[Cernak] Abi dan Tukik Kesayangannya

Di hari Minggu Abi berencana pergi ke waterpark yang baru di dekat rumah mereka. Tapi Ayah ingin mengajak Abi dan Bunda ke Sukabumi, sekalian mengantar Om Dani. Wartawan teman ayah itu akan meliput penangkaran penyu yang ada di Sukabumi.

“Di sana ada pantai, Abi bisa berenang, bisa juga bermain pasir,” bujuk Bunda sambil menunjuk perlengkapan bermain pasir yang dimiliki Abi.

“Tapi teman-teman Abi juga mau ke waterpark, Bunda. Abi mau seru-seruan main air sama Bogi dan Rasha.”

“Abi kan sudah bersama-sama Bogi dan Rasha setiap hari di sekolah. Setiap sore juga main bareng. Gantian dong…, kali ini Abi seru-seruan dengan Bunda dan Ayah….”

Abi berpikir ada benarnya juga kata-kata Bunda. Akhirnya dia setuju meski dengan setengah hati.

Maka berangkatlah mereka di hari Sabtu pagi menuju Sukabumi, tepatnya di Ujung Genteng. Menjelang sore mereka baru sampai. Ternyata Abi sangat senang melihat cantiknya pantai di sana.

“Bunda, pantai di sini masih sepi ya, bersih pula!” katanya penuh semangat.

Penginapan mereka tepat menghadap pantai. Abi sudah membayangkan bisa bermain pasir sepuasnya. Kata Ayah, kalau cuaca tetap cerah, dia bisa melihat matahari yang terbenam di garis cakrawala di sebelah barat.

“Tapi hati-hati Abi, bibir pantai di sini berupa karang-karang. Kalau kakimu tidak kuat, sebaiknya selalu memakai sandal ya,” pesan Om Dani.

***

Malam harinya Abi dibangunkan dengan lembut oleh Bunda.

“Nak, bangun, yuk. Katanya mau ikut Om Dani melihat penyu bertelur?”

Sebenarnya Abi masih merasa capek dan mengantuk, setelah asyik bermain di pantai tadi. Tapi kapan lagi melihat penyu bertelur? Dia berharap bisa bertemu penyu besar seperti yang pernah dilihatnya di film animasi.

Perjalanan menuju penangkaran penyu begitu seru. Berkelok-kelok melalui jalan-jalan sempit dan beberapa kali menemui lubang. Abi yang masih mengantuk jadi terbuka matanya setiap mobil mereka terantuk lubang.

Di lokasi yang mereka tuju ternyata sudah banyak orang yang sama-sama ingin melihat penyu bertelur. Suasana di sana cukup tenang karena pengunjung dilarang berisik. Bisa-bisa penyu-penyu itu tidak jadi naik ke darat dan batal bertelur!

Rombongan kecil Abi mengamati seekor penyu yang sudah muncul di garis pantai. Kedua tungkainya menggapai ke depan, lalu penyu itu mendorong badannya supaya maju.

“Ayah, gerakannya seperti Abi waktu berenang ya,” bisik Abi sambil mencermati gerakan sang penyu. Dia sudah tidak mengantuk lagi.

Abi sangat tertarik melihat penyu menggali lubang untuk meletakkan telur-telurnya.

“Terima kasih sudah mengajak aku ke sini, Yah.” 

Untung saja dia tidak berkeras untuk pergi berenang dengan teman-temannya.

Selama penyu sedang bertelur, pengunjung benar-benar tidak boleh bersuara.  Sumber cahaya yang dibawa juga hanya beberapa yang dinyalakan. Jadi penyu akan merasa tenang dan nyaman untuk bertelur. Suasana yang gaduh dan banyak cahaya bisa mereka artikan sebagai kedatangan musuh yang ingin mengambil telur-telur penyu. Begitu penjelasan pegawai penangkaran tadi.

Waktu melihat si penyu menutup lubangnya, Abi berbisik pada ibunya, “Kaya si Mpus ya, Bu. Kalau habis pup, ditutup pakai pasir. Hihihi….”

Abi tengah bersiap naik ke mobil ketika seorang petugas menghampirinya.

“Adik besok sore ke sini lagi ya, kita akan ramai-ramai melepas tukik-tukik ini ke laut,” katanya ramah. Tukik adalah sebutan untuk anak-anak penyu.

***

Sore itu pantai sudah ramai dengan pengunjung yang ingin ikut melepas anak-anak penyu. Keluarga Abi mendapat satu ember kecil yang separuhnya berisi tukik.

Abi berjongkok dengan seekor tukik di atas telapak tangannya. Saat tangannya diletakkan di atas pasir, tukik tersebut pelan-pelan turun. Lalu dengan tungkai kecilnya bergerak maju perlahan. Ketika anak ombak datang, badannya terangkat dan terbawa oleh ombak yang surut kembali ke laut.

Satu per satu tukik diturunkan sampai ember mereka kosong. Abi menatap tukik terakhir yang diturunkan oleh ayahnya. Matanya terlihat sedih. Di tangannya masih ada satu tukik yang digenggamnya dengan dua tangan.

“Kenapa Abi?”

Bunda mendekati Abi dan melihat tukik yang masih digenggamnya.

“Kasihan Bunda…, mereka masih kecil-kecil sekali. Kalau dimakan ikan besar gimana? Abi boleh simpan yang satu ini?”

Bunda tersenyum. “Bagaimana kalau tukik ini rindu sama ayah ibunya? Lihat, semua saudaranya sudah kembali ke laut, masa dia sendirian di sini?”

Abi memandangi tukik di tangannya. Tungkai depannya bergerak-gerak di telapak tangannya.

“Kasihan ya, Bunda. Pasti dia akan kesepian.”

Abi lalu berjongkok. Perlahan dia melepaskan tukik terakhirnya. Meskipun sayang tapi Abi tidak boleh egois. Tukik itu akan lebih bahagia berada di tengah keluarganya dan alam yang menjadi habitatnya.

*****

Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

Reviewer: Rohman

Baca Juga:   [Cernak] Sepeda Gilang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *