[Cernak] Bimbi Belajar Memasak

Bimbi tak berselera untuk sarapan. Makanan di piring masih utuh. Dari tadi anak perempuan itu hanya mengaduk-aduknya dengan sendok. Baru satu suap saja yang masuk ke mulut.

“Bimbi sayang, ayo habiskan sarapanmu,” bujuk Bunda. “Bunda masak spesial buat kamu, lho.”

Pagi itu Bunda sudah menyiapkan nasi, sup brokoli, dan telur dadar kesukaan Bimbi.

“Bimbi bosan, Bunda. Bimbi pengin makan pizza.” Gadis cilik berambut ikal itu merajuk.

“Tumben, nih. Itu kan makanan kesukaan Bimbi. Ayo, makan dulu yang sudah disiapkan Bunda, ya.” Ayah juga mencoba membujuk Bimbi.

Bimbi tetap tak mau menghabiskan sarapannya.

“Ya sudah kalau tidak mau sarapan. Siap-siap ke sekolah saja,” kata Bunda lembut.

Bimbi pun berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Wajah gadis cilik itu cemberut. Bunda tersenyum melihat ulah putri semata wayangnya. Ayah geleng-geleng kepala. Ia mengenakan kacamatanya, lalu bergegas mengantar Bimbi ke sekolah sekaligus berangkat kerja.

Sekolah Bimbi sebenarnya tidak terlalu jauh. Biasanya Bimbi bersepeda ke sekolah. Tapi, karena sedang ngambek maka Ayah mengantarnya. Sampai di sekolah, Bimbi masih cemberut. Ayah memberinya uang saku. Bimbi mencium tangan Ayah, lalu berjalan cepat menuju kelas.

Saat pelajaran mulai, Bimbi merasa sangat lapar. Anak perempuan yang biasanya lincah itu tak bisa konsentrasi belajar. Bimbi memegangi perutnya yang berkeriut minta diisi.

“Eh, kamu kenapa, Bimbi?” tanya Laras, teman sebangku Bimbi.

“Perutku sakit, nih,” kata Bimbi sambil meringis.

“Tadi nggak sarapan?” selidik Laras.

Bimbi mengangguk pelan. Ia mulai menyesal karena tadi tidak menyentuh sarapannya. Bel istirahat berbunyi. Anak perempuan itu bergegas ke kantin. Bimbi membeli roti dan jus. Rasa lapar sedikit mereda.

Baca Juga:   [Cerpen] Lara Sendiri

Rupanya roti dan jus yang dilahap Bimbi saat istirahat tadi tak bertahan lama. Gadis cilik itu mulai merasa lapar lagi. Jam pelajaran terasa sangat lama.

Teet … teet ….

Bel tanda pelajaran usai berbunyi. Bimbi membereskan buku-bukunya dan segera pulang. Dalam perjalanan ke rumah, Bimbi membayangkan masakan Bunda sudah terhidang di meja makan. Ia akan makan sepuasnya.

Gadis kecil itu pun mempercepat langkahnya. Sampai di rumah Bimbi mengucap salam, dan segera menuju meja makan, tapi ternyata tak ada makanan di sana.

“Bunda, makanannya di mana? Bimbi lapar,” teriak Bimbi.

“Maaf sayang, Bunda belum masak,” jawab Bunda santai. “Bimbi masak sendiri, ya? Bunda sedang sibuk menyetrika, nih.”

Bimbi terkejut mendengar Bunda menyuruhnya masak. Perutnya sudah lapar sekali. Kalau harus masak dulu, bagaimana bisa tahan, pikir Bimbi.

“Tapi, Bimbi, kan belum bisa masak, Bunda,” Bimbi merajuk lagi.

Suara keroncongan di perutnya jelas terdengar.

“Oh begitu, kalau belum bisa, ya belajar dong,” ujar Bunda sambil mencubit pipi Bimbi dengan lembut.

Siang itu, Bimbi belajar memasak bersama Bunda. Bimbi memasak telur dadar kesukaannya. Gadis cilik itu mengikuti petunjuk Bunda dengan saksama. Mulai dari menyiapkan bahan-bahan, mengolahnya dan akhirnya makanan tersaji di piring.

Ternyata begitu banyak yang harus dilakukan sebelum makanan itu siap untuk dinikmati. Itu saja baru satu masakan, kalau lebih dari satu pastilah lebih banyak lagi yang harus dikerjakan. Bimbi merasa sangat menyesal tidak menghabiskan sarapannya padahal Bunda sudah bersusah payah memasak.

“Bunda, maafkan Bimbi, ya. Bimbi janji akan selalu menghabiskan makanan yang sudah Bunda masak untuk Bimbi,” kata Bimbi sambil memeluk Bunda. Bunda tersenyum, dan mengecup kening Bimbi.

Baca Juga:   [Cernak] Sepeda Gilang

“Bunda juga minta maaf ya, Sayang. Sebenarnya Bunda sudah masak spesial buat kamu. Bunda hanya ingin Bimbi menghargai jerih payah orang lain,” kata Bunda.

Bunda membuka lemari makan, dan mengeluarkan sayur bening, ayam goreng, perkedel, dan pizza. Wah, Bimbi senang sekali, ia pun menyantap makanan itu dengan lahap.

Ditulis oleh: Maya Romayanti

One thought on “[Cernak] Bimbi Belajar Memasak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *