[Cernak] Dua Pelangi

“Gilang!” Suara Ayah tiba-tiba mengagetkan Gilang yang sedang menonton televisi. Hari ini waktu pembagian rapor. Wali murid wajib hadir, untuk mengambil rapor sekaligus rapat kelas. Itu sebabnya, Gilang tidak ikut ke sekolah.

“Asyik, Ayah sudah datang.” Gilang berlari menghampiri Ayah. “Bagaimana raporku, Yah?”

“Gilang suka belajar tidak, sih?” tanya Ayah dengan muka becanda.

“Ya, suka dong, Yah. Nilai Gilang jelek, ya?” Sambil cemberut anak itu mendekati ayahnya berharap sang ayah segera memberi tahu nilai rapornya.

“Selamat, ya. Nilainya sangat bagus.” Ayah berkata sambil memberi pelukan yang hangat kepada anak semata wayangnya.

“Hore!” Gilang lalu membuka rapor, seolah tidak percaya kalau mendapat nilai bagus.

“Besok Ayah libur, kita mau pergi ke mana?” tanya Ayah.

“Kita memancing saja, Yah.” Gilang bersemangat. Anak itu memang hobinya memancing.

“Baiklah, besok kita mancing,” ucap Ayah seraya mencubit pipi Gilang yang memang sedikit chubby.

“Ayah, sekalian ajak Boni. Kemarin, dia bilang akan menginap di sini kalau libur telah tiba.”

“Siap, Bos. Nanti, Ayah jemput dia.”

                                                ***

Terlihat Gilang mondar mandir di teras depan. Dia menunggu Ayah yang sedang menjemput Boni. Dia ingin menyiapkan beberapa perlengkapan memancing bersama saudaranya itu. Dia  juga menunggu Ayah membawakan pancing baru untuknya. Memang beberapa waktu lalu, Ayah berjanji pada Gilang, kalau nilai rapor bagus akan dibelikan pancing baru.

“Ayah…!” Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Ayah datang.

“Wow, pancingnya bagus sekali.”

“Iya, dong. Ini yang satu untuk Gilang, lalu satu lagi untuk Boni. Ayah juga sudah membeli umpannya.”

“Wah, berarti sudah lengkap. Eh, tapi bekal untuk yang memancing kan, belum, Yah.” Sambil tertawa Gilang menunjuk perutnya.

“Ini, umpan untuk yang mancing juga sudah beli, kok.” Ayah menunjuk satu kantong besar berisi makanan dan minuman.

“Kalau ini namanya sudah sangat lengkap, Yah. Tinggal berangkat besok.”

***

Pagi itu, suasananya sangat mendung dan dingin. Hujan telah mengguyur di sepanjang malam sampai pagi ini. Sepertinya langit sedang ingin murung, sama juga dengan muka Gilang yang terlihat sendu.

“Bon, kok hujannya tidak berhenti, ya?”

“Iya, bisa-bisa liburan kita batal.” Kedua anak kecil yang mempunyai wajah sangat mirip itu murung sekali. Mereka hanya bisa menatap hujan di teras depan.

“Jangan sampai batal. Ayo dong, hujan kamu berhenti.” Gilang berbicara dengan hujan seolah paham dengan perkataannya.

Kedua anak itu masih saja berjalan ke sana kemari. Mereka semakin panik karena hujan tidak mau reda padahal hari sudah sangat siang. Dari dalam rumah ternyata Ayah dan Ibu memperhatikan kelakuan mereka.

“Gilang, karena ini hujan, Ibu tidak mengizinkan Ayah membawa kamu dan Boni pergi memancing,” kata Ibu.

“Kalau nanti reda, Bu?” tanya Gilang sedikit merengek.

“Ibu tetap tidak mengizinkan, sungainya pasti meluap karena hujan tidak berhenti sejak tadi malam. Itu sangat berbahaya, Nak.” Ibu berkata dengan lebih tegas.

“Ya, sudah di rumah saja. Bon, kita nonton televisi saja, yuk!” kata Gilang seraya berlalu bersama Boni.

Gilang, dan Boni pun beranjak ke ruangan tengah. Ternyata televisi tidak bisa menyala.

“Ibu, televisinya tidak bisa hidup!” kata Gilang setengah berteriak.

Ibu kemudian menghampiri mereka. “Oh, listriknya kan, mati, Nak,” ujar Ibu lagi.

“Gimana kalau kita meminta Ibu membuatkan kue saja,” timpal Ayah, yang ternyata dari tadi sudah berada di belakang Ibu.

“Kue!” Gilang memonyongkan bibirnya, seperti tidak setuju dengan usul Ayah.

“Gimana kalau Ibu membuatkan kalian kue rainbow?” tanya Ibu.

“Kalau itu, Gilang setuju. Kamu bagaimana, Bon?” ujar Gilang seraya meminta persetujuan Boni. Boni pun mengangguk. Tandanya dia setuju.

“Tapi, kita boleh membantu kan, Bu?” tanya Gilang.

Mereka lalu menuju dapur. Ibu mempersiapkan beberapa bahan. Gilang dan Boni menunggu perintah dari Ibu.

“Eh, listriknya kan, mati,” ujar Ayah.

“Tenang anak-anak, kita pakai manual saja,” kata Ibu menenangkan.

“Gilang, loyang itu tolong dibersihkan, lalu diolesi mentega.” 

“Siap, Bu.” Terlihat wajah Gilang sudah mulai tidak masam lagi.

Sementara itu, Ibu mencampur beberapa bahan kue. Pertama Ibu mengaduk telur, gula dan bahan pengembang. Setelah semua tercampur dan mengembang, baru tepung, santan dan minyak dimasukkan, kemudian diaduk lagi sampai tercampur rata. Sekarang bahan kue sudah jadi, tinggal dibagi beberapa bagian untuk diberi warna dan dikukus.

“Ibu, harum sekali. Aku tidak sabar mencicipinya.” Gilang mendekatkan hidungnya ke loyang roti.

“Sabar dong, masih beberapa lapis lagi.” Kata Ibu.

“Mengukusnya harus tiap lapis begitu ya, Bu?” tanya Gilang.

“Iya, supaya nanti terlihat warna-warni.”

Setelah setiap lapis dikukus, akhirnya matang juga kue rainbow-nya.

“Lihat Bu, kue rainbow-nya matang pas hujanya reda, dan matahari muncul kembali!” seru Gilang.

“Wow, lihat ada pelangi!” Boni pun tak kalah seru dengan Gilang.

“Iya, cantik sekali pelangi itu, secantik kue ini. Eh, Ibu juga cantik, kok.”

Gilang, Boni, dan Ibu akhirnya menikmati kue rainbow bersama dengan pelangi yang hadir di siang itu. Sangat manis dan cantik dua pelangi hari ini.*)

Ditulis oleh: Sifa Dila

Baca Juga:   Guru: Pahlawan Bertanda Jasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *