[Cernak] Botol Minuman Bekas

sumber: citizen6.liputan6.com

“Malu-maluin aja iihh. Buang, Be!” tegur Joe sekali lagi.

Abe, bocah 9 tahun itu, masih tak menggubris larangan Joe.
“Kotak dan botol bekas itu sampah, Be!” sambung Joe. “Hanya pemulung, lho, yang suka mungutin sampah.”
Abe hanya tersenyum mendengar teguran sepupunya. Ia tetap memasukkan botol bekas minuman ke dalam kantong plastik. Lalu ia menggantungkan kantong plastik itu pada stang sepeda yang dinaikinya.
Di dalam kantong plastik, sudah ada beberapa kotak biskuit dan botol minuman bekas. Semua Abe dapatkan di sepanjang kompleks perumahan tempat tinggal Joe.
“Ini yang terakhir lho!” Joe mengingatkan lagi sambil mengayuh sepedanya.
“Jo, aku nggak suka melihat sampah tercecer. Tempat ini lebih indah kalau tanpa sampah,” tukas Abe. Ia menjejeri sepupunya yang sebaya itu.
“Ah, kamu sok peduli banget!” Joe tak suka dengan jawaban Abe. “Di sini sudah ada petugas kebersihan kok. Ngapain kamu harus repot-repot segala?”
“Tapi, Jo. Menjaga kebersihan itu tugas kita semua ….”
“Pokoknya, aku nggak mau lihat kamu mungutin sampah.”
Sekali lagi, Abe hanya tersenyum. Ia tahu Joe terkadang bersikap keras. Dua hari lalu, Joe juga marah, gara-gara Abe menyudahi game. Padahal, Abe tak terlalu suka bermain electronicgame. Kali ini, Abe tak mau melihat Joe marah lagi. Ia tak ingin liburannya menjadi berantakan.
“Aku mau nunjukin sesuatu, Jo,” ujar Abe kemudian. “Setelah itu, sisa sampah ini akan aku bawa pulang ke desa.”
“Kamu sudah numpuk sampah di halaman belakang, Mama bisa marah kalau lihat!” sambung Joe panjang lebar. “Ayok buang saja, sebelum teman yang lain melihat ….”
“Lho, memangnya kenapa kalau mereka lihat, Jo?”
“Aku nggak mau kamu dikatain pemulung,” sahut Joe dengan bibir mengerucut.
 Abe hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia pun menuruti perintah Joe.
***
Minggu siang, Joe berada di kamarnya. Ia mengundang Aris dan Ido bermain game online. Bersama mereka Joe sering menghabiskan waktu luang. Tadi, ia sudah mengajak Abe juga. Namun, Abe menolak. Ia akan membantu Mang Kosim membersihkan taman.
Selain di kamar Joe, rumah besar itu tampak sepi. Papa dan mama Joe sedang keluar rumah. Bi Inah sibuk di dapur. Mang Kosim sedang membeli pupuk taman. Joe menolak ajakan Abe untuk bersepeda lagi ke taman kompleks.
Di tengah asyiknya bermain, tiba-tiba listrik mati. Joe merasa kesal. Ia segera meminta Bi Inah menghidupkan genset. Bi Inah tak tahu bagaimana melakukannya. Mau tak mau, Joe harus menunggu Mang Kosim pulang.
Joe hanya mampu menggerutu. Dalam keadaan kecewa, Ido dan Aris berpamitan pulang.
“Kalian bisa bermain denganku,” seru Abe tiba-tiba. “Sambil menunggu listrik menyala, gimana kalau kita bermain dan belajar? Kalau kalian setuju, yuk, ke halaman belakang.”
Joe, Aris dan Ido mengikuti Abe penuh rasa penasaran. Entah apa yang akan ditunjukkan Abe. Begitu sampai di halaman belakang, mereka terbengong beberapa saat. Mereka melihat pemandangan yang lain dari biasanya.
Tembok pembatas halaman yang dulu kosong, dipenuhi oleh botol-botol minuman bekas. Botol-botol itu dibuang separuhnya, lalu digantung melintang. Untuk merangkai satu sama lain, digunakan tali kawat kecil. Botol-botol yang sudah berisi tanah, ditanami tanaman sayur.
“Ini seledri, bayam, sawi hijau dan daun bawang.” Abe menunjuk satu persatu tanaman dalam botol bekas itu. “Indah dan menyegarkan, bukan?”
“Kamu melakukannya sendiri, Be?” tanya Joe heran bercampur kagum.
“Nggak, sama Mang Kosim juga kok,” ujar Abe.
Lalu Abe mengajak Joe, Aris dan Ido ke samping rumah.
“Kalian lihat? Ini bisa kita lakukan untuk mengisi waktu luang. Kata Ayah, selain untuk mengurangi sampah, ini juga bisa meningkatkan daya kreativitas kita lho.”
Aris dan Ido terbengong beberapa lama. Terlebih Joe, ia tak percaya dengan penglihatannya. Abe memang luar biasa, gumam Joe dalam hati.
Botol-botol bekas minuman yang dikumpulkan Abe, kini menjelma mobil-mobilan, pesawat terbang dan kereta api. Sedangkan kemasan makanan dari berbagai ukuran, ia jadikan robot, topeng dan tempat pensil.
“Ini akan kubawa pulang ke desa,” kata Abe melihat Joe dan kedua temannya diam.
“Hmm, aku boleh menyimpan beberapa, Be?” tanya Joe setengah memohon. “Atau, kalau nggak keberatan, sebelum kamu pulang, kamu boleh ngajarinkami. Mau, ya?”
“Iya, Be. Ajarin kami ya?” pinta Ido dan Aris.
“Dengan senang hati. Kita bisa mencobanya sekarang kok.”
Joe, Aris dan Ido mulai sibuk memilah-milah botol dan tutupnya. Mereka juga menyiapkan alat-alat sesuai petunjuk Abe. Karena asyiknya bekerja, mereka pun melupakan game online dan listrik yang belum juga menyala.

***

Ditulis oleh: Redy Kuswanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *