur karena hari sudah larut malam.

Selang beberapa hari kemudian, Dewi dan teman-temannya akan mengadakan kegiatan reboisasi di lereng bukit tempat tinggalnya. Mereka dipandu oleh pembina pramuka untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Sebelum pelaksanaan kegiatan, mereka akan menyiapkan alat dan bahan untuk acara tersebut.

”Berapa banyak alat dan bahan yang harus kita siapkan,Kak Sasa?” tanya Dewi kepada pembina pramukanya.

“Kita harus tahu dulu luas lahan yang akan direboisasi. Bibit tanaman, pupuk kompos dan alat lainnya,” jelas Kak Sasa.

“Wah, banyak sekali! Berarti kita membutuhkan biaya yang banyak juga dong,Kak!” seru Wanda.

“Iya, nanti kita minta bantuan Pak Lurah untuk menyediakan bibit tanamannya!” lanjut Kak Sasa.

Beberapa minggu kemudian semua bahan dan alat sudah tersedia. Dewi dan teman-teman pramuka siap melaksanakan kegiatan reboisasi. Mereka berangkat menuju lereng bukit sambil membawa bahan dan alat yang diperlukan.

“Berapa luas lahan yang akan kita tanami,Kak?” tanya Wanda kepada Kak Sasa.

“Ya kurang lebih 82 hektar!” jawab Kak Sasa singkat.

“Wah, ternyata tanah yang gundul luas juga,ya!” teriak Sofi dan Dewi hampir bersamaan.

Tak berapa lama, akhirnya Dewi dan teman-temanya tiba di tempat yang dituju.

“Adik-adik kita sudah sampai, nih. Kita istirahat sebentar setelah itu baru mulai kerja!” komando Kak Sasa.

Dewi beserta teman-temannya mulai istirahat sambil membuka bekal yang mereka bawa.Setelah dirasa cukup istirahat, mereka mulai bekerja menanam bibit pohon pinus. Ada yang mencangkul, ada yang menanam, ada yang menyiram, dan memberi pupuk. Mereka berkerja dengan hati gembira. Harapan mereka hanya satu semoga alam mereka tetap lestari, bencana tanah longsor tak ada lagi.

Beberapa bulan berlalu, kerja keras Dewi dan teman-temannya membuahkan hasil. Tanaman yang mereka tanam tumbuh subur. Pohon-pohon pinus berjajar rapi, udaranya sejuk. Lereng bukit tampak menghijau. Banyak orang berdatangan untuk menikmati kesejukan dan keindahan alam di lereng bukit itu. Kerena semakin lama semakin banyak pengunjung maka oleh pemerintah daerah kawasan itu dijadikan sebagai obyek wisata.

Berkat jasa Dewi dan teman-temannya, pemerintah memberikan penghargaan kepada mereka. Penghargaan diberikan di Pendopo kabupaten. Orang tua mereka turut diundang dalam acara tersebut. Ketika Dewi maju ke panggung menerima penghargaan, Bapak merasa terharu menyaksikannya. Beliau menyesal telah meremehkan anak gadisnya untuk berkarya.

            “Ternyata kamu bisa,Nak. Walau kau seorang gadis, kamu sudah mampu membuktikannya. Perbedaan gender bukan suatu alasan untuk membangun negara!” ujar Bapak lirih sambil menangis menahan rasa haru.

SELESAI

Suprapti. Seorang guru yang berdomisili di Prambanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *