[Cernak] Caranggesing Istimewa

“Buat apa beli pisang sebanyak itu, Bu?” Mita melihat beberapa sisir pisang dalam keranjang.

“Itu pisang dari Mbah Darmo. Beliau sedang panen,” ujar Bu Asih menjelaskan.

Mbah Darmo, tetangga Mita, memiliki beberapa pohon buah di kebun belakang rumah. Ada pisang, jambu, alpukat, dan mangga. Biasanya perempuan tua itu sering membagikan buah-buahan hasil panen pada para tetangga. Mbah Darmo hidup sebatang kara, suaminya telah lama meninggal. Sedang anak-anaknya merantau ke kota.

“Tapi, kok banyak sekali?” tanya Mita lagi.

“Iya, sebagian untuk Bude Marni,” kata Bu Asih, menyebut nama kakak perempuannya.

“Terus, mau dibuat apa pisang itu, Bu?” Mita masih penasaran.

“Rencananya Ibu mau buat caranggesing.” Bu Asih menyebut sebuah nama makanan yang asing di telinga Mita.

“Caranggesing? Makanan apa itu?” Rasa ingin tahu anak perempuan itu muncul.

“Pokoknya enak banget. Nanti bantu Ibu masak, ya?” Bu Asih tersenyum sambil mengerlingkan mata pada anak gadisnya.

Sore itu, Mita membantu ibunya membuat caranggesing. Bu Asih menyiapkan bahan-bahannya. Ada pisang, roti tawar, telur, santan, gula, panili, dan garam. Ibu Mita juga menyiapkan beberapa lembar daun pisang dan lidi. Anak perempuan itu membantu memotong-motong pisang dan roti tawar. Bu Asih lalu mencampur pisang dan roti tawar dengan bahan-bahan lainnya. Setelah itu, adonan dibungkus dengan daun pisang. Lalu, dikukus hingga matang.

Aroma harum santan menguar di seantero dapur. Mita sudah tak sabar menanti hidangan istimewa yang sedang dimasak. Gadis berambut panjang itu memang belum pernah merasakan makanan tradisional yang disebut caranggesing.

“Berapa menit lagi, Bu?” Mita bertanya untuk kesekian kalinya.

“Sabar. Tunggu 10 menit lagi, ya,” jawab Bu Asih seraya melihat jam dinding.

“Baunya harum sekali, pasti enak rasanya,” Mita sudah membayangkan menikmati makanan itu.

“Tentu saja, ini kan, caranggesing istimewa.” Bu Asih mengacungkan dua ibu jari.

Sepuluh menit pun berlalu. Setelah mematikan kompor, Bu Asih membuka panci pengukus. Ia lalu mengeluarkan caranggesing yang sudah matang dan meletakkan di sebuah baskom.

“Tunggu. Biar dingin dulu, Cah Ayu,” cegah ibu Mita saat melihat putrinya hendak mengambil caranggesing yang masih panas.

Mita menarik tangannya yang sudah terjulur sambil meringis menahan malu. Setelah menunggu beberapa saat lagi, akhirnya gadis cilik itu bisa menikmati caranggesing istimewa.

“Wah, enak sekali, Bu.” Mita tak henti memuji, mulutnya sibuk mengunyah sajian spesial buatan ibunya.

“Kalau sudah selesai makan, antar beberapa caranggesing ini ke rumah Mbah Darmo, ya.” Bu Asih menaruh beberapa caranggesing di piring.

“Lho, kenapa Mbah Darmo harus dikasih, Bu? Beliau kan, punya banyak pisang, bisa buat caranggesing sendiri.” Mita agak keberatan.

“Nggak baik bicara seperti itu, Nduk. Mbah Darmo sudah sering memberi kita buah-buahan dari kebunnya. Sudah sewajarnya kita juga memberi sesuatu untuk beliau.” Bu Asih menasehati putrinya.

Mita pun melangkah keluar rumah dengan membawa sepiring caranggesing. Sesampainya di rumah Mbah Darmo, Mita mengetuk pintu dan mengucapkan salam.

Assalamu’alaikum, Mbah,” ucap Mita.

Tak ada suara yang menyahut. Mita mengetuk sekali lagi.

“Ya, masuk saja, pintunya nggak dikunci.” Terdengar sebuah suara yang lemah.

Mita lalu masuk dan mencari Mbah Darmo. Ternyata, Mbah Darmo sedang terbaring di kamar.

“Kenapa, Mbah?” Mita mendekati Mbah Darmo di ranjangnya.

“Ini simbah agak pusing dan lemas,” kata Mbah Darmo pelan. Wajah perempuan tua itu agak pucat.

“Simbah sudah makan?” tanya Mita khawatir.

“Tadi pagi makan bubur.” Mbah Darmo menjawab lirih.

Mita melihat mangkuk bubur yang masih berisi setengah. Gadis 10 tahun itu memerhatikan keadaan kamar Mbah Darmo. Di dinding kamar, ada beberapa foto Mbah Darmo dengan anak-anaknya. Ada juga foto almarhum suaminya. Tiba-tiba, Mita merasa kasihan pada Mbah Darmo. Pasti Mbah Darmo sangat kesepian, apalagi sekarang sedang sakit, batin Mita.

“Mbah, ini Ibu buat caranggesing. Mita suapin, ya,” kata Mita seraya menunjukkan piring berisi caranggesing.

“Makasih, Nduk. Simbah malah ngerepotin kamu,” ujar Mbah Darmo.

“Nggak apa-apa, Mbah,” ujar Mita sambil tersenyum.

Mita mengambil sendok di dapur, lalu ia menyuapi Mbah Darmo.

“Enak caranggesingnya, ibumu berhasil membuat dengan baik. Besok kalau ada pisang yang matang, aku akan berikan pada ibumu lagi.” Mbah Darmo terlihat senang.

Setelah beberapa saat menemani Mbah Darmo, Mita pun berpamitan. Sesampainya di rumah, anak perempuan itu menceritakan kondisi Mbah Darmo pada ibunya.

“Nah, itulah kenapa kita harus membantu Mbah Darmo,” kata Bu Asih setelah mendengar cerita Mita.

“Iya, Bu. Mita akan sering main ke rumah Mbah Darmo. Semoga ia tidak terlalu kesepian lagi.” Mita berjanji pada ibunya.

Alhamdulillah, terima kasih, Cah Ayu. Sebenarnya resep caranggesing itu Ibu dapat dari Mbah Darmo, lho. Dulu beliau pernah jadi juru masak di restoran, makanya punya resep yang maknyus,” tutur Bu Asih.

“Wah, ternyata hebat juga Mbah Darmo.” Mita jadi kagum pada tetangga istimewanya itu.*

Ditulis oleh: Maya Romayanti

Reviewer: Jack Sulistya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *