[Cernak] BERHITUNG BERSAMA TOKEK

“Ayo, dihitung sama ibu!” kata ibu sambil mendekap erat tubuh Banu yang mendingin.

Tokek .

“Satu ….”

Tokek ....

“Dua ….” Ibu membimbing Banu supaya mau berhitung setiap tokek itu berbunyi. Banu hanya diam mematung sambil melingkarkan kedua tangannya ke pinggang ibu. Ibu merunduk memberikan pelukan terhangat ketika Banu dilanda kecemasan seperti saat ini. Sama seperti bertahun lalu, ketika ia mendengar suara tokek.

***

Tokeeekkk!

Suara tokek menggema di langit-langit rumah nenek yang tak berplafon.

Plok! Tiba-tiba seekor tokek mendarat di bahu Banu. Berulang kali Banu mengibaskan tangan berusaha menghalau tokek itu, namun usahanya seakan mempererat cengkeraman tokek di bahu Banu.

“Ibu, tolong!” Banu berteriak sambil menghambur mencari sosok ibu. Namun ibu yang tadi berada di dapur seakan raib tertelan bumi. Banu lari ke sana-kemari meminta bantuan. Namun ibu, ayah dan nenek tidak berada di dalam rumah. Banu bertambah cemas. Sekuat tenaga Banu menarik tubuh tokek. Kali ini tokek tidak tinggal diam. Bahunya terasa sakit karena tokek menggigit bahu.

“Awww … aduuuhhh! Hoaaa … hoaaa ….” Sambil menangis Banu menarik sekuat tenaga dan membanting tubuh tokek ke lantai. Ia lalu berlari sekencang-kencangnya ke luar rumah.

“Kenapa, Nak?” Ibu setengah berlari menyambut Banu yang terengah-engah. Ternyata ayah, ibu dan nenek berada di halaman depan berusaha menjolok beberapa buah mangga yang telah matang. Ibu memeluk Banu. Nenek membelai punggung, berusaha menenangkan Banu yang sesengukan tiada kenal putus.

“Minum dulu, Nak.” Ayah menyodorkan segelas air mineral. Banu menyeruput air tersebut sehingga meredakan kecemasan yang melingkupinya.

“Tadi … ada … tokek … menggigit bahu Banu.” Banu terbata mencoba menceritakan apa yang terjadi.

“Ya Allah, kenapa sampai digigit?” tanya nenek sembari menyibak tangan Banu yang sedari tadi memegangi bahu kirinya.

“Oh, sedikit lecet. Tolong ambilkan minyak zaitun di atas bufet di ruang tamu!”

Ayah bergegas mengambil minyak itu. Bahu yang terluka diolesi minyak beberapa kali. Nenek meniup-niup luka itu hingga terasa sejuk. Secara perlahan rasa pedih itu sirna.

***

Tokek.

Suara itu terdengar menggema saat semua berkumpul di ruang makan untuk bersiap bersantap makan malam.

“Ibuuuu!” Banu meloncat di pangkuan ibu lalu memeluk leher ibu dengan erat. Diselusupkan kepalanya di dada ibu.

“Hoaa … hoa …!” Banu mulai menangis.

Tokek … tokek!

Tokek tetap berbunyi seakan tidak tahu betapa suara itu bak monster di telinga Banu.

“Cup … cup … cup. Enggak apa-apa, Sayang. Kan, ada ayah, ibu dan nenek,” hibur ibu. Banu tak menghiraukannya. Bayangan tokek yang menempel di bahu dan menggigitnya menari-nari di benaknya.

“Ibuuuuu, pulang … pulaaangg!” Banu meronta-ronta di pelukan ibu. Ayah mencoba meraih tubuh Banu. Tetap saja Banu meronta dan menjerit-jerit. Nenek pun turun tangan. Ditepuk-tepuk punggung Banu. Namun, bayangan tokek yang semakin mendekat membuat Banu semakin histeris.

Tokek  tokek  tokek!

“Pulang, pulang sekarang, pulaaang!” Suara tokek dan tangisan Banu berpadu menggema seantero rumah. Ayah, ibu dan nenek tak mampu menenangkan tangisan Banu. Akhirnya malam itu juga ayah berpamitan sama nenek untuk kembali ke Yogyakarta.

Perjalanan dari rumah nenek dari Pekalongan memakan waktu 6 jam. Sepanjang perjalanan Banu bergelung di tubuh ibu, berharap rasa aman kembali menyusup ke hatinya. Bayangan tokek yang menempel membuatnya berulang kali menangis.

Tahun telah berganti, ingatan akan peristiwa tokek menempel dan menggigit  bahunya tidak sirna. Malah kejadian ini memperlebar ketakutan Banu akan suara yang datangnya tiba-tiba. Bahkan suara seekor cicak yang berdecak di rumahnya bisa membuatnya kalang kabut.

“Coba hitung cicaknya, yuk,” rayu Ayah sambil memeluk dan memangku Banu di ruang tengah.

“Satu, dua, tiga, empat. Ada empat, Yah!” seru Banu dengan ragu-ragu.

“Pintar anak Ayah. Nanti kalau ada cicak yang lewat, kita hitung lagi, ya!” ajak Ayah tanpa menurunkan Banu dari pangkuannya.

***

“Kita akan berlibur di rumah nenek selama seminggu. Kalau ada tokek berbunyi, kita hitung bersama-sama, ya,” kata ibu sambil memeluk tubuh Banu dari belakang. Mendengar kata rumah nenek, selalu mengingatkan kembali akan tokek, yang membuat perut Banu tiba-tiba mulas.

“Banu dulu takut sama cicak, setelah kita belajar menghitung cicak, lama kelamaan rasa takut itu hilang, kan? Ternyata cicak tetap berada di tempat, bahkan cicaknya akan lari manakala kita usir,” tambah Ayah sambil tersenyum.

“Nanti menghitungnya sama Ayah atau Ibu. Banu akan selalu ditemani menghitung.” Ayah menepuk punggung Banu. Banu pun mengangguk dengan lemah.

***

Tokek!

Banu menarik tangan ibu dan berlari ke luar rumah, ketika mendengar suara tokek pertamanya setelah memasuki rumah nenek siang itu.

“Satu,” kata ibu sambil memegang kedua tangan Banu yang mendingin. Banu pun menirukan apa yang dikatakan ibu: “Satu.”

Tokek!

“Dua.” Ibu dan Banu menghitung suara tokek bersama. Secara perlahan, ibu menarik tangan Banu mendekat ke teras nenek. Begitulah ritual yang dilakukan manakala tokek bersuara. Entah ayah atau ibu selalu menemani Banu keluar rumah dan menghitung bersama, sembari terus mendekatkan posisi tubuh ke dalam rumah.

“Banu hebat, sekarang sudah bisa menghitung suara tokek sendiri tanpa bantuan Ayah dan Ibu. Dengan suara lantang lagi!” Ayah memuji Banu dengan mengangkat kedua jempolnya. Banu tersenyum. Matanya berbinar. Betapa tiga hari ini ia telah berusaha keras menghalau rasa takutnya. Dan ia begitu bangga, manakala ketakutan akan tokek selama ini sedikit demi sedikit mulai sirna.

 

Baca Juga:   [Cernak] Caranggesing Istimewa

Ditulis oleh: Nurul Chomaria

Reviewer: Rohman Oman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *