[Cernak] Celana… Oh Celana…

Setiap libur panjang, aku, Nita, Bapak, dan Ibu berkunjung ke rumah Nenek. Nenek tinggal di Giritontro. Desa itu masih jauh dari keramaian. Fasilitas dan hiburan pun masih jarang. Namun, kehidupan masyarakatnya rukun dan damai. Sejahtera seluruh warganya.

Kami pergi ke rumah Nenek menggunakan bus umum. Perjalanan sangat mengasyikkan. Pemandangan di kanan kiri jalan membuatku terkagum dengan keagungan Tuhan. Sawah yang hijau melambangkan begitu makmurnya negeri ini.

Sampai Dusun Pelet, kami turun dari bus. Dari Pelet ke tempat tinggal Nenek masih jauh. Dari situ, kami harus berjalan kaki kira-kira 5 km lagi. Tidak ada kendaraan menuju ke sana. Kami harus berjalan kaki. Untung ada Paklik Kasi yang sedang mencari rumput di ladang. Kami bertemu ketika melewati ladangnya.

“Bu, bukankah itu Paklik Kasi?” tanya Nita kepada Ibu.

“Oh, iya benar, itu Paklik Kasi,” jawab Ibu.

Aku dan Nita berteriak memanggil Paklik Kasi. Mendengar panggilan, Paklik Kasi menoleh.

“Lah, kalian? Mengapa tidak berkirim kabar dahulu jika akan ke sini?” tanya Paklik.

“Iya, Lik, kebetulan Titik dan Nita sudah libur dari kemarin. Ya, maaf, jika kami belum sempat memberitahu,” jawab Ibu.

“Ya sudah. Mari, Titik dan Nita kugendong secara bergantian,” kata Paklik Kasi.

“Hore…!” teriakku dan Nita hampir bersamaan.

Ibu tersenyum melihat girangnya kami.

Sesampainya di rumah Nenek, Aku dan Nita berlari menemuinya.

“Nek, kami datang! Nenek di mana?” teriak Nita.

“Oh, cucuku sudah datang, to. Sini, Nenek ada di ruang tengah,” jawab Nenek.

Aku dan Nita berlari menuju ruang tengah. Kami menemui Nenek yang sedang duduk. Aku dan Nita merangkul dan menciuminya.

Terlihat wajah Nenek berbinar-binar melihat kami. Ibu menyusul di belakang kami. Ibu memberi salam dan mencium tangan Nenek.

Di ruang tengah, beberapa tetangga sudah hadir di rumah nenek. Mereka datang karena mendengar kami akan datang. Ibu menyalami mereka.

“Tik, beri salam tuh, para tetangga Nenek yang datang ke sini,” kata Ibu kepadaku.

“Mengapa tetangga Nenek ke sini, Bu? Banyak lagi,” bisikku.

“Tik, orang-orang di sini, rasa kekeluargaannya masih kuat. Mereka merasa senang kita berkunjung ke desa ini. Meskipun, kita berkunjung ke tempat Nenek sendiri. Namun mereka beranggapan bahwa kita datang ke keluarga besar masyarakat sini. Jadi, wajar jika mereka ke sini sebagai wujud menghargai dan menyapa kita.”

Aku manggut-manggut tanda mengerti.

Selesai bersalam sapa, kami duduk di antara mereka. Ibu menyiapkan makan siang yang dibawanya dari rumah. Setiap berkunjung ke rumah Nenek, Ibu membawa masakan dari rumah. Ibu hanya memasak sayur dan lauk. Nenek yang menyiapkan nasi untuk makan bersama. Setelah semua siap, kami makan bersama. Para tetangga Nenek juga ikut menikmati masakan Ibu. Suasana keakraban terasa kental.

Selesai makan, kami berbincang-bincang.

“Tik, Nit, seperti biasa, mereka menunggu kalian menari, loh. Jika sudah selesai makan, hibur mereka dengan tarianmu,” kata Ibu kepadaku dan Nita.

Desa Giritontro merupakan desa yang jauh dari keramaian. Desa ini jarang mendapatkan hiburan. Kesibukan mereka hanya bertani dan beternak. Mereka jarang melihat film, jathilan, atau hiburan yang lain. Maka dari itu, setiap kami datang ke rumah Nenek, selalu diminta menari.

“Iya, Bu,” jawab Nita.

“Nit, kita akan menari apa?” tanyaku kepada Nita.

“Menari Bondan saja, Kak. Mereka pasti kagum jika kita menari di atas kendi.”

“Oh, iya, ya. Baiklah.”

“Yang kompak, ya, Kak. Biar mereka senang melihat tarian kita. Kasihan kan, mereka tidak pernah mendapatkan hiburan.”

Setelah kami siap, Ibu menyalakan tape recorder. Ibu membawa tape recorder beserta baterai, karena di sana belum ada listrik. Kami memulai menari bak menari di panggung hiburan.

Selesai menari, mereka bertepuk tangan. Ada yang masih terkagum-kagum melihat kepiawaian kami menari di atas kendi. Ada yang meminta kami menari lagi. Bahkan, ada yang meminta kami menari di acara kampung nanti malam.

“Oh, iya, anakmu menari di acara kampung nanti malam saja, Nduk,” kata Mbah Minah kepada Ibu.

“Acara apa, mBah?” tanya Ibu.

“Itu, acara rutin pertemuan warga sepedukuhan.”

“Jam berapa, Mbah?”

“Jam tujuh malam, di rumah Pak Dukuh. Pasti warga kampung senang melihat anak-anakmu, Nduk.”

“O, ya, baik Mbah. Sekalian kami bertemu dengan para warga. Kebetulan lama tidak bertemu.”

Setelah dianggap cukup, Ibu menyuruh kami beristirahat.

“Ya, sudah, Tik, Nit, kamu istirahat dulu. Nanti malam, kita ke rumah Pak Dukuh,” kata Ibu kepadaku dan Nita.

Malam telah tiba. Kami dan Nenek berangkat ke rumah Pak Dukuh. Semua warga pedukuhan sudah berkumpul. Kami disambut warga dengan gembira. Kami menyalami satu per satu warga yang hadir lebih dahulu.

Setelah dianggap cukup dalam salam sapa, kami didandani Ibu menggunakan kostum tari. Di akhir Add Newpertemuan, kami diminta menari. Seluruh warga tertegun melihat kami.

Pada saat menari, tiba-tiba Nita menepi dan agak mojok. Ia berhenti dan menghadap ke pojok dinding. Saya merasa heran. Saya pikir, ia lupa dengan tarinya ataupun pusing. Semua mata melihat ke arah Nita. Ternyata, celana Nita melorot. Semua hadirin tertawa. Karena masih kecil, Nita tidak merasa malu.

Ibu membantu Nita memakaikan celananya. Setelah dipakaikan, Nita meneruskan menari lagi. Gelak tawa dan kegelian masih terlihat di wajah warga. Selesai menari, warga bertepuk tangan dan senang. Nita ikut tertawa setelah dielus-elus kepalanya oleh Pak Dukuh.

“Kamu memang anak yang lucu. Masak, menari kok, celana melorot. Ha… ha…,” kata Pak Dukuh.

***

Banyak orang yang perlu uluran kasih kita. Sekecil apapun yang kita perbuat, akan membuat orang lain bahagia. Seperti Titik dan Nita, mereka menghibur warga desa demi membahagiakannya. Meskipun masih kecil, mereka mampu berbuat sesuatu untuk kebahagiaan orang lain.

Ditulis oleh: Eti Daniastuti

1 thought on “[Cernak] Celana… Oh Celana…”

  1. Hihihi. Momen celana melorotnya apik, apalagi pesannya. Sayang, setelah di awal sebutannya “Aku”, lalu berubah menjadi “Saya”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *