[cernak] ASYIKNYA MEMAINKAN GAMELAN

“Mbak Slenthem, ayo mulai mukul, jangan sampai ketinggalan!” teriak Pak Joko sambil memandangku dengan tajam. Teman-teman terkikik mendengar namaku berubah menjadi “Slenthem”. Wajahku memerah menahan amarah.

Pak Joko, guru kelas karawitan memang sudah tua. Usianya lebih dari 65 tahun, namun semangatnya mengajar patut diacungi jempol. Tak sekalipun beliau absen dari kelas, walaupun dalam keadaan sakit. Beliau selalu datang tepat waktu. Tapi, yang membuat kami semua jengkel adalah beliau suka memanggil kami dengan nama alat yang saat itu kami mainkan. Bisa jadi nama kami mendadak berubah menjadi Gong, Saron, Kethuk Kempyang, Gender, Kenong, Kempul, Slenthem atau Bonang. Kalau sudah begitu, kami akan menertawakan teman yang kebagian nama yang terkesan buruk, seperti Slenthem atau Gender.

“Ayo, mulai latihan lagi. Mbak Slenthem jangan ngalamun terus, kasihan teman-teman kalau harus mengulang latihannya!” pekik Pak Joko tanpa ampun walau melihat ada genangan air di kedua pelupuk mataku. Sambil bersungut, kupukul slenthem itu dengan keras.

“Jangan marah kalau diingatkan. Niat latihan apa enggak?” hardik Pak Joko yang membuat hatiku ciut.

***

“Rita tidak mau latihan karawitan lagi!” Pekikku ketika Ibu mengenakan jaket bersiap mengantarkanku ke sanggar.

“Kenapa tidak mau berangkat latihan? Kan, bulan depan akan pentas?” Tanya ibu sambil mengambil kunci yang tergantung di kapstock belakang pintu.

“Sebel sama Pak Joko. Kalau manggil orang seenaknya. Rita dipanggil Slenthem lagi!” Kataku sambil bersungut.

“Sabar ya Nak. Pak Joko sudah tua, mungkin beliau kesusahan mengingat ratusan muridnya dari berbagai sekolah. Maka beliau memanggilnya dengan nama perangkat yang saat itu dimainkan siswanya. Santai saja, toh semua teman juga pernah dipanggil “Slenthem” kan?” kata Ibu sambil memegangi kedua bahuku. Dengan berat hati, aku pun menyambar tas kecilku dan mengikuti langkah ibu.

***

Tiga puluh menit sebelum jadwal latihan, aku sudah sampai. Sanggar masih sepi. Namun Pak Joko sudah berada dalam ruangan sambil membersihkan perangkat gamelan dengan kemoceng bututnya.

Monggo, Bu” Sapa Pak Joko sambil berdiri ketika melihat aku dan ibu tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Senyumnya merekah menampakkan sebagian giginya yang telah ompong. Ibu tersenyum dan keduanya lalu bercakap-cakap.

Aku bergegas mengambil posisi di depan bonang. Aku sangat girang bisa memainkan perangkat yang selama ini aku sukai. Jika memainkan alat ini, kedua tangan secara bersamaan memukul pot bonang dengan palu pemukul yang ujungnya dibalut kain. Kali ini aku berpasangan dengan Susi. Aku memegang bonang dan Susi memegang bonang penerus. Satu per satu teman mulai berdatangan dan mengambil posisi yang masih tersisa.

“Latihannya yang serius ya. Bulan depan, kita akan pentas pada acara Awalussanah kelas 1,” kata Pak Joko dengan intonasi yang agak melunak. Entah apa yang dibicarakan Ibu tadi, yang pasti Pak Joko hari itu tampak berbeda. Kami pun mulai menghafalkan notasi dan berlatih karawitan Shalawat Nabi dan notasi Kebo Giro.

***

Satu per satu ekstrakurikuler tampil. Grup karawitan yang sedari tadi duduk di atas panggung mulai memainkan gamelan. Kami  mengiringi sambutan yang dibawakan Kepala Sekolah, Ketua Yayasan, beserta Ketua Paguyuban Sekolah, dengan iringan alunan Kebo Giro. Sebagai penutup tampilan, kami menampilkan alunan Shalawat Nabi. Penampilan yang maksimal ini menyebabkan grup karawitan terpilih sebagai ekstra favorit di sekolah ini. Kami semua bersorak gembira. Tepuk tangan menggema di aula berkapasitas dua ribu orang itu.

“Ayo Rita, maju mewakili grup untuk menerima piala!” kata Pak Joko sambil tersenyum dari sisi kiri panggung. Dengan senyum mengembang, aku berdiri dan menghambur di bawah panggung. Di sebelahku ada Salsa, wakil dari ekstra Jurnalistik dan Agus, dari ekstra Tahfidzul Quran. Kami menerima piala sesuai tingkat apresiasi siswa terhadap ekstrakurikuler yang ada.

Betapa bangga hatiku menerima piala di dalam kotak kaca setinggi satu meter. Tak henti paparan lampu blitz memotret sehingga menyilaukan mataku. Entah kenapa, sebulan terakhir ini hatiku benar-benar tertambat pada karawitan. Bahkan latihan yang sedianya hanya seminggu sekali dan ditingkatkan menjadi seminggu dua kali pun tidak menyurutkan semangatku dalam berlatih. Aku malah merasa nyaman ketika memainkan perangkat gamelan secara bergantian. Bahkan panggilan “Slenthem”, “Gender” atau “Kethuk Kempyang” pun tak bakal membuat hatiku sakit.

“Selamat ya Nak, ibu bangga dengan pencapaianmu,” kata ibu sambil melingkarkan kedua tangannya memelukku. Aku paham, betapa Ibu dulu memaksaku berlatih karawitan karena sifat pemarah dan gerakanku yang begitu kasar dan kaku.

“Berlatihlah karawitan, nanti hati dan perilakumu akan halus,” kata Ibu sore itu setelah mendapati tiga piring pecah karena aku berusaha menatanya di rak, setelah dicuci Ibu. Tidak sekali ini saja, botol minumku juga sudah berapa kali bocor karena ulahku yang tidak bisa memperlakukannya dengan halus. Bukannya aku marah, namun entah mengapa aku terkesan terlalu ‘gedebag-gedebug’  ketika melakukan aktivitas.

Bukan tanpa perjuangan aku berlatih karawitan. Sebulan pertama, betapa kemarahan Pak Joko menjadi makananku setiap kali berlatih. Aku yang begitu keras memukul gamelan, membuatku harus mengulang berkali-kali hingga pukulan itu selaras dengan pukulan teman-teman yang memang halus.  Aku tak menyangka, ternyata dengan berlatih memainkan gamelan bisa memperhalus hati dan perilakuku.

 

Baca Juga:   Jalan-Jalan Ke Laut, Siapa Takut?

Ditulis oleh: Nurul Chomaria

Reviewer: Oky E. Noorsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *