[CERNAK] Berkah di Balik Musibah

sumber: freepik.com
            Pagi itu cuaca mendung. Siswa Sekolah Dasar Suka Maju asyik bergerombol. Mereka memperbincangkan peristiwa di kampung Mekarsari. Andra, dan Riski juga ikut membahas hal tersebut.
“Andra, kamu sudah tahu belum? Banjir telah melanda kampung Mekarsari,” ucap Riski.
”Sudah. Banjir yang disebabkan karena luapan sungai itu, kan, Ris?” tanya Andra.
“Iya. Kita ikut memberikan bantuan, yuk!” Riski memberi ide.
“Tetapi, bagaimana caranya?” tanya Andra.
Riski menjawab pertanyaan Andra dengan cepat. “Menurutku, kita membantu sesuai kemampuan. Misalnya, mengumpulkan pakaian layak pakai, sembako atau uang.”
“Tetapi untuk  membantu para warga itu, kita dapat dari mana?”
“Nanti kita lanjutkan lagi. Sudah waktunya belajar. Ayo, kita ke kelas!”
Riski, dan Andra segera masuk ke kelas. Mereka mulai mengikuti pelajaran di kelas enam. Kebetulan materi pelajarannya tentang hal yang memengaruhi perubahan alam. Ini sangat cocok dengan yang baru saja mereka bicarakan.
Setelah pelajaran usai, Andra, dan Riski kembali membahas rencananya.
“Ndra, kamu sudah ada ide untuk mengumpulkan bantuan?” tanya Riski.
“Menurutku, kita bicarakan dengan guru, dan kepala sekolah,” jawab Andra.
“Wah, idemu bagus, Ndra,” ujar Riski sambil mengacungkan jempol.
“Oke, ayo kita temui guru, dan kepala sekolah!“ ajak Andra .
Riski, dan Andra menemui Pak Heri. Mereka menyampaikan rencananya. Oleh guru kelasnya, Riski, dan Andra diajak ke ruang kepala sekolah. Kepala sekolah  menyetujui rencana mereka. Riski, dan Andra sangat berterimakasih kepada kepala sekolah. Mereka berdua keluar dari ruang kepala sekolah dengan perasaan senang.
“Oh, iya, nanti kita pramuka tidak, Ndra?” tanya Riski sambil berjalan menuju gerbang sekolah.
“Iya , memang mengapa, Ris?”
“Kita ajak pembina pramuka untuk membantu.”
“Sip, ide yang cemerlang!” kata Andra sambil melemparkan senyum.
“Aku pulang dulu, ya,” kata Riski sambil melambaikan tangan kepada Andra.
“Ketemu lagi nanti.”
Kedua anak itu berpisah di depan sekolah. Mereka menuju rumah dengan hati gembira.
Sore hari pun tiba. Riski, dan Andra bertemu lagi saat mengikuti kegiatan pramuka di sekolah. Setelah latihan pramuka selesai, Riski, dan Andra  menghampiri Kak Anton. Mereka lama berbincang-bincang dengan Kak Anton. Akhirnya, Kak Anton pun menyetujui rencana  mereka. Ia menyarankan untuk mengadakan kegiatan bakti sosial. Andra, dan Riski semakin bersemangat untuk mengumpulkan bantuan. Tak terasa hari sudah hampir gelap. Mereka membubarkan diri untuk kembali ke rumah.
Keesokan harinya, Bapak Kepala Sekolah mengumpulkan siswa SD Suka Maju di halaman sekolah. Beliau mengajak anak-anak mengumpulkan bantuan bagi korban bencana alam. Bantuan tersebut dapat berupa uang, bahan makanan, atau pakaian. Semua bantuan akan diterima dengan senang hati. Pengumpulan paling lambat dua hari dari sekarang. Andra, dan Riski ditunjuk membantu guru yang mengatur pengumpulan bantuan. Kedua anak itu juga dibantu teman sekelasnya.
Satu hari setelah pengumuman, Riski, Andra, dan teman-temannya siap berkeliling ke kelas-kelas. Mereka akan mengumpulkan bantuan dari setiap kelas. Siswa SD Suka Maju menyambut dengan wajah ceria. Anak-anak itu bersemangat untuk membantu saudara yang sedang terkena musibah.
Seluruh kelas sudah dikelilingi. Bantuan telah terkumpul. Riski, Andra, dan teman-teman membawa barang-barang itu ke kantor guru. Dengan bantuan guru,  mereka mengelompokkan sesuai jenisnya, uang, pakaian, dan bahan makanan.
“Terkumpul berapa uangnya, Ndra?”
“Banyak, Ris. Ada Rp 8.645.000,00.”
“Wow, banyak sekali. Aku tak menyangka kalau dapat terkumpul sebanyak itu!”
“Iya. Nanti siang, anak-anak kelas enam, dan Pak Guru akan mengantar bantuan. Kak Anton sudah menyediakan angkutannya,” kata Andra.
Tiba-tiba, Andra teringat adiknya yang sedang demam. Orang tuanya belum sempat membawa ke dokter. Mereka tidak punya uang untuk memeriksakan adiknya. Terbersit niat untuk mengambil sedikit uang bantuan. Ia akan memberikan kepada ibunya untuk biaya berobat. Namun, keinginan itu ia urungkan. Kejujuran, dan kepercayaan harus dijaga. Andra tidak ingin mengkhianati teman-temannya.
Waktu yang ditunggu tiba. Kak Anton datang ke sekolah dengan membawa mobil pickup. Semua bantuan dimasukkan ke dalam kendaraan tersebut. Beberapa kemasan kardus selesai ditata di bak belakang. Siswa kelas enam, dan Kak Anton siap berangkat. Mereka diikuti guru kelasnya dengan sepeda motor.
Dua puluh menit perjalanan sudah ditempuh. Mereka tiba di tempat tujuan, kampung Mekarsari. Pak Guru, dan Kak Anton menemui ketua RT di tempat pengungsian. Serah terima bantuan segera dilakukan. Mereka disambut suka cita oleh warga kampung Mekarsari.
Riski, dan Andra bersemangat membantu Pak Guru, dan Kak Anton. Mereka ikut menurunkan barang dari atas mobil.
“Ayo, kamu tangkap ya, Ndra! Aku yang melemparkan dari atas mobil.”
“Aku siap menangkap lemparanmu.” Andra merentangkan tangan.
Karena kurang hati-hati, bungkusan yang dilemparkan Riski mengenai badan Andra. Ia terjatuh. Tangannya kirinya sakit, dan tidak bisa digerakkan. Andra meringis kesakitan sambil memegangi tangannya. Kak Anton, dan Pak Guru menghampiri Andra.
“Hati-hati, Nak. Kamu tidak apa-apa? Coba kamu gerakan tanganmu!” pinta Pak Guru.
Andra tidak menjawab. Air matanya menetes di pipi menahan sakit. Pak Guru segera membawanya ke rumah sakit. Setelah diperiksa, ada tulang lengan kiri Andra yang retak. Ia harus dirawat di ruang perawatan. Hati anak laki-laki itu semakin sedih. Terbayang wajah adiknya yang sedang sakit. Dia sekarang juga masuk rumah sakit. Ia berpikir dari mana orang tuanya mendapatkan uang untuk membayar biaya perawatan.
Belum selesai Andra melamun, tiba-tiba datang seseorang mengetuk pintu ruang perawatan. Riski, dan ayahnya datang menjenguk. Ayah Riski siap menanggung biaya perawatannya. Riski pun juga menyerahkan sejumlah uang tabungannya. Andra merasa terharu menerima bantuan keluarga Riski. Kedua anak itu berjabat tangan erat sebagai tanda persahabatan.
//–//
Ditulis oleh: Suprapti, guru dari Prambanan
                              

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *