[Cernak] Bangku yang Menangis

Sejak kecelakaan itu, aku merasa ada yang aneh. Kepalaku tiba-tiba sering terasa sakit. Kadang-kadang aku seperti mendengar suara-suara. Bukan suara orang yang sedang bicara. Melainkan suara dari benda-benda mati. Mirip suara manusia. Meja, kursi, pot bunga, dan benda lainnya yang ada di sekolah. Ya, aku seperti bisa berbicara dengan benda-benda itu.

Seperti waktu itu, saat kudengar suara orang menangis. Bu Guru dan teman-teman tidak ada yang mendengarnya. Awalnya aku takut. Kupikir ada hantu di kelas, tapi melihat reaksi teman-teman, aku mencoba tenang. Mana mungkin ada hantu di siang hari, batinku.

“Don, kamu dengar suara orang nangis, enggak?” tanyaku kepada teman yang duduk sebangku di sebelahku.

“Nangis?” Doni terdiam sesaat. “Enggak ada, tuh.”

Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Kalau memang benar ada yang menangis, seharusnya teman-teman juga mendengar. Aku melihat Bu Guru tetap melanjutkan pelajaran bahasa Indonesia. Sepertinya memang hanya aku yang terganggu.

Tangisan itu semakin membuat penasaran. Aku kemudian memohon ijin keluar kelas. Memastikan sumber suara tangisan itu.

Begitu di depan kelas, tidak kutemukan seorang pun di lorong. Di sebelah kanan kiri ruang kelasku pun tak ada orang. Di ruang kelas lima, hanya kudengar suara Pak Arif yang sedang mengajar. Apa mungkin suara itu berasal dari belakang kelas? Maka, aku bergegas lari menuju area belakang kelas.

Tetap tidak ada kejelasan asal muasal suara tangisan itu. Aku hanya melihat hamparan kebun di belakang ruang kelas. Ada pagar kawat berduri dan beberapa semak setinggi lutut. Namun, aku masih bisa mendengar suara tangisan itu. Meskipun samar di telinga.

Ketika berjalan kembali menuju ruang kelas, aku melihat sebuah bangku tersandar di tembok. Kakinya tinggal tiga. Satu kaki bagian depan tergeletak di sampingnya. Beberapa bagian bangku itu terlihat rapuh dimakan rayap. Warna coklatnya sudah berubah agak hitam. Seperti berlumut, akibat dibiarkan kehujanan dan kepanasan.

“Apa kau dengar suara tangisanku?” Tiba-tiba ada suara, terdengar seperti suara perempuan. Kuperhatikan di sekelilingku, tidak ada orang. Seketika itu aku merasa deg-degan.

“Hei! Apa kau dengar suara tangisanku?” Aku tak percaya. Sumber suara itu dari bangku kayu yang rusak. Pelan-pelan kudekati. Kupastikan apa yang baru saja kudengar.

“Bangku, bisa bicara?” gumamku lirih.

“Memangnya enggak boleh? Iya, aku yang sedang bicara sama kamu.”

Aku menampar pipiku satu kali. Memastikan sedang tidak bermimpi. “Aduh!” Ternyata aku memang tidak bermimpi.

“Kenapa kamu menangis?” Aku bertanya. Meskipun terdengar konyol, tapi apa boleh buat. Barangkali memang aku punya kelebihan memahami bahasa benda.

“Aku sedih. Sebentar lagi mungkin teman-temanku akan menyusulku. Mereka rusak, kemudian dibuang begitu saja.”

“Ya, kalau memang sudah rusak, mau bagaimana lagi?” jawabku. “Kalau tetap diduduki, justru malah bikin jatuh.”

“Harusnya orang-orang bisa menghargai dan merawatku lebih baik lagi.”

“Maksud kamu?”

“Coba kamu lihat, berapa bangku di sekolah yang bersih tanpa coretan? Berapa kali dalam setahun kami dicat dan diperbaiki? Bukankah selama ini kami sudah berbaik hati membuat kalian nyaman belajar?”

Aku pikir ada benarnya juga yang dikatakan bangku itu. Di mejaku saja ada beberapa coretan rumus matematika. Ada juga coretan bertuliskan namaku dan nama Rizka. Itu cara teman-teman meledekku. Seolah aku tahu artinya cinta. Padahal tidak.

Meskipun bukan aku saja yang corat-coret, tapi aku tetap punya salah. Aku lihat di bangku yang diduduki Doni juga penuh coretan. Kami biasanya menggunakan coretan itu sebagai bahan mencontek. Terutama saat ujian sekolah.

“Lalu, apa yang bisa kubantu?” tawarku kepada bangku itu.

“Tolong jaga dan selamatkan teman-temanku. Jangan sampai kami sebagai bangku merasa tidak ikhlas membantu kalian. Tentu kalian juga tidak mau ilmu yang kalian dapatkan di kelas sia-sia, bukan?”

Belum sempat menjawab permintaan bangku itu, Bu Eka mengagetkanku. “Ilham! Ngapain kamu di situ? Bukankah ini masih jam pelajaran bahasa Indonesia?”

“A … Anu bu, saya tadi mau ke toilet,” jawabku sekenanya.

“Toilet? Jangan bohong. Toilet kan, ada di sana.” Bu Eka, guru bahasa Indonesia itu menunjuk ke arah seberang. “Kamu sengaja bolos lagi? Sekarang, kamu ikut saya ke ruang BP. Ayo!”

Bu Eka meraih pergelangan tanganku. Seolah tidak akan membiarkan lari. Dia menuntunku menuju ruang BP. Melewati depan ruang kelas enam, dan ruang kelas lainnya. Dari pintu-pintu kelas yang terbuka, aku tahu telah menjadi pusat perhatian teman-teman. Memang ini bukan pertama kalinya aku dilaporkan kepada guru BP.

Sebelumnya, aku pernah ditegur karena ketahuan mencontek. Beberapa minggu yang lalu juga diberi peringatan. Aku membolos saat jam pelajaran matematika. Bahkan pernah dihukum berdiri dengan sikap hormat menghadap tiang bendera. Hanya karena terlambat sekolah dan tidak ikut upacara.

Seperti biasa, aku ditanya macam-macam. Mulai dari alasan tidak ikut pelajaran, hingga harus berjanji untuk tidak mengulangi. Tentu saja aku jujur menjawab apa adanya. Beralasan sedang mencari sumber suara tangisan. Juga kuceritakan perihal keluhan bangku rusak yang bersedih.

“Jangan ngawur, kamu! Mana ada benda mati yang bisa bicara. Kalau memang ada, apa yang dia bicarakan denganmu?” Guru BP tidak percaya penjelasanku. Aku dianggap berbohong. Padahal aku sudah berusaha mengatakan yang sebenarnya.

Aku ceritakan apa yang menjadi keluhan bangku itu. Bahwa mereka kurang diperhatikan, kurang dihargai. Bangku-bangku itu bersedih jika dibiarkan penuh coretan dan tidak diperbaiki. Kulihat Bu Eka dan guru BP sempat tersenyum simpul. Namun, mereka mendengarkan semua penjelasanku.

Di luar dugaan. Guru BP tidak memberi sanksi. Tentu saja setelah Bu Eka memohon agar sanksi untukku diganti dengan tugas pelajaran. Akhirnya aku diminta mengerjakan tugas pelajaran bahasa Indonesia. Aku senang. Meskipun mendapat teguran, tapi aku sudah berusaha jujur. Menyampaikan apa yang dikeluhkan si bangku rusak.

@@@

Keesokan harinya aku tidak lagi mendengar suara tangisan di kelas. Kepala sekolah mengumumkan aturan baru. Bahwa siapapun dilarang mencorat-coret sarana belajar di sekolah. Baik berupa tembok, meja, kursi, dan benda lainnya yang ada di sekolah. Kecuali papan tulis dan buku yang memang disediakan untuk media menulis.

Aku semakin senang, ketika tahu bahwa bangku-bangku di sekolah akan dicat. Beberapa bangku yang hampir rusak akan diperbaiki. Bahkan yang sudah tidak layak, diganti dengan yang baru. Sedangkan yang rusak akan didaur ulang menjadi penghias taman.

Sampai sekarang aku berteman dengan bangku itu. Apalagi sejak diperbaiki dan menjadi salah satu bangku taman yang antik. Aku suka duduk di sana sambil menulis cerita tentang benda-benda di sekolah. Sebuah cerita sederhana yang menyuarakan kisah-kisah mereka. Apakah kalian pernah mendengar suara mereka?*)

Bantul, Januari 2018

Ditulis oleh: Seno NS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *