[Cernak] Bukan Salahnya Hujan

 

sumber : gadispanahbintang[dot]blogspot[dot]com

 

Hari ini Bimbi berulang tahun. Ayah dan Bunda berjanji mengajak Bimbi ke pantai untuk merayakan ulang tahunnya. Bimbi senang sekali. Bimbi bangun lebih awal dari biasanya, tak sabar ingin segera ke pantai. Dia sudah membayangkan betapa asyiknya bermain pasir, dan mandi di pantai.

 

“Tumben, Bimbi sudah bangun, biasanya susah kalau dibangunkan,” kata Ayah saat melihat Bimbi duduk di meja makan, sudah mandi dan berpakaian rapi.

 

“Iya dong, Yah, kan Bimbi ulang tahun, harus semangat,” sahut Bimbi sambil tersenyum lebar.

 

“Oh, iya. Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga semakin sholihah, ya.”  Ayah memeluk dan mencium pipi Bimbi. Bunda pun ikut memeluk putri kesayangannya. Bimbi tertawa gembira.

 

“Hari ini jadi ke pantai ‘kan?” tanya Bimbi, mulutnya sibuk mengunyah nasi goreng spesial buatan Bunda.

 

“Tentu saja. Ayo, segera habiskan sarapan, lalu siapkan tasmu, Bimbi. Jangan lupa bawa baju ganti dan handuk, ya,” ujar Bunda sambil membereskan piring di meja makan.

 

“Beres, Bun.” Bimbi mengacungkan jempol, dan bergegas ke kamar untuk mempersiapkan tasnya.

 

Sesudah sarapan, Ayah beranjak ke garasi untuk memanaskan mobil. Ayah memandang langit yang tertutup mendung tebal. Cahaya matahari hanya sedikit menyembul di antara mendung itu. Dalam hati ayah berdo’a, semoga mendung itu tertiup angin.

 

Tak lama hujan pun turun. Awalnya gerimis, lalu semakin lama semakin deras. Saat mendengar suara hujan, Bimbi berlari ke ruang depan, dan menyibak gorden yang masih menutup jendela.

 

“Wah, hujan nih,” gerutu Bimbi dengan wajah merengut.

 

“Sabar ya, kita tunggu hujan reda dulu. Semoga tidak lama.” Bunda membelai pundak Bimbi yang berdiri di depan jendela, memandangi hujan yang turun dengan derasnya.

 

“Iya, biasanya kalau langsung deras nggak akan lama hujannya,” kata Ayah mencoba menenangkan Bimbi yang mulai gelisah.

 

Bimbi berjalan mondar mandir dengan wajah yang lesu. Ayah dan Bunda duduk di ruang depan sambil membaca koran. Hari semakin siang. Setelah dua jam menunggu, hujan belum berhenti juga.Akhirnya Ayah memutuskan untuk menunda acara ke pantai. Bimbi sangat sedih dan kecewa. Matanya berkaca-kaca, senyum riangnya tak nampak lagi.

 

“Huuh, gara-gara hujan nggak jadi ke pantai!” Bimbi kesal sekali. Rencana main ke pantai gagal karena hujan.

 

            “Kenapa sih harus ada hujan, bikin susah aja, mau pergi susah, baju jadi basah, banjir dan longsor juga gara-gara hujan, kan?” gerutu Bimbi.

 

Bunda tersenyum, dan menuntun Bimbi duduk di sofa dekat jendela. Ayah pun ikut duduk bersama mereka.

 

“Bimbi sayang, hujan itu anugerah dari Allah. Karena hujan tanaman bisa tumbuh subur, persediaan air juga melimpah. Hujan juga bisa membersihkan udara yang tercemar, lho,” kata Bunda sambil memeluk Bimbi.

 

“Lalu kenapa ada banjir dan longsor, itu kan,terjadi karena hujan?” tanya Bimbi.

 

“Banjir itu bukan hanya karena hujan, Sayang. Banyak penyebabnya, misalnya hutan-hutan yang ditebangi sampai gundul,sehingga saat hujan tidak ada yang menghalangi air turun dari bukit. Selain itu, bisa juga akibat sampah-sampah yang dibuang ke sungai sehingga menyumbat aliran air,” Ayah turut menjelaskan.

 

“Tapi,hujan juga bisa bikin kita sakit, kan Bunda?” Bimbi masih belum puas.

 

“Belum tentu juga. Kita sakit karena badan kita sedang lemah. Kalau badan kuat, insya Allah tidak akan sakit walaupun kehujanan,” ujar Bunda. Bimbi mengangguk-angguk tanda mengerti.

 

“Tapi,kalau hujan kita nggak bisa main di luar, kan? Bosan deh,” Bimbi masih merajuk.

 

“Biar pun nggak bisa main di luar, masih banyak,kok, yang bisa kita lakukan di dalam rumah saat hujan,” kata Bunda. “Kita bisa main ular tangga, membaca buku atau membuat kue.”

 

“Wah, buat kue kayaknya asyik, tuh,” sahut Ayah.

 

“Bimbi mau bantu Bunda buat kue?” tanya Bunda.

 

Bimbi tersenyum dan mengangguk tanda setuju.

 

“Lihat, ada pelangi Bunda!” teriak Bimbi sambil berlari mendekat ke kaca jendela.

 

“Indah ya, pelangi terjadi karena ada hujan,lho,” kata Bunda.

 

Hari itu Bimbi tidak jadi bermain ke pantai, tapi Bimbi tetap gembira karena bisa bermain bersama Ayah dan Bunda. Bimbi juga membantu Bunda membuat kue cokelat yang lezat.

Ditulis oleh Maya Romayanti, seorang guru SD yang sedang belajar menulis. 

 FB Maya Romayanti, IG @myromayanti

Baca Juga:   Mengenal Pasar, Yuk!

One thought on “[Cernak] Bukan Salahnya Hujan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *